- Contoh Teks Ceramah Islami Singkat Tentang Puasa Ramadan 1. Ingin Hasil Ramadhan Berkualitas? 2. Menyambut Ramadhan, Berlomba Meraih Ampunan 3. Ramadhan Syahrul Qur'an 4. Merasa Paling Saleh 5. Cinta dan Dzikir Kepada Sang Khaliq 6. Orang yang Melaksanakan Qiyamu Ramadhan Berhak Mendapatkan Ampunan 7. Menyingkap Hikmah Sholat Tarawih Ramadhan 8. Berpuasa Lahir dan Batin 9. Ibadah Puasa: Sarana Peningkatan Iman dan Takwa 10. Pola Makan
Salah satu cara memaknai bulan suci Ramadan yang penuh keberkahan adalah menyampaikan ceramah kepada jemaah maupun umat Islam lainnya. Dengan adanya ceramah, seorang muslim dapat menyebarkan pengetahuan maupun wawasan seputar ajaran Islam. Berikut contoh teks ceramah bertema puasa Ramadan sebagai panduan.
Sebagaimana diketahui, bulan Ramadan menjadi momentum yang dinanti-nantikan oleh setiap umat Islam di dunia. Di dalamnya, terdapat berbagai keutamaan yang mampu membuat bulan Ramadan terasa begitu istimewa.
Keutamaan bulan Ramadan juga telah tertuang di dalam ayat suci Al-Quran maupun hadits. Menukil dari buku 'Traveling in Ramadhan' tulisan Ummu Aisyah, di dalam Surat Al-Baqarah ayat 185, Allah SWT berfirman:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُۗ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَۖ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ ١٨٥
Syahru ramadlânalladzî unzila fîhil-qur'ânu hudal lin-nâsi wa bayyinâtim minal-hudâ wal-furqân, fa man syahida mingkumusy-syahra falyashum-h, wa mang kâna marîdlan au 'alâ safarin fa 'iddatum min ayyâmin ukhar, yurîdullâhu bikumul-yusra wa lâ yurîdu bikumul-'usra wa litukmilul-'iddata wa litukabbirullâha 'alâ mâ hadâkum wa la'allakum tasykurûn.
Artinya: "Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah. Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari (yang ditinggalkannya) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur."
Kemudian di dalam sebuah riwayat hadits, diterangkan berpuasa di bulan Ramadan juga termasuk dalam rukun Islam. Sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Umar yang menuturkan Rasulullah SAW bersabda:
"Islam dibangun atas lima (rukun); bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, mendirikan sholat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadan, dan haji ke Baitullah." (HR. Bukhari dan Muslim)
Keutamaan bulan Ramadan maupun puasa di bulan suci ini dapat menjadi tema untuk dibahas dalam ceramah. Untuk lebih jelasnya, berikut ceramah Islami bertemakan puasa Ramadan.
Contoh Teks Ceramah Islami Singkat Tentang Puasa Ramadan
1. Ingin Hasil Ramadhan Berkualitas?
Beragama itu mudah, semudah menjalankan apa yang telah disyariatkan dalam Islam dengan baik, wajar dan ikhlas. Alat ukurnya adalah mengetahui dan memahami ajaran dan nilai agama Islam dengan baik, kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena alat ukurnya adalah memahami tuntunan atau perintah Allah Swt dan Rasul-Nya beserta larangan-Nya, sehingga di dalam melaksanakan ibadah sehari-hari seorang Muslim memiliki kejelasan orientasi "mengapa dan untuk apa saya beribadah?".
Sedangkan ikhlas, alat ukurnya adalah memastikan bahwa sesuatu yang baik dan wajar itu dilakukan dengan senang hati, sepenuh hati dan fokus di dalam berusaha mendapatkan ridha Allah Swt semata. Semua tindakan ibadah yang dilakukan berdasarkan tuntunan tersebut, pada dasarnya memiliki nilai-nilai luhur yang dapat diimplementasikan ke dalam kehidupan bersosial, berbudaya dan bermasyarakat. Karena pada dasarnya, kebaikan sekecil apapun akan mendapat pahala kebaikan dari Allah Swt, dan begitu pula sebaliknya. Al-Qur'an surat ke 99, Az-Zalzalah ayat 7 dan 8 yang berbunyi:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَه . وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
"Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula."
Ramadhan mengajarkan kepada umat manusia (khususnya orang yang beriman), tentang pentingnya membangun sikap jujur di dalam kehidupan. Terminologi "jujur" menjadi kata kunci di dalam menjalankan perintah puasa. Berikutnya mari kita simak secuil cerita yang penting bagi kita, yakni peristiwa tentang orang yang ingin memeluk agama Islam. Orang tersebut menyatakan kepada Nabi SAW bahwa dia mempunyai kebiasaan buruk yang sulit ditinggalkannya, yaitu mencuri. Orang tersebut menyatakan bahwa di samping keinginannya yang begitu kuat untuk memeluk agama Islam, dia masih merasa kesulitan untuk menghindari kebiasaan mencuri tersebut.
Untuk memecahkan persoalan tersebut, Nabi SAW hanya meminta supaya orang itu berjanji untuk tidak berbohong (an laa takdzib). Janji untuk tidak berbohong tersebut tampaknya begitu merasuk di hati orang tersebut, sehingga sangat berpengaruh dalam kehidupan orang tersebut. Tatkala hendak mencuri, dia senantiasa teringat janji yang dibuatnya dengan Nabi SAW. Seandainya dia masih mencuri, kemudian Nabi SAW bertanya ihwal hal tersebut, apa yang harus dijawabnya. Jika dijawab "tidak", berarti dia telah berbohong. Akhirnya "kontrak sosial" atau yang disebut dengan "an laa takdzih" menjadi dasar moral bagi orang tersebut untuk berbuat baik, sehingga memudahkan prosesnya dalam memeluk agama Islam.
Kata kunci "tidak berbohong" dari cerita di atas, pada hakikatnya berimplikasi ke berbagai sektoral kehidupan kita.
Dikatakan demikian, karena sikap tersebut merupakan bentuk pengejawentahan riil dari kata "iman dan taqwa". Seseorang yang mampu menahan diri untuk tidak berbohong, berarti dia telah mampu mengendalikan diri dari keputusan tindakan yang merugikan dirinya dan orang lain, meskipun dia tidak mengerti bahwa tindakan tersebut merupakan implikasi dari iman dan taqwanya di hadapan Allah SWT.
Oleh karena itu, ada tiga hal penting yang perlu kita lakukan, agar dalam menjalani kehidupan (khususnya di bulan suci Ramadhan) dapat memberikan keberkahan dari efek kebaikan yang kita lakukan. Pertama, mulai dari diri sendiri, yaitu memastikan bahwa kebaikan yang telah terencana agar segera direalisasikan. Sebab, tertundanya niat baik, biasanya akan cenderung membuat kebaikan gagal terealisasi. Kedua, mulai dari yang kecil dan sederhana, maksudnya tindakan-tindakan seperti menyingkirkan duri di jalan, atau menyegerakan sesuatu yang baik ketika terbersit di hati kita tentang kebaikan. Ketiga, mulai dari sekarang, yakni menyegerakan diri ikut mengambil bagian menjadi orang pertama yang melakukan kebaikan.
Inilah yang disebut Ibda Binafsika, mulailah dari diri sendiri. Semoga di ramadhan tahun ini, kita bisa melakukan hal-hal baik di bulan Ramadhan, mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil dan sederhana serta mulai dari sekarang. Semoga!
(Sumber: 'Kumpulan Kultum Ramadhan Mutiara Nasihat Seribu Bulan' oleh Abdur Rozaki, dkk.)
