Apakah Gen Z Bisa Jadi Ketua RT? Ini Penjelasan Boleh atau Tidaknya

Apakah Gen Z Bisa Jadi Ketua RT? Ini Penjelasan Boleh atau Tidaknya

Sri Wahyuni Oktafia - detikJogja
Sabtu, 09 Mei 2026 08:00 WIB
Apakah Gen Z Bisa Jadi Ketua RT? Ini Penjelasan Boleh atau Tidaknya
Ilustrasi Gen Z jadi Ketua RT. (Foto: Gemini AI)
Jogja -

Fenomena anak muda menjadi Ketua RT belakangan makin ramai diperbincangkan. Generasi Z atau Gen Z yang identik dengan dunia digital kini mulai mengambil peran lebih besar di lingkungan tempat tinggalnya. Bahkan, beberapa anak muda viral karena berhasil terpilih sebagai Ketua RT, meski usianya tergolong muda dibandingkan warga lainnya.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan di masyarakat, apakah Gen Z benar-benar boleh menjadi Ketua RT? Pasalnya, jabatan tersebut selama ini lebih sering disematkan kepada sosok yang lebih senior, dianggap lebih matang, dan punya pengalaman panjang dalam kehidupan bermasyarakat. Tak heran jika ketika anak muda maju, masih ada anggapan mereka belum siap memimpin.

Di sisi lain, kehadiran Gen Z dalam struktur kepemimpinan lingkungan bisa membawa perspektif baru. Mereka dinilai lebih cepat beradaptasi terhadap perkembangan zaman, terutama dalam hal teknologi dan komunikasi. Hal ini bisa menjadi nilai tambah dalam meningkatkan pelayanan kepada warga, meski tetap perlu diimbangi dengan pengalaman dan kemampuan bersosialisasi lintas generasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lantas, apakah Gen Z bisa mencalonkan diri menjadi ketua RT? Bagaimana persyaratan dan proses pemilihan ketua RT selama ini? Simak pemaparan lebih jelasnya dalam artikel berikut ini.

ADVERTISEMENT

Siapa Itu Gen Z?

Menurut buku Generasi Z dan Entrepreneurship karya Agus Salim Lubis dan Ricka Handayani, Generasi Z atau Gen Z adalah kelompok anak muda yang lahir sekitar tahun 1995 hingga 2010. Generasi ini tumbuh di era perkembangan teknologi yang pesat, sehingga kehidupan sehari-harinya sangat dekat dengan internet, media sosial, dan perangkat digital.

Selain dibedakan berdasarkan tahun kelahiran, Gen Z juga memiliki karakter yang cukup berbeda dibanding generasi sebelumnya. Dalam cara pandang terhadap kehidupan, mereka cenderung lebih fleksibel, fokus pada kondisi saat ini, serta memiliki pendekatan yang lebih praktis dalam mengambil keputusan.

Secara umum, terdapat tiga ciri utama Generasi Z, khususnya di wilayah perkotaan, yaitu confidence (percaya diri), creative (kreatif dalam mengembangkan ide atau gagasan), dan connected (terhubung serta aktif bersosialisasi). Mereka juga dikenal aktif dalam komunitas, baik secara langsung maupun melalui media sosial dan internet, sehingga memiliki jaringan pertemanan yang luas dan dinamis.

Apakah Gen Z Boleh Jadi Ketua RT?

Fenomena anak muda menjadi Ketua RT mulai mencuat setelah kisah seorang pemuda di Jakarta Utara viral karena berhasil memimpin lingkungan tempat tinggalnya. Diberitakan detikNews, sosok tersebut adalah Sahdan Arya Maulana yang sempat diragukan warga karena usianya masih tergolong muda.

Sahdan mengaku awalnya banyak warga yang meremehkan kemampuannya. Ia dianggap belum cukup pengalaman untuk memimpin.

"Tentu yang pasti yang tua-tua ini ada rasa ketidakpercayaan karena mereka beranggapan yang muda bisa apa sih ya kan, karena masih banyak kaum tua. Ya seiringnya berjalan waktu kita buktikan kepada mereka," ujar Sahdan, dilansir detikNews (15/7/2025).

Namun seiring berjalannya waktu, keraguan tersebut mulai hilang setelah ia mampu menunjukkan kinerja nyata. Pengalaman ini membuktikan bahwa Gen Z juga memiliki peluang untuk menjadi Ketua RT, selama mendapat kepercayaan dari warga.

