Sederet Solusi Nyata PDIP untuk Masalah Ekologi di Jogja

Sederet Solusi Nyata PDIP untuk Masalah Ekologi di Jogja

Muhammad Iqbal Al Fardi - detikJogja
Senin, 16 Feb 2026 15:13 WIB
Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDIP, Hasto Kristiyanto, menyebut sejumlah aksi nyata PDIP untuk menyelesaikan masalah ekologis di Kota Jogja.
Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto, bersama Ketua DPC PDIP Kota Jogja, Eko Suwanto. Foto: Istimewa
Jogja -

Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDIP, Hasto Kristiyanto, menyebut sejumlah aksi nyata PDIP untuk menyelesaikan masalah ekologis di Kota Jogja. Salah satunya adalah menyiapkan lahan seluas 3 hektare untuk membangun Sekolah Lapang.

Hal tersebut disampaikan Hasto Kristiyanto usai menanam bibit pohon seperti Kepel yang merupakan identitas flora DIY, pohon buah-buahan, hingga Tabebuya dan di Embung Giwangan, Senin (16/2/2026). Kegiatan tersebut merupakan aksi lingkungan bertajuk "Merawat Pertiwi" yang dilakukan bersama jajaran DPD hingga DPC PDIP Kota Jogja.

Dalam kesempatan itu, Hasto juga memberi instruksi khusus kepada Wali Kota (Walkot) Jogja, Hasto Wardoyo, untuk memperbanyak taman kota dan memperbaiki sistem drainase.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya sampaikan pesan kepada Pak Hasto Wardoyo untuk menata kota dengan disiplin. Membangun taman-taman kota sangat penting untuk memberikan ruang publik bagi anak muda berdiskusi, sekaligus menjadi ruang kehidupan yang lebih baik," ujar Hasto Kristiyanto seperti dalam keterangan tertulis yang diterima detikJogja, hari ini.

Selain itu, Hasto menyebut, PDIP telah menyiapkan lahan seluas 3 hektare untuk membangun Sekolah Lapangan. Di lahan tersebut nantinya akan dilakukan pembibitan dan pengelolahan sampah organik.

ADVERTISEMENT

"Kami sepakati, PDI Perjuangan memiliki tanah 3 hektare yang sebelumnya direncanakan untuk Sekolah Partai, kini akan dialihkan menjadi Sekolah Lapang. Lahan ini akan digunakan untuk nursery (pembibitan) dan pusat pengolahan sampah organik menjadi pupuk," kata Hasto.

Menanggapi isu lingkungan di Kota Jogja, Hasto memberikan instruksi khusus lainnya kepada Walkot Hasto Wardoyo, untuk memperkuat tata kelola sampah menggunakan teknologi bakteri pengurai agar sungai-sungai di Jogja bersih dari limbah plastik. Dia menekankan, ciri kader PDIP yang sejati adalah mereka yang mau berhenti sejenak untuk memungut sampah plastik yang mereka temui di jalan.

Selain itu di Grha Budaya, Hasto Kristiyanto juga menyampaikan pidato tentang politik yang berkaitan dengan falsafah Jawa. Dia mengutip kisah Subali yang mendapatkan Aji Pancasona karena rasa cinta yang luar biasa kepada bumi.

"Aji Pancasona itu kekuatannya berasal dari bumi. Pesan moralnya jelas: jika kita merawat bumi, maka bumi akan menghidupi kita. Namun jika kita mengkhianatinya, bumi bisa membelah dan menciptakan kesengsaraan," ungkapnya.

Hasto Kristiyanto juga menegaskan bahwa gerakan menanam pohon bukan sekadar seremoni, tetapi juga strategi kebudayaan partai untuk melawan ego kapitalisme yang sering mengeksploitasi alam demi kepentingan elektoral sempit.

Dalam kesempatan tersebut, Hasto Kristiyanto turut membagikan kebiasaan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, dalam menjaga kelestarian lingkungan secara mandiri. Dia menceritakan bagaimana Megawati selalu mengumpulkan biji-biji buah dalam setiap rapat untuk disemai kembali, hingga memanfaatkan sisa air kopi tamu sebagai pupuk organik.

"Ibu Mega mengajarkan hal-hal fundamental. Bahkan botol plastik bekas tidak dibuang, tapi dijadikan wadah pembenihan. Ini yang harus dicontoh kader di Yogyakarta, terutama dalam menangani masalah sampah di kota ini," tambahnya.

Sementara itu, Ketua DPC PDIP Kota Jogja, Eko Suwanto, menambahkan kader partai di tingkat akar rumput terus bergerak melakukan kerja-kerja nyata di lapangan. Eko melaporkan, normalisasi sungai menjadi salah satu agenda rutin yang dijalankan.

"Kami melaporkan kepada Pak Sekjen, selain menanam pohon, kami juga konsisten melakukan normalisasi sungai. Beberapa waktu lalu kami bersama Pak Ganjar (Pranowo) telah melakukan bersih-bersih di Sungai Code, dan aksi ini terus berlanjut sebagai implementasi ideologi merawat pertiwi," ungkap Eko Suwanto.

Selanjutnya, Walkot Hasto Wardoyo menyebut aspek lingkungan dan kemanusiaan adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Sejak awal pencalonannya, Hasto Wardoyo mengatakan, pihaknya telah fokus untuk menata taman dan kebersihan sungai sudah menjadi janji politik yang terus diwujudkan.

"Merawat lingkungan sama maknanya dengan merawat kehidupan. Selain lingkungan, masalah kemiskinan dan kesehatan juga kami garap serius. Kami laporkan bahwa program bedah rumah terus berjalan setiap Minggu melalui semangat gotong royong tanpa menggunakan APBD maupun dana pusat," ungkap Hasto Wardoyo.

Lebih lanjut, Hasto Wardoyo memaparkan keberhasilan signifikan dalam menekan angka stunting di Kota Jogja. Berkat dukungan anggaran dari jajaran anggota DPRD dari PDIP sebesar Rp100 juta per kelurahan, angka stunting di Kota Jogja berhasil turun drastis.

"Dari angka 14,8 persen, saat ini angka stunting di Yogyakarta sudah turun menjadi 8,4 persen dalam waktu satu tahun. Ini adalah hasil gotong royong semua pihak untuk memastikan generasi mendatang tumbuh sehat dan berprestasi," pungkasnya.

Adapun aksi tanam pohon di Embung Giwangan menjadi pembuka sebelum acara puncak Public Lecture Series 002 bertajuk "Spirit of Humanity and Human Solidarity: Pendidikan, Keadilan, dan Hak Generasi" yang digelar di lokasi yang sama.

Acara diskusi publik tersebut dijadwalkan menghadirkan sejumlah tokoh seperti Rocky Gerung, Rimawan P., dan dipandu oleh politisi muda Aryo Seno Bagaskoro.




(afn/apu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads