Di UMY, Dubes RI untuk Vatikan Dorong Diplomasi Agama di Tengah Konflik Global

Di UMY, Dubes RI untuk Vatikan Dorong Diplomasi Agama di Tengah Konflik Global

Serly Putri Jumbadi - detikJogja
Rabu, 05 Agu 2026 13:18 WIB
Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Takhta Suci Vatikan, Michael Trias Kuncahyono, saat menjadi pembicara di International Conference UMY, Rabu (5/8/2026).
Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Takhta Suci Vatikan, Michael Trias Kuncahyono, saat menjadi pembicara di International Conference UMY, Rabu (5/8/2026). Foto: Serly Putri Jumbadi/detikJogja
Bantul -

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menggelar International Conference yang diikuti oleh 2.088 peserta dari 82 negara. Dalam forum ini turut hadir Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Takhta Suci Vatikan, Michael Trias Kuncahyono, yang membahas pentingnya diplomasi agama di tengah memanasnya konflik global.

Hal ini disampaikan Trias saat menjadi pembicara di International Conference UMY pada Rabu (5/8/2026). Menurutnya, penyebab konflik dunia saat ini semakin beragam. Jika dulu konflik lebih banyak dipicu persoalan perbatasan dan perebutan sumber daya, kini faktor budaya hingga agama juga turut menjadi pemicu.

"Problem internasional sekarang macam-macam. Konflik itu dulu hanya karena perbatasan, karena resources. Sekarang, di zaman globalisasi, penyebab konflik itu macam-macam. Ada karena kultur, budaya, ada karena agama dan sebagainya," ujar Trias kepada awak media di Kampus UMY, Rabu (5/8).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski demikian, Trias menegaskan seluruh agama pada dasarnya mengajarkan perdamaian. Oleh karena itu, diplomasi nonformal melalui pendekatan agama dinilai perlu terus dikembangkan.

ADVERTISEMENT

"Semua orang ingin damai, semua agama ingin damai, mengajarkan kedamaian. Sehingga diplomasi yang tidak biasa, diplomasi yang nonformal perlu dilakukan juga. Makanya ada yang namanya religious diplomacy," ucapnya.

Trias menjelaskan diplomasi agama berangkat dari nilai-nilai universal seperti keadilan, perdamaian, dan kepercayaan. Nilai-nilai tersebut menjadi landasan dalam membangun hubungan antarnegara maupun antarmasyarakat.

Selain itu, seorang diplomat juga dinilai perlu memiliki religious literacy atau literasi agama. Menurutnya, diplomat tidak harus menjadi pemimpin agama, tetapi harus memahami nilai dan ajaran agama agar mampu membangun komunikasi yang lebih baik.

"Seorang diplomat itu harus memahami religious literacy. Tidak harus menjadi seorang pemimpin agama, tapi paham tentang agama sehingga dalam setiap diplomasi bisa mengemukakan hal-hal yang diinginkan semua orang, yaitu perdamaian, keadilan, kebersamaan, dan toleransi," jelasnya.

Trias juga menyinggung program interfaith dialogue atau dialog lintas agama yang beberapa tahun terakhir diperkenalkan Kementerian Luar Negeri RI. Menurutnya, dialog lintas agama bukan bertujuan menyeragamkan keyakinan, melainkan membangun keterbukaan untuk menerima perbedaan.

"Interfaith dialogue itu bukan memaksakan orang dari agama satu dengan yang lain, tetapi ketika bertemu kemudian terbuka pikirannya, terbuka untuk menerima perbedaan dengan orang lain," katanya.

Disinggung soal efektivitas diplomasi agama di tengah konflik global, Trias menilai pendekatan tersebut justru semakin dibutuhkan. Menurutnya, kondisi geopolitik saat ini menunjukkan negara-negara besar lebih banyak disibukkan dengan kepentingan masing-masing, mulai dari konflik Rusia-Ukraina hingga persaingan Amerika Serikat dan China.

"Yang dibutuhkan sekarang adalah pimpinan-pimpinan agama yang mengingatkan para pemimpin dunia tentang moral, tentang etika, tentang perlunya perdamaian. Saya rasa masih tetap efektif," terangnya.

Pria kelahiran Jogja, 58 tahun silam itu mencontohkan, pemimpin agama seperti Paus Leo XIV secara konsisten menyerukan gencatan senjata dan penyelesaian damai dalam berbagai konflik internasional, termasuk di Gaza maupun Ukraina.

"Semua orang itu butuh damai, tidak ada yang ingin perang. Yang menjadi korban di mana-mana kan rakyat. Karena itu, suara-suara yang terus mengingatkan pentingnya perdamaian masih sangat dibutuhkan," pungkasnya.



(apu/ams)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads