Kakek Suhantara (82) mengembangkan sawah dari kaleng dan galon bekas di rumahnya. Sawah yang dia namakan sawah rongsok itu sudah empat kali panen.
Suhan mulai menanam padi di galon dan kelang bekas sejak 2025 lalu. Warga Susukan II, Genjahan, Ponjong, Gunungkidul mulai menanam padi di rongsok karena melihat benih padi yang jatuh tercecer tak sengaja itu bisa tumbuh subur.
"Lalu gabah kering saya bawa ke rumah dan ternyata ada yang tercecer di tanah. Yang gabah tercecer itu tumbuh jadi benih (padi)," kata Suhantara saat ditemui detikJogja di kediamannya, Susukan II, Genjahan, Ponjong, Gunungkidul, Selasa (7/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suhantara melakukan pembibitan padi di galon bekas yang dipotong di Ponjong Gunungkidul, Selasa (7/7/2026). Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja |
Dia lalu mencoba menanam padi jenis Inpari-24 dengan media tanam kaleng bekas. Tanaman yang dia rawat itu ternyata tumbuh subur.
Dari situ dia mulai memperbesar ukuran wadah tanamannya dengan galon bekas. Dia pun mulai berburu galon dan mengisinya dengan tanah dan pupuk kandang serta pupuk kimia lalu benih padi.
Sawah rongsok milik Suhantara di Ponjong Gunungkidul, Selasa (7/7/2026). Sawah rongsok ini juga mendapat sinar matahari yang cukup. Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja |
Sawah rongsoknya itu pun dia letakkan di area yang cukup mendapat sinar matahari. Sekitar tiga bulan kemudian padinya sudah bisa dipanen.
"Hasil panen satu galon dengan isi tiga tanaman padi bisa menghasilkan sekitar 130 gram gabah kering panen. Untuk jenis padi hibrida yang sudah dicobakan tanam lebih lebat dengan 1 bibit bisa mencapai 30 anakan, itu belum umur panen, kalau sudah panen bisa 300-400 gram gabah kering panen per galon," ucap Ketua Kelompok Gapoktan Genjahan Makmur ini.
Sawah rongsok milik Suhantara di Ponjong Gunungkidul, Selasa (7/7/2026). Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja |
Suhantara pun mengaku biaya bercocok tanam dengan galon bekas ini terbilang miring. Dia merogoh kocek sekitar Rp 2 ribu untuk satu galon bekas, kemudian sawah rongsok ini juga hemat air karena tak perlu disiram setiap hari, serta menggunakan tanah seadanya.
"Paling ditambah beli pupuk, baik pupuk kandang dan pupuk kimia. Kalau air kan pasti semua punya air, dan menyiraminya juga tidak setiap hari. Jadi ini (menanam padi di galon) sangat-sangat terjangkau," ujarnya.
Dia menyebut menanam padi dengan media tanam galon dan kaleng bekas ini pun tak perlu mencangkul dan membajak tanah. Selain itu, pemantauan hama juga lebih mudah.
"Keuntungan lainnya bisa dipantau langsung terkait hama dan penyakitnya. Misalnya ada hama wereng atau tikus ya kita bisa segera tahu dan ditindaklanjuti," ucapnya.
Suhantara juga mengungkapkan, galon bekas itu bisa digunakan secara berulang. Begitu pula dengan media tanamnya juga bisa digunakan dua kali.
"Macul tidak perlu, lalu kalau sudah kering (pascapanen) itu tinggal dibalik media tanamnya terus tinggal kasih pupuk dan bisa ditanami lagi. Selain itu galonnya kan awet juga, tidak sekali pakai," katanya.




Komentar Terbanyak
Saran Pakar UGM soal Polemik Jogja Last Friday Ride
Disdag Jogja Buka Suara soal Curhat Difabel Dilarang Jual Asongan di Ngasem
Otak Cabul Saat KKN Berujung Mahasiswa UAD Jogja Kena DO