Warga Pedukuhan Kebosungu 1, Dlingo, Bantul menyulap lahan kritis menjadi penuh tanaman penghasil minyak atsiri. Dimulai tahun 2017, kini warga bisa memproduksi 60 liter minyak atsiri dari sereh dan jahe merah setiap bulan.
Koordinator UMKM Shafaluna, Sunaryanta mengatakan lahan yang digunakan menanam tanaman penghasil minyak atsiri berada di lahan marjinal di Kebonsungu 1. Lahan itu didominasi bebatuan sehingga tak bisa ditanami palawija.
"Karena lahan itu tidak bisa ditanami dengan palawija, kami tanami dengan bahan-bahan tanaman atsiri seperti sereh merah dan kayu putih," katanya kepada wartawan di Dlingo, Bantul, Rabu (15/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alhasil, tahun 2017 warga mulai menanami tanaman atsiri di lahan seluas tujuh hektare. Hal tersebut ternyata menjadi perhatian Pemkab Bantul dan mulai mengembangkan penanaman tanaman atsiri.
"Tanaman sereh merah dipilih karena perawatannya yang terbilang gampang, sekali tanam bisa beberapa kali panen. Bahkan sampai sekarang kami sudah 127 kali panen," ucapnya.
Sunaryanta merinci, saat musim tanam pertama di bulan pertama akan memanen di bulan ke-6. Setelah itu, untuk panen berikutnya hanya membutuhkan waktu 33 sampai 38 hari untuk panen.
Koordinator UMKM Shafaluna, Sunaryanta saat memberikan keterangan. Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja |
"Karena sudah banyak panen, kami membangun beberapa replikasi atau demplot tanaman sereh merah dan kayu putih," ujarnya.
Selanjutnya, Sunaryanta melakukan produksi minyak atsiri dengan produk mulai dari sabun mandi, lilin aromaterapi hingga minyak gosok. Produksi itu menggunakan teknik penyulingan, yaitu untuk 100 kg sereh merah bisa menjadi 400-700 ml minyak atsiri.
"Jadi tanaman atsiri dimasak dalam wadah besar selama tiga setengah jam, setelah itu akan diisi kembali dengan bahan baku sampai habis. Untuk sebulan kami bisa 50-60 liter minyak atsiri," katanya.
Terkait harganya, Sunaryanta menyebut bervariasi. Di mana untuk minyak atsiri kemasan 10 ml harganya Rp 10 ribu, lalu kemasan 30 ml Rp 30 dan kemasan 60 ml Rp 50 ribu.
Hasil produksi minyak atsiri berupa minyak gosok dan sabun mandi. Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja |
"Untuk sabun batang ini harganya satu Rp 5 ribu. Tapi itu harga dari kami, kalau sampai reseller agar beda sedikit," ujarnya.
Terkait omzetnya, Sunaryanta enggan mengungkapkannya. Pasalnya usaha tersebut terbilang masih baru dan hasilnya akan kembali lagi ke masyarakat.
Di sisi lain, Sunaryanta mengeluhkan sulitnya memasarkan produk minyak atsiri. Mengingat pasar terbesar minyak atsiri ada di luar negeri.
"Produk itu dijual ke berbagai daerah secara online. Sebetulnya peminat yang paling bagus itu dari India, tapi kami masih kesulitan untuk akses masuk ke sana," ucapnya.
Di sisi lain, Sunaryanta mengungkapkan bahwa minyak atsiri memiliki banyak khasiat. Adapun salah satunya yang terbaru adalah minyak tersebut bisa mengobati luka akibat gigitan hewan berbisa.
"Khasiatnya itu bisa untuk menghilangkan stres, sakit kepala sampai mengobati gigitan hewan berbisa. Kalau sabunnya untuk kesehatan kulit," katanya.
Oleh sebab itu, saat ini Sunaryanta bersama rekan-rekannya yang saat ini berjumlah 472 petani mulai melebarkan sayap pemasaran produk.
"Ini kita baru buat akun e-commerce, semoga nantinya bisa tembus ke pasar luar negeri," ujarnya
(afn/alg)














































Komentar Terbanyak
Polisi Minta Ortu Serahkan Buron Pembunuhan di Dekat SMAN 3 Jogja
Mencuatnya Dugaan Kekerasaan Seksual Libatkan Dosen UPN Veteran Jogja
Lagi-lagi Geng Sadis Berulah di Jogja