2. Menyambut Ramadhan, Berlomba Meraih Ampunan
Kita diseru oleh Allah SWT untuk selalu berlomba meraih ampunan-Nya,
سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ذَلِكَ فَضْلُ اللهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ
"Berlomba-lombalah kamu untuk mendapatkan ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar." (QS. Al-Hadid, 57:21)
Allah SWT selalu menyediakan waktu dan kesempatan bagi manusia agar berlomba meraih ampunan-Nya. Waktu dan kesempatan harian berupa ibadah shalat lima waktu; mingguan berupa ibadah shalat Jum'at; tahunan berupa ibadah puasa Ramadhan, dan lain sebagainya.
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ
"Shalat lima waktu, shalat jum'at ke shalat jum'at berikutnya, dan puasa Ramadhan ke puasa Ramadhan berikutnya, menjadi penghapus (dosa-dosa) diantara waktu-waktu tersebut, jika dosa-dosa besar ditinggalkan." (HR. Muslim No. 233)
Bahkan di bulan Sya'ban yang lalu pun Allah sediakan waktu untuk mencurahkan maghfirah-Nya,
يَطَّلِعُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النَّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَيَغْفِرُ لَهُمْ كُلِهِمْ إِلَّا لِمُشْرِكَ أَوْ مُشَاحِنٍ
"Allah Ta'ala menampakkan diri-Nya kepada hamba-Nya pada malam nishfu sya'ban, maka Dia mengampuni mereka seluruhnya, kecuali orang yang musyrik atau pendengki." (As Silsilah Ash Shahihah, 3/135, No. 1144)
Nanti pasca Ramadhan dan Syawal, Allah SWT sediakan pula ibadah haji. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُتْ وَلَمْ يَفْسُقُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
"Barangsiapa yang berhaji, lalu dia tidak berbuat rafats (menghamburkan syahwat), tidak berbuat fasik, niscaya akan diampuni bagi dosa-dosanya yang lalu." (HR. At Tirmidzi No. 808)
Ringkasnya, seluruh momen ibadah, hakikatnya adalah kesempatan bagi kita untuk meraih maghfirah dari Allah SWT.
Oleh karena itu, momen istimewa bulan Ramadhan ini pun harus kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya, agar Allah SWT berkenan mengampuni dosa-dosa kita.
(Sumber: '30 Materi Ceramah Ramadhan' oleh Forum Dakwah dan Tarbiyah Islamiyah)
3. Ramadhan Syahrul Qur'an
Allah SWT berfirman,
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
"Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)." (QS. Al-Baqarah, 2: 185)
Momentum Ramadhan harus menjadi sarana peningkatan interaksi dengan Al-Qur'an. Ibnu 'Abbas radhiallahu 'anhuma berkata,
وَكَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ
"Jibril menemuinya (Nabi Muhammad SAW) pada tiap malam malam bulan Ramadhan, dan dia (Jibril) bertadarus Al Quran bersamanya." (HR. Al-Bukhari No. 3220)
Bagaimana berinteraksi dengan Al-Qur'an?
Pertama, dengan membacanya.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم
حرفٌ وَلَكِنْ أَلِفَ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ
"Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan Alif-Lam-Mim satu huruf, akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf." (HR. Tirmidzi)
اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لَأَصْحَابِهِ
"Bacalah Al Quran karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa'at kepada orang yang membacanya" (HR. Muslim)
Kedua, memahaminya.
Memahami Al-Qur'an adalah sebuah keniscayaan karena ia adalah kitab petunjuk kehidupan bagi orang-orang yang beriman,
إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُوْنَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا
"Sesungguhnya al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal shalih bahwa bagi mereka ada pahala yang besar." (QS. Al-Isra, 17: 9).
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوْبِ أَقْفَالُهَا
"Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur'an ataukah hati mereka terkunci?" (QS. Muhammad, 47: 24).
Ketiga, melaksanakannya.
عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ حَدَّثَنَا مَنْ كَانَ يُقْرِئُنَا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم - أَنَّهُمْ كَانُوا يَقْتَرِثُونَ مِنْ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم - عَشَرَ آيَاتٍ فَلا يَأْخُذُونَ فِي الْعَشْرِ الأُخْرَى حَتَّى يَعْلَمُوا مَا فِي هَذِهِ مِنَ الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ قَالُوا فَعَلِمْنَا الْعِلْمَ وَالْعَمَلَ
Riwayat dari Abi Abdul Rahman as-Sulamiy (seorang tabi'in), ia berkata, "Telah menceritakan kepada kami orang yang dulu membacakan kepada kami yaitu sahabat-sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa mereka dulu mendapatkan bacaan (Al-Qur'an) dari Rasululullah shallallahu 'alaihi wa sallam sepuluh ayat, mereka tidak mengambil sepuluh ayat yang lainnya sehingga mereka mengerti apa yang ada di dalamnya yaitu ilmu dan amal. Mereka berkata, 'Maka kami mengerti ilmu dan amal." (HR. Ahmad)
Keempat, menghafalnya.
Dari Abdullah bin 'Amr, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلُ كَمَا كُنتَ تُرَبَّلُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِندَ آخِر آيةٍ تَقْرَؤُهَا
"Dikatakan kepada orang yang membaca (menghafalkan) Al Qur'an nanti: 'Bacalah dan naiklah serta tartillah sebagaimana engkau di dunia mentartilnya. Karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca (hafal)." (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).
(Sumber: '30 Materi Ceramah Ramadhan' oleh Forum Dakwah dan Tarbiyah Islamiyah)
4. Merasa Paling Saleh
Asalamualaikum wa rahmatullah wa barakatuh.
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى أله وأصحابه أجمعين، أما بعد.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Sebagian dari kita ada saja yang belum bisa menerima perbedaan dalam berislam. Merasa paling benar dan menyalahkan sebagian yang berbeda dengan golongannya. Bahkan tidak jarang juga yang berani mengkafirkan saudara seagamanya hanya karena beda persepsi. Dan yang lebih parah lagi ada yang mendeklarasikan golongannya bisa masuk surga, sedangkan yang lain harus merasakan panasnya siksa neraka terlebih dahulu.
Sejatinya, merasa paling benar dan paling suci itu hanya tipu daya setan yang sangat halus sehingga membuat sesuatu yang salah menjadi tampak benar. Allah swt. berfirman dalam QS al-Najım; 32:
هو أعلم بكم إذا الشأكم من الأرض وإذ ألكم أجنة في بطون أمهاتكم. فلا ترَكُوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى
"Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu, maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa"
Jamaah yang dimuliakan Allah
Fenomena merasa paling ebnar dan paling suci adalah indikasi dari seseorang yang sombong, dan sikap ini tidak dianjurkan dalam Islam Oleh karena itu, Islam menganjurkan umatnya untuk mengenal Tuhan dan dirinya. Karena jikalau sudah mengenal Tuhan dan dirinya akan terhindar dari berbagai penyakit hati yang bisa merusak tubuhnya.
Merasa paling benar pasti melahirkan kesombongan sehingga ia menganggap rendah orang yang tidak seperti dirinya, padahal hisa jadi orang-orang tersebut adalah yang lebih dekat kepada Allah lewat amal lain. Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah Rahimahullah dalam Madarij As Salikin berkata,
إذا فتح الله عليك في باب قيام الليل، فلا تنظر المسالمين نظرة ازدراء وإذا فتح الله عليك في باب الصيام، فلا تنظر المقطرين نظرة الدرام
وإذا فتح الله عليك في باب الجهاد، فلا النظر القاعدين نظرة الدراء
قرب نائج وتقطر وَقَاعِد .. أقرب إلى الله منك
"Jika Allah Ta'ala membukakan untukmu pintu (memudahkan) shalat malam, jangan memandang rendah orang yang tertidur. Jika Allah membukakan untukmu pintu puasa (sunnah), janganlah memandang rendah tak berpuasa. Dan jika Allah membukakan untukmu pintu jihad, maka jangan memandang rendah orang yang tak berjihad. Sebab, bisa saja orang yang tertidur, orang yang tidak berpuasa (sunnah) dan orang yang tak berjihad itu lebih dekat kepada Allah ketimbang dirimu."
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Kemudian Imam Ibnu al-Qayyim melanjutkan,
وإنك أن تبيت نائماً وتصبح نادماً غير من أن تبيت قائماً وتصبحتعجبا ، فإن التعجب لا يصعد له عمل
"Sungguh engkau ketiduran sepanjang malam lalu menyesal di waktu pagi itu lebih baik daripada melewati malam dengan ibadah tapi merasa bangga di pagi hari. Itu karena orang yang sombong, amalannya tidak akan naik ke sisi Allah."
Hadirin yang dirahmati Allah,
Dari penjelasan tersebut, sebagai Muslim sudah seharusnya kita selalu merenung, dan berintrospeksi bahwa kenikmatan yang kita dapatkan sejatinya karena anugerah yang Allah berikan kepada kita. Kenikmatan itu bisa saja Allah cabut dalam sekejap mata. Dunia selalu berputar. Hari ini kita berada di atas, bisa saja besok kita yang ada di bawah.
(Sumber: 'Syiar Ramadan Perekat Persaudaraan' oleh Direktorat Jenderal Bimas Islam Kementerian Agama)
5. Cinta dan Dzikir Kepada Sang Khaliq
"Shalat, puasa, dan bersedekah akan dibawa pada hari kebangkitan dan ditempatkan pada mizan (timbangan). Tetapi ketika cinta yang dibawa, ia tidak akan bisa ditimbang dan timbangan (mizan) tak akan muat. Maka hal yang paling utama adalah CINTA." (Jalaluddin Rumi).
D engan mengamalkan Tarekat maka janji Allah dalam al-Qur'an tentang keutamaan ibadah dan dzikir akan terealisasi. Salah satu sekian janji itu, jaminan Allah akan keutamaan dzikir adalah barangsiapa yang berdzikir dengan khidmat, maka niscaya hatinya akan tenang dan damai. Sebagaimana Allah Swt berfirman dalam Surat al-Baqarah (2:152) berikut ini:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
"Berdzikirlah (Ingatlah) kamu pada-Ku, niscaya Aku akan ingat pula padamu."
Dzikirullah atau mengingat Allah adalah amalan yang tidak terhingga nilainya, bagi siapapun yang senantiasa mengingat-Nya di setiap waktu, niscaya amalan dan perbuatan apapun di dunia yang belum tercapai akan dengan mudah terwujud, itulah janji Sang Maha Pencipta. Setiap hembusan nafas, denyut nadi bergetar, derasnya darah mengalir sekujur tubuh, hingga untaian tutur kata yang terucap manakala kita mengingat Allah, senantiasa diilhami dan mendapat petunjuk-Nya.
Begitu juga dengan mengucapkan shalawat Nabi SAW, sebagaimana dalam sabdanya: "Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali shalawat, maka Allah memberi rahmat kepadanya sepuluh kali." (HR. Muslim). Bershalawat pun tidak hanya sekedar mengucap dengan kata-kata, tetapi harus dibarengi dengan metode yang tepat. Kalau direnungi secara dalam, untuk apa kita mendoakan Nabi, bukankah Beliau sudah mendapatkan jaminan Allah atas keselamatan dan surga baginya. Padahal, yang belum tentu selamat itu kita sebagai makhluk biasa. Disinilah rahasia penting yang patut kita gali secara mendalam, mengapa kita penting mengucapkan shalawat kepada Nabi. Ibarat kabel listrik, apabila arus secara langsung dialirkan kepada kita, maka akan terasa dentuman nadir dari setrum itu kepada sekujur tubuh ini. Begitu pula dengan ucapan shalawat kita kepada Nabi, bila secara istiqomah menjalankan amalan ini, niscaya akan mendapatkan syafaat kelak di akhir zaman, ketika manusia dibangkitkan kembali dari liang lahat (kubur).
