Pemkot Jogja Sebut Lapak Pasar Terban Banyak Kosong gegara Pedagang Mundur

Pemkot Jogja Sebut Lapak Pasar Terban Banyak Kosong gegara Pedagang Mundur

Adji G Rinepta - detikJogja
Selasa, 04 Agu 2026 21:00 WIB
Pasar Terban, Jogja, Senin (3/8/2026).
Pasar Terban, Jogja, Senin (3/8/2026). Foto: Adji G Rinepta/detikJogja
Jogja -

Tujuh bulan beroperasi usai renovasi, lapak-lapak Pasar Terban Kota Jogja ternyata masih banyak yang kosong. Pemkot Jogja pun mengungkap penyebabnya dan membuka kesempatan bagi warga Jogja untuk mengisinya.

Pasar Terban dulu dikenal dengan pasar unggas. Meski sektor unggas masih dipertahankan di lantai 1 berikut dengan area potong, namun kini Pasar Terban lebih lengkap. Di lantai dua berisi area vermak dan pedagang buku yang direlokasi dari pedestrian.

Sedangkan di lantai tiga, berisi area kuliner yang pedagangnya juga direlokasi dari trotoar. Meski tak ada eskalator seperti di Pasar Sentul, namun secara arsitektur dan fasilitas terlihat lebih premium, modern, luas, dan bersih.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kepala Bidang Pasar Rakyat, Dinas Pedagangan (Disdag) Kota Jogja, Gunawan Nugroho Utomo, menjelaskan area lantai satu sudah penuh dengan pedagang unggas dan sayur mayur yang merupakan pedagang asli Pasar Terban.

ADVERTISEMENT

Sedangkan di lantai 2 dan 3, saat pendataan awal sudah penuh terisi bahkan kurang mengakomodir pedagang yang dulu menempati trotoar. Namun seiring berjalannya waktu, pedagang yang sudah dapat lapak ternyata tak kunjung menempatinya.

"Pada saat awal di bulan Februari itu, berdasarkan data yang masuk kan seharusnya penuh. Mereka sudah ngambil nomor lotre dan lain-lain. Sudah dapat tinggal pemberkasan untuk penetapan menjadi pedagang," jelas Gunawan saat dihubungi detikJogja, Selasa (4/8/2026).

"Akan tetapi di tenggat waktu yang diberikan, pada saat itu sekitar kalau nggak salah empat atau lima bulan ya. Februari, Maret, April, Mei, Juni, sekitar bulan Juni itu tidak ada. Kemudian ini kami tetapkan bahwa teman-teman yang kemarin sudah mengajukan permohonan untuk menjadi pedagang, kami anggap mengundurkan diri," sambungnya.

Kemudian untuk pedagang lain yang sudah mengajukan di awal namun belum mendapat lapak, kata Gunawan, kini masih dalam proses pendataan dan kurasi untuk mendapatkan
lapak.

"Karena kan kami mengedepankan yang sudah masuk pendataan (awal) oleh Kemantren. Lah wong pada saat pendataan awal itu tempatnya sampai kurang kok Mas, tapi akhirnya banyak yang kemudian tidak berkenan masuk," ujar Gunawan.

"Kemudian sekarang etapennya adalah kami merespons atau akan menerima permohonan-permohonan untuk menjadi pedagang yang akan masuk ke Pasar Terban. ini kan permohonan dari warga juga banyak, Mas," imbuhnya.

Jika masih memungkinkan, Gunawan bilang, pihaknya membuka pintu untuk pedagang lain yang ingin menempati lapak-lapak kosong di Pasar Terban. Namun pihaknya masih memprioritaskan pedagang yang ber-KTP Kota Jogja.

"Syaratnya sangat mudah, mengajukan (surat) permohonan untuk menjadi pedagang. Simpel saja, mau diketik atau tulis tangan, yang jelas yang menjadi prioritas kami itu kan KTP kota ya, nanti cukup KTP saja dilampirkan fotokopinya," ujar Gunawan.

"Terus di dalam surat, ditujukannya kepada Kepala Dinas Perdagangan Kota Jogja, ditulis nama, alamat, nomor yang bisa dihubungi, terus berkenan mengajukan permohonan untuk menjadi pedagang di pasar mana. Jenis dagangannya apa, entah kuliner, atau kelontong, atau sayur, atau daging, biar kita bisa mem-ploting sesuai zonasinya. Itu saja kok sebetulnya, dan tidak bayar, cuma bayar retribusi saja," pungkasnya.






(apl/apu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads