Pondok Pesantren Ash-Sholihah Jonggrangan, Sleman, membantah telah menyembunyikan alumni santriwati yang jadi korban pemerkosaan oleh mantan pengurus ponpes berinisial NH alias GN. Ponpes menyebut korban perkosaan itu diungsikan atas persetujuan orang tua korban.
"Terkait dengan pernyataan di media bahwa pihak ketiga disembunyikan di Geger, Magelang, adalah tidak benar," kata putra kandung pengasuh pondok KH. Muh Marom, Ahmad Khairul Anwar, dalam konferensi pers di Ponpes Ash-Sholihah Jonggrangan, Sleman, Jumat (11/9/2026).
"Yang benar adalah orang tua korban minta kepada pondok untuk mengungsikan pihak ketiga, korban, dan pondok berinisiatif mengungsikan ke Geger. Setelah pihak ketiga, korban, berada di Geger, orang tua korban diberitahu keberadaanya," sambungnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, pihak keluarga korban menyatakan, selain dipindahkan ke Magelang, korban juga akan diungsikan ke Lampung untuk menjalani proses persalinan.
Terkait itu, kuasa hukum Ponpes Ash-Sholihah Jonggrangan, Heri Purwanto, mengatakan pengungsian korban baik di Magelang maupun Lampung adalah hasil mediasi dari pihak ponpes dan pihak orang tua korban.
"Jadi Lampung dan Geger itu bagian dari ketika dari pihak orang tua minta dibantu pondok memfasilitas-memfasilitasi, gitu nggih," ujar Heri.
"Jadi ketika kemudian narasinya, 'Wah, saya jemput di Geger karena disembunyikan', wong orang tuanya tahu, dan kita sudah memberitahu kepada orang tuanya," sambungnya.
Diberitakan sebelumnya, keluarga menyebut korban sempat disembunyikan ke luar kota oleh pihak ponpes sebelum kasus ini terkuak. Kakak korban, MM, menceritakan pada Juli 2026, korban mengaku sedang mengandung namun tidak menjelaskan sebab kehamilannya.
"Awalnya saya belum tahu kejadiannya seperti apa. Setelah itu saya dikabari bahwasanya adik saya ini telah hamil, tapi tidak diberitahu apa penyebab kehamilannya," ungkap MM di Mapolresta Sleman, Kamis (10/9).
"Terus mengabari saya lewat WA seperti ini, 'Mas, kalau saya dibawa ke Lampung bagaimana, Mas? Nanti di sana lahirannya di sana, bayinya nanti setelah lahir diadopsi, terus nanti saya pulang-pulang bersih, Mas.' Saya bilang, 'Nggak boleh seperti itu'," imbuhnya.
MM mengaku arahan itu diterima korban dari pihak Ponpes. Ia juga mengaku tak tahu di Lampung itu tempat apa dan milik siapa. Mendengar kabar itu, MM yang berdomisili di Ngawi Jawa Timur langsung berusaha bertemu dengan korban.
Dalam proses pencarian lokasi korban itulah, MM mengetahui adiknya tidak berada di Ponpes namun disembunyikan oleh pihak Ponpes di Magelang Jawa Tengah.
"Maka sebelum dibawa ke Lampung itu terjadi, saya dari Ngawi langsung menjemput ke tempat persembunyiannya yang disembunyikan di wilayah Geger, Magelang. Saya jemput secara tiba-tiba. Diungsikanlah sama pihak pondok," ujar MM.
