Gelar ICRE, FKIP Universitas Sanata Dharma Hadirkan Peneliti Mancanegara

Gelar ICRE, FKIP Universitas Sanata Dharma Hadirkan Peneliti Mancanegara

Muhammad Iqbal Al Fardi - detikJogja
Sabtu, 29 Nov 2025 10:30 WIB
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sanata Dharma (USD) menggelar International Conference on Research in Education (ICRE) 2025
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sanata Dharma (USD) menggelar International Conference on Research in Education (ICRE) 2025 (Foto: dok. Universitas Sanata Dharma)
Jogja -

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sanata Dharma (USD) menggelar International Conference on Research in Education (ICRE) 2025 secara luring dan daring. FKIP USD pun menghadirkan peneliti dari berbagai negara dalam acara tersebut.

Acara yang digelar pada Kamis-Jumat (27-28/11/2025) itu merupakan salah satu rangkaian acara dalam memperingati 70 tahun FKIP USD dan USD. ICRE 2025 mengusung tema AI dan Masa Depan Pendidikan Global: Mengoptimalkan Teknologi demi Martabat Manusia dan Keberlangsungan Ekologis (AI and the Future of Global Education: Harnessing Technology for Human Dignity and Ecological Sustainability).

Terdapat empat keynote speakers yang memaparkan masing-masing topik pembahasan. Dua di antaranya berasal dari USD yakni Prof. Dr. C. B. Mulyatno, Pr. dan Prof. Concilianus Laos Mbato, M.A., Ed.D. Sementara dua lainnya yakni Prof. Zsolt Lavicza dari Linz School of Education, Johannes Kepler University, Austria, dan Prof. Vincent Geiger dari Australian Catholic University, Australia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Profesor Mulyanto sebagai pembicara utama membawakan topik berjudul Towards a Humanistic Education: Exploring the Potential of the Digital Generation. Dalam pemaparannya, Romo Mulyanto menyebut pendidikan adalah panggilan mendalam, kolaboratif, dan seumur hidup yang mengakar pada tradisi pendidikan Katolik dan Indonesia.

Merujuk pemikir seperti Driyarkara, Ki Hajar Dewantara, dan John Dewey, Romo Mulyanto mengatakan, pendidikan yang benar tidak sekadar sebagai transmisi pengetahuan, tetapi juga proses menjadi manusia seutuhnya, yakni menumbuhkan pemikiran kritis, karakter moral, empati, dan tanggung jawab sosial.

ADVERTISEMENT

Profesor Lavicza membawakan topik tentang STEAM Education in The Digital Era and Its Relevance to Ecological Sustainability. Dia menyebut berbagai kegiatan di kelas dengan menggabungkan teknologi dan disiplin ilmu bisa sesuai dengan keberlanjutan ekologis.

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sanata Dharma (USD) menggelar International Conference on Research in Education (ICRE) 2025Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sanata Dharma (USD) menggelar International Conference on Research in Education (ICRE) 2025 Foto: dok. Universitas Sanata Dharma

Profesor Lavicza menekankan adanya kolaborasi manusia-mesin, transdisipliner, dan penggunaan kreatif alat digital, memastikan pembelajaran tetap relevan, menarik, serta siap menghadapi masa depan.

Pada hari kedua, Profesor Concilianus Laos Mbato membahas tentang pentingnya bantuan AI dalam menguatkan metakognisi dan kesadaran keberlanjutan ekologi pengajar serta pelajar. Dia mengisi diskusi pada hari kedua.

Sementara itu, Profesor Vincent Geiger mengangkat tema STEM and Human Flourishing in the Context of AI. Menurutnya, hal yang harus tetap menjadi inti pendidikan yakni wawasan manusia, belas kasih, dan tanggung jawab.

Dia mengatakan AI memang bisa membantu, tetapi manusialah yang memastikan kebermanfaatan kemajuan teknologi untuk kebaikan dan kemakmuran bersama. Seluruh pembicara menekankan pentingnya peran pengajar dalam memanfaatkan teknologi digital maupun AI di kelas.

FKIP USD turut menghadirkan lima invited speakers, yakni Dr. Benedecta Indah Nugraheni, S.Pd., S.I.P., (Pendidikan Ekonomi), Martinus Ariya Seta, S.Pd, Mag. Theol. (Prodi Pendikat), Dr. Rita Eny Purwanti, S.Pd., M.Si. (Pendidikan Ekonomi BKK Pend Akuntansi), Dr. Lucianus Suharjanto, S.J., S.S., STB., M.A. (Pendidikan Bahasa Inggris), dan Veronika Fitri Rianasari, Ph.D. (Pendidikan Matematika).

Selain itu, ICRE 2025 juga diikuti oleh sebanyak 100 presenter yang hadir secara daring maupun onsite dengan membawakan 78 artikel. Dari jumlah tersebut, sembilan presenter berasal dari luar negeri, yakni Nigeria, Austria, Filipina, Hungaria, Jepang, Australia, Oman, dan Belanda.

Sementara, sebanyak 50 peserta merupakan mahasiswa, dosen, maupun guru dari dalam dan luar negeri.

Para presenter dan peserta menilai acara tersebut berkesan dan berharap dapat dilanjutkan. Seperti halnya Windah dan Ulil dari sekolah Cikal Lebak Bulus Jakarta yang merasa terkesan.

"Kami senang sekali mengikuti kegiatan ini karena banyak sekali informasi yang didapatkan terkait dengan Artificial Intelligence, keynote (speakers)-nya menarik, sangat membantu kami para guru untuk belajar lebih banyak lagi terkait dengan AI. Dan semoga kegiatan-kegiatan seperti ini akan makin banyak dan sering dilakukan. Topiknya pun sangat menarik bagi kami," ungkap mereka.

Ketua panitia ICRE 2025, Luluk, mengatakan acara konferensi internasional tersebut penting digelar untuk menambah wawasan dan jejaring untuk belajar bersama.

"Ke depannya, kami berharap seminar semacam ini tidak hanya dipandang untuk memenuhi kepentingan pemenuhan administrasi saja, tetapi menjadi momen untuk menjalin silaturahmi dan kolaborasi riset antar universitas baik dalam negeri dan internasional," kata Luluk.




(aku/aku)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads