Di balik gemerlapnya, Kota Jogja menyimpan kisah pilu yang terselip di pinggiran kota. Azizah Chandrasari (6), bocah TK yang harus merasakan pahitnya dunia di masa yang semestinya ia habiskan untuk bermain bersama teman sebaya.
Azizah, selama kurang lebih dua pekan terakhir harus merawat ayahnya, Hermanto (56) yang sedang sakit sembari mengurus rumah. Ironisnya, Azizah mengemban tugas itu saat badan kecilnya juga sedang tak sehat.
Hermanto, yang sehari-hari bekerja sebagai pemulung, menderita sakit yang ia sendiri mengaku tidak terlalu paham namanya. Benjolan cukup besar muncul di kepalanya yang membuat badannya rentan terasa sakit jika terkena panas-hujan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini kan sakit ini. Ini dia kalau kena panas udah kepanasan, kan cari rosok kan setiap harinya. Kalau udah kepanasan ngentak, ngenyut. Kalau kedinginan juga ngentak, ngenyut gitu," jelas Hermanto saat ditemui di kediamannya, Jumat (17/4/2026).
"Ya hampir dua tahun kan. Nggak tahu, tahu-tahu nimbul kayak gitu. (Benjolannya) Awalnya kecil. Udah (diperiksa), dulu udah lama, tapi masih nggak sebesar ini. Bukan (tumor)," sambungnya.
Hermanto saat ditemui di kediamannya, Umbulharjo Kota Jogja, Jumat (17/4). Foto: Adji G Rinepta/detikJogja |
Sakit itu lah yang membuatnya harus istirahat 2 pekan terakhir. Hermanto harus istirahat penuh di rumah tanpa bisa berbuat banyak. Melihat kondisi ayahnya itu, Azizah pun mau tidak mau mengambil alih pekerjaan rumah.
"Padahal dia sakit kemarin. Kan udah dua minggu, jadi kan dia yang nyuci baju, ya bersihin aja. Nyuci piring, pijetin, sering ke warung beli pel gitu," ungkap Hermanto.
"Itu juga kan kemarin pas dia sakit juga, udah dia sakit, aku sakit. Dia kan mengalami gejala tipes itu rambutnya rontok itu, rontok-rontok itu," lanjutnya.
Meski begitu, kata Hermanto, tak ada keluhan yang terucap dari bibir kecil Azizah akan keadaan ini. Azizah juga masih tetap bersekolah meski sempat izin selama sakit dan merawat ayahnya.
Kesehatan Azizah dan Hermanto pun kini berangsur membaik. Azizah juga sudah kembali bermain dengan teman-teman di sekitar tempat tinggalnya.
"Ya libur sekolahnya (selama sakit dan merawat ayahnya), nggak ada yang ngantar juga. Rencana hari Senin (mulai masuk sekolah kembali)," ujar Hermanto.
Azizah Ikut Memulung
Azizah tinggal bersama ayah dan adiknya, Agip Pranata (5) di sebuah kamar kos berukuran 3x3 di Mrican, Giwangan, Umbulharjo, Kota Jogja. Kamar kos kecil itu hanya berjarak kurang lebih 2 meter dari bibir kali Gajah Wong.
Hermanto bilang, ibu Azizah pergi tanpa kabar semenjak adik Azizah masih berumur 5 bulan. Ia mengaku hingga kini tak mengetahui keberadaan istrinya itu.
Untuk menyambung hidup, Hermanto sehari-hari keliling kota Jogja dengan sepeda mencari botol plastik hingga kardus untuk dijual. Si kecil Agip pun selalu menemani Hermanto berkeliling setiap harinya.
"Pagi itu ngantar (Azizah) sekolah, nanti saya muter keliling. Nanti jam 9.00 pulang, jam 11.30 jemput sekolah, pulangnya (Azizah) kan jam 12.00," ujar Hermanto.
Azizah pun tak jarang ikut membantu sang ayah mencari nafkah. Ia juga tak pernah mengeluh akan keadaan yang keluarganya yang serba kekurangan.
"Nah itu kalau rosok pernah kan sepedanya penuh toh. Nah penuh dengan rosok dari Blok O sampai sini jalan kaki. Tahan dia jalan-jalan kaki," ungkap Hermanto.
Azizah saat ditemui di kediamannya, Umbulharjo Kota Jogja, Jumat (17/4). Foto: Adji G Rinepta/detikJogja |
Cita-cita Jadi Polwan
Alih-alih minder dengan kondisi ekonomi keluarganya, Azizah malah tampak seperti kebanyakan bocah lainnya. Ia tetap bermain bersama teman-teman sebayanya tanpa terlihat kesedihan dari sorot matanya.
"Ya capek, kadang ikut kadang ndak, tapi ya bantu ayah, ambil botol, kardus, plastik. (Kalau capek) nggak pernah (minta) gendong, yang pernah adik," terang Azizah dengan polosnya.
Meski usainya baru 6 tahun, Azizah sepertinya paham betul kalau cita-cita harus digantung setinggi langit. Ia dengan penuh optimisme dan tanpa ragu mengaku ingin jadi Polwan saat besar nanti.
"Iya semangat (sekolah), mau jadi Polwan," ungkap Azizah.
(alg/apl)














































Komentar Terbanyak
KPAI Ungkap Pengakuan Bidan Penampung 11 Bayi di Rumah Sleman
Respons Nadiem Makarim Usai Dituntut 18 Tahun Penjara
Siasat Keji Istri Ketahuan Selingkuh Lalu Gorok Suami di Parangtritis