Apalagi saat ini, sebagian besar Gen Z sudah memasuki usia dewasa dan dinilai mampu memimpin masyarakat dalam skala lingkungan yang lebih besar. Kesempatan tersebut semakin terbuka jika didukung oleh lingkungan sekitar.

Sahdan juga menekankan pentingnya dukungan dari orang tua dan tokoh masyarakat. Menurutnya, bimbingan dari generasi sebelumnya menjadi kunci agar anak muda bisa menjalankan peran dengan baik.

"Yang men-support dan membimbing pastinya dari orang tua. Pengurus lama juga masih men-support membimbing juga. Ya alhamdulillah-nya di sini yang tua-tua memberi kesempatan karena banyaklah di luar sana yang sesepuhnya atau yang tuanya itu tidak memberi kesempatan kepada Gen Z," jelasnya.

Dari pengalaman tersebut, dapat disimpulkan bahwa Gen Z boleh saja menjadi Ketua RT. Kuncinya bukan pada usia, melainkan kepercayaan warga, kesiapan diri, serta dukungan dari lingkungan sekitar.

Syarat Menjadi Ketua RT

Syarat menjadi Ketua RT biasanya ditentukan oleh pemerintah daerah wilayah masing-masing. Berikut contoh syarat mendaftar sebagai Ketua RT mengutip Peraturan Walikota Yogyakarta Nomor 92 Tahun 2011 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pembentukan Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW).

Adapun syarat menjadi Ketua RT antara lain:

1. Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;

2. Setia dan taat kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia, Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945;

3. Berpendidikan sekurang-kurangnya Sekolah Dasar (SD) atau sederajat;

4. Berumur sekurang-kurangnya 21 tahun atau belum 21 tahun tetapi pernah kawin;

5. Sehat jasmani dan rohani;

6. Berkelakuan baik, jujur, adil, cakap, berwibawa, dan penuh pengabdian kepada masyarakat;

7. Tidak sedang dalam permasalahan hukum karena melakukan tindak pidana dan atau perdata;

8. Mengenal wilayah dan dikenal oleh masyarakat setempat;

9. Mempunyai kemampuan dan kemauan untuk bekerja dan membangun masyarakat;

10. Telah bertempat tinggal tetap sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan dengan tidak terputus-putus, terdaftar dalam Kartu Keluarga dan mempunyai Kartu Tanda Penduduk setempat;

11. Tidak sedang menjabat sebagai perangkat Kelurahan dan Kecamatan setempat; dan

12. Tidak telah menjabat lebih dari 2 (dua) periode masa kepengurusan secara berturut-turut pada jabatan yang sama.

Proses Pemilihan Ketua RT

Tata cara pemilihan Ketua RT pada dasarnya diatur dalam peraturan daerah masing-masing. Meski begitu, secara umum alurnya hampir serupa di berbagai wilayah. Mengacu pada buku Semua Bisa Pintar Ulangan Harian Tematik Kelas 5 SD karya Moh Zulkifli dan Nur Utari, berikut gambaran proses pemilihan Ketua RT.

1. Pembentukan Panitia Pemilihan

Tahap awal dimulai dengan pembentukan panitia pemilihan Ketua RT. Susunan panitia biasanya harus mendapat persetujuan dari kepala desa atau kelurahan setempat. Panitia ini memiliki sejumlah tugas penting, antara lain:

  • Menyeleksi calon Ketua RT
  • Menetapkan calon yang memenuhi persyaratan
  • Menentukan daftar pemilih
  • Menyusun tata tertib pemilihan
  • Menyelenggarakan proses pemilihan

2. Pendaftaran dan Penetapan Calon Ketua RT

Calon Ketua RT terlebih dahulu mendaftarkan diri kepada panitia. Setelah itu, panitia akan melakukan seleksi berdasarkan syarat yang berlaku. Dari proses ini, panitia kemudian menetapkan nama-nama calon yang berhak mengikuti pemilihan.

3. Pelaksanaan Pemilihan Ketua RT

Pemilihan Ketua RT umumnya dilakukan dengan asas LUBER JURDIL, yaitu Langsung, Umum, Bebas, Rahasia, Jujur, dan Adil. Warga yang memiliki hak pilih akan memberikan suara untuk menentukan calon yang dianggap paling layak memimpin lingkungan.

4. Penetapan dan Pelantikan Ketua RT Terpilih

Setelah proses pemungutan dan penghitungan suara selesai, panitia akan menetapkan pemenang. Ketua RT terpilih kemudian dilantik oleh pihak berwenang, seperti kepala desa atau lurah.

