Uji sampel air di Sungai Belik, Pandes I, Pleret, Bantul keluar. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bantul menyebut adanya pencemaran organik dengan kadar yang sangat berat pada air sungai tersebut hingga menyebabkan munculnya busa dan membuat banyak ikan mati.
Plh DLH Bantul, Fenty Yusdayati mengatakan ada sembilan indikator yang diuji dari sampel air Sungai Belik tersebut. Hasilnya hanya tiga indikator yang masih tergolong dalam batas normal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari sembilan indikator yang diuji hanya tiga yang masih dalam batas normal, yaitu pH air 7,8 mg/L, nitrat sebagai N sebesar 6,48 mg/L dan deterjen 0,63 mg/L," kata Fenty saat dihubungi wartawan, Jumat (8/5/2026).
Sedangkan untuk indikator lain seperti Biological atau Biochemical Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), fosfat dan amonia, Fenty menyebut melebihi baku mutu lingkungan. Perlu diketahui, BOD dan COD adalah parameter penting pengukur tingkat pencemaran bahan organik dalam air.
"Untuk nilai BOD mencapai 4.215,3 mg/L sementara COD sebesar 15.012,5 mg/L. Nilai itu sangat ekstrem dan mengindikasikan tingkat pencemaran organik yang sangat berat," ujarnya.
Oleh sebab itu, Fenty merekomendasikan adanya monitoring rutin kualitas air setiap tiga bulan sekali. Selain itu melakukan pengambilan sampel ulang dari outlet IPAL dan DAM Pandes serta perbaikan IPAL komunal terutama pada bagian bak kontrol.
"Kami juga akan sosialisasi kepada pengguna IPAL komunal agar limbah yang dibuang ke saluran pengolahan tidak kembali memicu pencemaran sungai," ucapnya.
Diberitakan sebelumnya, postingan video yang memperlihatkan warga mengambil ikan mati di aliran Sungai Belik, Pandes I, Wonokromo, Pleret, Bantul ramai di media sosial (Medsos). Dukuh Pandes menduga matinya ikan-ikan itu akibat terpapar limbah cair, sedangan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) sudah mengambil sampel ikan dan air untuk uji laboratorium.
"Tadi pagi sungai belik Pandes, Wonokromo, Pleret, Bantul terkena limbah. Air sungai banyak busanya mengakibatkan ikan-ikan mati, kejadian ini bukan yang pertama kali, sebelumnya juga sudah pernah terjadi, kejadian yang berulang terkesan pelaku tidak terkena efek jera," kata akun Instagram @merapi_uncover seperti dilihat detikJogja, Senin (20/4).
Dukuh Pandes I, Budi Cahyono membenarkan kejadian tersebut. Budi mengungkapkan, bahwa kejadian itu terjadi pagi tadi saat jam berangkat kerja.
"Benar, jadi kejadiannya sekitar jam delapan pagi. Awalnya itu warga lihat air di Dam belik Pandes I berbusa dan setelah dicek banyak ikan yang klenger (pingsan)," katanya saat ditemui di Pandes I, Bantul, Senin (20/4).
Menurut Budi, jumlah ikan yang pingsan sangatlah banyak. Pasalnya warga sampai menggunakan ember hingga koper untuk menaruh ikan-ikan tersebut.
"Jumlah ikannya banyak, ribuan mungkin ada karena ada satu warga saya dapat ikan sekoper dan ada juga yang pakai ember besar itu. Kalau ikannya tadi jenis ikan yang berisik, seperti wader, tawes, nila, red devil hingga ikan sapu-sapu," ujarnya.
(par/alg)
