UGM mengecam aksi kekerasan yang dilakukan sekelompok orang saat membubarkan paksa aksi unjuk rasa mahasiswa di simpang Jendral Sudirman, Gondokusuman, Kota Jogja. UGM juga akan menempuh jalur hukum.
Dalam kejadian pada Selasa (1/9) malam itu, enam mahasiswa dilaporkan terluka akibat penyerangan tersebut. Mereka juga sempat mendapat perawatan di Rumah Sakit Panti Rapih.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian Masyarakat, dan Alumni UGM Arie Sujito, menyampaikan keprihatinan terhadap kekerasan yang menimpa mahasiswa saat berdemonstrasi kemarin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia juga menyayangkan dan mengecam adanya tindak kekerasan terhadap aksi penyampaian aspirasi lantaran melukai nilai demokrasi.
"Sebetulnya tindakan kekerasan yang dilakukan, saya lihat itu baca beberapa kelompok orang pada mahasiswa itu sebetulnya semestinya bisa dicegah," ujar Arie dalam jumpa pers di UGM, Rabu (2/9/2026).
"Di situ ada aparat kepolisian yang punya tanggung jawab untuk melindungi mahasiswa maupun masyarakat secara keseluruhan. Dan saya kira ini adalah juga bagian dari tanggung jawab dan memang secara hukum harus dilakukan," sambungnya.
Atas kekerasan yang terjadi itu, Arie bilang, UGM sedang menyiapkan langkah untuk menempuh jalur hukum.
"Jadi rencananya kayaknya begitu (menempuh jalur hukum) lagi nyiapin gitu ya. Tapi sekali lagi pesan terpentingnya itu. Siapapun melakukan kekerasan harus bertanggung jawab," ungkap Arie.
"Dan saya berharap kepolisian melindungi dan jangan sampai ada kekerasan berulang, itu aja. Ini teman-teman akan mempertimbangkan untuk proses supaya mengadvokasi ini dengan beberapa pihak," lanjutnya.
Arie juga mendorong kampus-kampus untuk melakukan upaya serupa sebagai upaya melindungi hak aspirasi mahasiswanya.
"Saya juga berharap pimpinan kampus itu untuk berkonsolidasi agar para mahasiswa sebagai bagian dari elemen intelektual yang menyampaikan aspirasi itu terus dilindungi," papar Arie.
"Bagaimanapun juga mahasiswa adalah kelompok intelektual, aktivis yang punya idealisme, punya kepekaan untuk merespon situasi. Karena itu saya berharap juga para pimpinan universitas untuk bersama-sama melindungi para mahasiswa ini," pungkasnya.
6 Mahasiswa Terluka
Enam mahasiswa dilaporkan terluka akibat pembubaran paksa aksi unjuk rasa mahasiswa di simpang Jendral Sudirman, Gondokusuman, oleh kelompok yang mengaku sebagai warga.
"Ada 6 mahasiswa ya, 5 mahasiswa dari UGM dan 1 mahasiswa UNY yang sempat dirawat di rumah sakit," jelas Direktur Kemahasiswaan UGM, Hempri Suyatna.
"Dan alhamdulillah sampe jam setengah satu sudah pulang kembali ke rumah masing-masing," sambungnya.
Enam mahasiswa itu yakni NA, MM, MT dan SK yang merupakan mahasiswi dari UGM. Mereka mengalami trauma, sesak nafas, hingga luka robek di kening dan bibir.
Kemudian ZF mahasiswa UGM yang mengalami luka memar di pelipis, perut, dan kepala belakang. Terakhir MZ, mahasiswa UNY yang mengalami luka memar di pelipis.
"Saya lihat memang ada luka akibat pukul ya, di pelipis gitu ada yang kena pukulan. Kemudian juga yang mungkin ketendang juga kena tangan dan kaki," papar Hempri.
"Ada di ini ada yang di mulut-mulut, kemudian ada yang di ini apa dijahit sini, ada yang dijahit, yang paling agak parah. Terus yang di sini kena hantaman, Sempat (berdarah), berdarah, robek di sini, ada yang dijahit," pungkasnya.