Bukankah kita-sebagai manusia biasa-akan menghadap sang Maha Sempurna? Bukankah janji Allah tatkala melihat manusia bukan dilihat dari mana asalnya, apa jabatannya, apakah manusia itu kaya atau miskin, dan lainnya-yang pertama kali dihitung adalah amalannya dengan ketaqwaan. Maka dari itu, taqwa tidak hanya sekedar mengucapkan dua kalimat syahadat, tapi bagaimana kita menjalankan amaliyah yang termaktub dalam rukun Islam; syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji bagi yang mampu.
Semua amaliyah yang wajib harus dijalankan oleh umat muslim. Namun, bila kita ingin meningkatkan dan memperbanyak pahala di hadapan Allah Swt, harus bekerja ekstra keras untuk meraihnya. Salah satu amaliyah ini adalah dengan berdzikir, mengingat Allah, dan memuji Nabi kita. Maka dari itu, melalui momentum bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, mari kita senantiasa ber-khalwat kepada Sang Khaliq dengan asma-Nya. Sebagaimana janji-Nya, bahwa ketika insan bermunajat kepada Allah dengan penuh cinta, dengan sendirinya akan mendapatkan pahala berlipat ganda.
(Sumber: 'Kumpulan Kultum Ramadhan Mutiara Nasihat Seribu Bulan' oleh Abdur Rozaki, dkk.)
6. Orang yang Melaksanakan Qiyamu Ramadhan Berhak Mendapatkan Ampunan
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
"Barangsiapa melaksanakan shalat (malam) di bulan Ramadhan karena keimanan dan ihtisab (mengharap pahala dari Allah); akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari)
Latar belakang sunnah qiyamu ramadhan/tarawih:
Diriwayatkan dari 'Aisyah radhiallahu 'anha, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam shalat (qiyamu Ramadhan) di masjid, lalu manusia mengikutinya, keesokannya shalat lagi dan manusia semakin banyak, lalu pada malam ketiga atau keempat mereka berkumpul namun Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak keluar bersama mereka, ketika pagi hari beliau bersabda,
قد رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ فَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنَ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ
"Aku melihat apa yang kalian lakukan, dan tidak ada yang mencegahku keluar menuju kalian melainkan aku khawatir hal itu kalian anggap kewajiban." Itu terjadi pada bulan Ramadhan." (HR. Bukhari)
Tarawih pada masa Nabi:
Tarawih pada masa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah 8 rakaat dan witir 3 rakaat, sebagaimana diriwayatkan dari 'Aisyah radhiallahu 'anha,
مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةً رَكْعَة
"Bahwa Rasulullah tidak pernah menambah lebih dari sebelas rakaat shalat malam, baik pada bulan Ramadhan atau selainnya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Tarawih pada masa Umar bin Khattab:
Shalat tarawih dilaksanakan 20 rakaat dan witir 3 rakaat serta ada pula yang melaksanakan tarawih 36 rakaat dan witir 3 rakaat..