Kelebihan Ketua RT dari Kalangan Gen Z

Kehadiran Ketua RT dari kalangan Gen Z dinilai membawa warna baru dalam kepemimpinan di tingkat lingkungan. Selain dikenal cepat beradaptasi, generasi ini juga memiliki sejumlah keunggulan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Berikut beberapa kelebihannya:

1. Lebih Melek Teknologi

Gen Z tumbuh di tengah perkembangan teknologi yang sangat pesat, sehingga penggunaan perangkat digital sudah menjadi bagian dari keseharian mereka. Hal ini menjadi nilai tambah dalam pengelolaan administrasi RT yang selama ini masih banyak dilakukan secara manual.

Dengan kemampuan digital, berbagai layanan seperti pembuatan surat pengantar, pendataan warga, hingga arsip dokumen dapat dilakukan secara lebih praktis dan rapi. Selain itu, kemelekan terhadap teknologi ini juga bisa membantu meningkatkan efisiensi dan transparansi.

Misalnya, Ketua RT bisa memanfaatkan grup WhatsApp, Google Form, atau aplikasi sederhana untuk menyebarkan informasi dan mengumpulkan data warga. Dengan begitu, komunikasi menjadi lebih cepat, dan warga tidak perlu datang langsung hanya untuk mengurus hal-hal administratif.

2. Komunikasi Lebih Terbuka

Sebagai generasi yang aktif di media sosial dan komunitas, Gen Z cenderung memiliki gaya komunikasi yang lebih cair dan terbuka. Ini memudahkan mereka dalam menjalin hubungan dengan warga dari berbagai usia. Ketua RT dari kalangan Gen Z cenderung lebih mudah didekati, sehingga warga tidak segan untuk menyampaikan aspirasi maupun keluhan.

Di sisi lain, dengan kebiasaan yang serba cepat, Gen Z biasanya mampu merespons pesan atau laporan warga dalam waktu singkat. Hal ini tentu meningkatkan kualitas pelayanan di tingkat RT, karena warga merasa didengar dan dilayani dengan baik.

3. Punya Banyak Ide Kreatif

Sebagai generasi yang terbiasa dengan berbagai sumber informasi dan tren, Gen Z cenderung memiliki banyak ide segar. Dalam konteks lingkungan RT, hal ini bisa diterapkan melalui program-program menarik dan tentunya bermanfaat bagi warga.

Contohnya, kegiatan gotong royong bisa dikemas lebih menarik, atau dibuat program lingkungan seperti bank sampah, taman warga, hingga event komunitas. Inovasi seperti ini tidak hanya meningkatkan kualitas lingkungan, tetapi juga mempererat hubungan antarwarga.

4. Cepat Beradaptasi dengan Perubahan

Gen Z hidup di era yang serba cepat berubah, mulai dari teknologi hingga gaya hidup. Kondisi ini membentuk karakter yang fleksibel dan mudah beradaptasi. Dalam peran sebagai Ketua RT, kemampuan ini sangat penting, terutama saat menghadapi situasi tak terduga atau perubahan kebijakan.

Misalnya, ketika ada aturan baru dari pemerintah atau kondisi darurat di lingkungan, Ketua RT dari Gen Z cenderung lebih sigap dalam menyesuaikan langkah. Mereka juga lebih terbuka terhadap solusi baru, sehingga dapat mengambil keputusan yang lebih relevan dengan kondisi saat ini.

5. Mendorong Partisipasi Anak Muda

Kehadiran Ketua RT dari Gen Z juga dapat menjadi jembatan untuk melibatkan lebih banyak anak muda dalam kegiatan di lingkungan RT. Hal ini penting untuk regenerasi kepemimpinan sekaligus menjaga keberlangsungan organisasi kemasyarakatan di tingkat RT.

6. Memiliki Energi dan Semangat yang Tinggi

Usia yang relatif muda membuat Gen Z memiliki energi yang lebih besar untuk menjalankan tugas sebagai Ketua RT. Mereka cenderung lebih aktif dalam mengikuti kegiatan warga, baik yang bersifat formal seperti rapat, maupun kegiatan sosial di lingkungan.

Nah, itulah penjelasan tentang apakah Gen Z boleh menjadi Ketua RT lengkap dengan kelebihan jika lingkungan RT dipimpin oleh Gen Z. Semoga informasi ini bermanfaat detikers!

Artikel ini ditulis oleh Sri Wahyuni Oktafia peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.




(sto/dil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads