Aksi unjuk rasa massa yang mengatasnamakan Aliansi Masyarakat Sipil di simpang Jalan Jenderal Sudirman, Gondokusuman, Jogja,sempat diwarnai kericuhan. Polisi mengungkapkan ada sejumlah demonstran yang dilarikan ke rumah sakit karena mengalami luka.
Kabid Humas Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Kombes Ihsan, dalam pernyataan yang diunggah akun Instagram @poldajogja, menerangkan sempat terjadi saling dorong antara peserta aksi dengan warga. Kericuhan itu bermula saat warga menganggap penutupan jalan oleh massa aksi mengganggu aktivitas warga.
"Yang menyebabkan peserta aksi panik dan sempat terjatuh, sehingga mengalami luka ringan," tuturnya dalam unggahan yang dikutip detikJogja, Rabu (2/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ihsan melanjutkan, korban yang terluka akibat terjatuh segera dievakuasi dengan ambulans milik Universitas Gadjah Mada (UGM) ke Rumah Sakit Panti Rapih.
"Setelah dilakukan perawatan, malam ini (kemarin) juga sudah diperbolehkan untuk kembali ke kediaman masing-masing," jelas Ihsan.
Diketahui, massa mulai menggelar aksi pada Selasa sekitar pukul 16.00 WIB. Jalan menuju simpang Gramedia tersebut menjadi lumpuh lantaran dipakai menjadi titik aksi.
Aksi yang awalnya damai ini perlahan memanas usai sekelompok orang berusaha membubarkan aksi. Sekelompok orang yang menyebut diri sebagai warga Jogja itu berdalih aksi massa meresahkan. Alasannya, jalanan lumpuh lantaran aksi ini.
Sekelompok orang tersebut bergantian meneriaki massa untuk membubarkan massa. Massa pun tersulut emosinya. Saling lempar umpatan pun terjadi.
"Dalane mati ngerti rak!" pekik salah seorang dari sekelompok orang yang mengatasnamakan warga Jogja.
Aksi massa di Jogja Foto: Adji Ganda Rinepta/detikJogja |
"Ormas b*ngs*t!," sahut salah satu massa aksi.
Kerusuhan pun pecah karena teriakan itu. Tepat pukul 19.00 WIB, massa saling kejar berlarian ke arah utara di Jalan Cik Di Tiro. Tampak terjadi aksi pemukulan di lokasi.
Polisi yang berjaga beberapa kali berusaha mengamankan situasi. Namun teriakan provokasi berkali kali menggagalkan upaya mengondusifkan situasi. Berkali-kali aksi saling tantang terus terjadi.
Perundingan semakin alot. Beberapa kali saling lontar umpatan terjadi. Warga terus mengusir massa, massa membalasnya dengan nyanyian. Polisi berulang kali melerai kedua pihak saat situasi memanas.
Setelah diskusi yang cukup memakan waktu, sekitar 21.50 WIB kedua pihak sepakat membubarkan diri. Massa aksi menuju ke utara, sedangkan warga ke selatan.
"Mohon dipertimbangkan keselamatan teman-teman, kalau kita sekarang pulang kira-kira mau nggak?" terang koordinator aksi mencoba mencari kesepakatan.
"Masih banyak waktu bagi kita kemudian untuk berkumpul lagi. Coba dipikirkan lagi. Semuanya tanpa terkecuali, kita akan pulang, setuju tidak?," sambungnya.
Namun, kedua pihak saling menunggu tak ada yang mau mundur duluan. Kerusuhan pun pecah lagi sekitar pukul 22.00 WIB, pihak warga menyerang massa mahasiswa. Mereka berlarian menerjang mahasiswa.
Rusuh dan ricuh berjalan cukup jauh hingga ke depan Kantor BRI. Para medik berlarian, sirine ambulance meraung-raung, teriakan saling sahut. Personel Dalmas pun diturunkan.
Kedua kelompok yang berhamburan dipukul mundur masing-masing ke selatan dan utara. Keadaan berangsur kondusif pukul 22.15 WIB.