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menyebutkan,
وَعَنْ يَزِيد بن رُومَانَ قَالَ " كَانَ النَّاسِ يَقُومُونَ فِي زَمَانِ عُمَرَ بِثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ " وَرَوَى مُحَمَّد بْن نَصْرٍ مِنْ طَرِيق عَطَاء قَالَ " أَدْرَكْتهُمْ فِي رَمَضَان يُصَلُّونَ عِشْرِينَ رَكْعَةٌ وَثَلَاثَ رَكَعَاتِ الْوِتْر
"Dari Yazid bin Ruman, dia berkata: "Dahulu manusia pada zaman Umar melakukan 23 rakaat." Dan Muhammad bin Nashr meriwayatkan dari Atha', dia berkata: "Aku berjumpa dengan mereka pada bulan Ramadhan, mereka shalat 20 rakaat dan tiga rakaat witir." (Fathul Bari, 4/253)
Imam Ibnu Hajar melanjutkan:
وَرَوَى مُحَمَّد ابْن نَصْرٍ مِنْ طَرِيق دَاوُدَ بْن قَيْسٍ قَالَ " أَدْرَكْتَ النَّاسِ فِي إمَارَةِ أَبَانَ بْن عُثْمَانِ وَعُمر بن عبد العزيز - يَعْنِي بِالْمَدِينَةِ - يَقُومُونَ بِسِبِّ وَثَلَاثِينَ رَكْعَةً وَيُوتِرُونَ بِثَلَاثِ " وَقَالَ مَالِكَ هُوَ الْأَمْرُ الْقَدِيمُ عِنْدَنَا . وَعَنْ الزَّعْفَرَانِي عَنْ الشَّافِعِي " رَأَيْتَ النَّاسِ يَقُومُونَ بِالْمَدِينَةِ بِتِسْعِ وَثَلَاثِينَ وَبِمَكَّة بِثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ ، وَلَيْسَ فِي شَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ ضِيقٌ
Muhammad bin Nashr meriwayatkan dari jalur Daud bin Qais, dia berkata: "Aku menjumpai manusia pada masa pemerintahan Aban bin Utsman dan Umar bin Abdul Aziz yakni di Madinah- mereka shalat 36 rakaat dan ditambah witir tiga rakaat." Imam Malik berkata, "Menurut saya itu adalah perkara yang sudah lama." Dari Az Za'farani, dari Asy Syafi'i: "Aku melihat manusia shalat di Madinah 39 rakaat, dan 23 di Mekkah, dan ini adalah masalah yang lapang."
(Sumber: '30 Materi Ceramah Ramadhan' oleh Forum Dakwah dan Tarbiyah Islamiyah)
7. Menyingkap Hikmah Sholat Tarawih Ramadhan
Bulan Ramadhan pada dasarnya bukan hanya sekedar bulan puasa untuk menahan lapar dan haus saja. Lebih dari itu, bulan ini juga menjadi bulan ibadah dan panen pahala. Ada banyak ibadah khusus dan keutamaan yang hanya Allah berikan pada bulan ramadhan saja. Salah satu ibadah khas yang ada pada bulan Ramadhan adalah salat tarawih. Pada umumnya, salat tarawih ini dilakukan setelah shalat isya' dan dilakukan secara berjamaah. Ada yang melaksanakannya sebanyak 8 rakaat, namun ada juga yang melaksanakan salat tarawih sebanyak 20 rakaat. Hal itu adalah perbedaan yang wajar dan tidak perlu menjadi masalah. Yang terpenting adalah kita mampu menghidupkan malam bulan ramadhan dengan salat tarawih. Berikut ini adalah beberapa hikmah shalat tarawih yang perlu Anda ketahui:
Pertama: Salat Sunnah Paling Utama; Ulama hanabilah atau ulama yang memegang madzhab Hambali mengatakan bahwa shalat tarawih adalah salat sunnah yang paling utama dibandingkan dengan shalat sunnah lainnya. Sementara, salat sunnah yang pelaksanaannya sangat dianjurkan untuk dilakukan berjamaah adalah salat kusuf atau salat gerhana, kemudian salat tarawih.
Kedua: Diampuni Dosanya Yang Telah Lalu; Seperti dikatakan sebelumnya, salah satu keutamaan salat tarawih adalah mendapatkan pengampunan atas dosanya yang telah lalu. Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni."
An Nawawi menjelaskan bahwa yang dimaksud qiyam Ramadhan adalah sholat tarawih. Sedangkan yang dimaksudkan dengan diampuni dosanya adalah dosa yang kecil maupun dosa besar. Tentu saja jika orang tersebut shalat tarawih dengan niat yang benar, dan bukan karena riya' atau alasan-alasan lain selain Allah.
Ketiga: Shalat tarawih berjamaah seperti qiyamul lail Semalam Penuh; Sholat tarawih bisa dilakukan sendiri maupun berjamaah. Namun jika dilakukan berjamaah dan bersama imam, maka akan mendapatkan pahala sholat qiyamul lail satu malam penuh, sebagaimana dalam hadits: Dari Abu Dzar, Nabi SAW pernah mengumpul kan keluarga dan para sahabatnya, lalu bersabda "Siapa yang sholat bersama imam sampai selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh" (HR. Ahmad).
Keempat: Menyemarakkan Bulan Ramadhan; Hikmah lain yang didapat melalui salat tarawih adalah syiar islam. Adanya salat tarawih juga merupakan ibadah khusus yang hanya ada di bulan ramadhan. Dimana pada bulan tersebut Allah menurunkan keberkahan, ampunan, dan anugerah.
Kelima: Sholat tarawih Meningkatkan Silaturahmi dan Ukhuwah Islamiyah; Ketika melaksanakan sholat tarawih kita bisa meningkatkan silaturahmi dan ukhuwah islamiyah. Dalam hadits pun "seorang yang menyambung silaturahmi adalah orang yang berusaha kembali menyambung silaturahmi setelah sebelumnya diputuskan oleh pihak lain." (HR. Bukhari)
Keenam: Sholat tarawih bisa menyehatkan jasmani dan rohani.
Kesehatan rohani adalah mempertebal keimanan dan beberapa hikmah yang telah disebutkan di atas. Sedangkan dari kesehatan jasmani, beberapa manfaatnya yaitu: (1) Menyehatkan tulang dan persendian. (2) Menurunkan kadar gula darah dan membakar kalori. (3) Meningkatkan fungsi otak. Dalam sholat tarawih terdapat gerakan sujud dipercaya mampu meningkatkan peredaran darah ke otak dan menjaga suplai nutrisi yang dibutuhkan sehingga otak bisa bekerja secara optimal. (4) Menghilangkan stres. Saat melaksanakan shalat tarawih tubuh akan melepaskan beberapa senyawa kimia yang berfungsi untuk meredakan stres.
Wallahu A'alam Bishowab.
(Sumber: 'Oase Ramadhan: Bunga Rampai Mater Kultum Ramadan 1445 H' oleh Prof Dr HA Rusdiana, MM)
8. Berpuasa Lahir dan Batin
Ibadah puasa yang dikehendaki Islam adalah puasa lahir dan batin. Puasa lahir dilakukan dengan menahan diri dari makan, minum, dan jima' di siang hari. Sedangkan puasa batin dilakukan dengan menahan diri dari hal-hal yang merusak pahala puasa.
Jika yang dilakukan hanya berpuasa lahir, kita khawatir akan menjadi orang yang merugi. Abu Hurairah radhiallahu 'anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ
"Betapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali hanya lapar saja." (HR. Ahmad No. 9685, Ibnu Majah No. 1690, Ad Darimi No. 2720)
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ النُّورِ وَ العَمَلَ بِهِ وَ الجَهْلِ فَلَيْسَ اللَّهِ حَاجَةٌ فِي أَن يَدَعْ طعامه وشرابه
"Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta, mengamalkannya dan bersikap bodoh, maka Allah tidak butuh terhadap sikapnya meninggalkan makan dan minumnya (puasanya)" (HR. Bukhari dan Abu Daud; lafadz hadits ini milik Abu Daud)
Maka, di bulan Ramadhan, kaum muslimin juga harus berupaya menggembleng dirinya untuk memerangi dan menundukkan jiwanya agar taat kepada Allah.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
المُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللهِ
"Mujahid adalah orang yang melawan dirinya dalam rangka menta'ati Allah..." (HR Ahmad)
Juga berlatih menjaga qalbunya.
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلَّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلَّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
"Dan ketahuilah bahwa di dalam tubuh ada segumpal darah yang apabila baik maka baiklah tubuh tersebut seluruhnya, dan apabila ia rusak maka rusaklah tubuh tersebut seluruhnya. Ketahuilah, ia adalah qalbu" (HR. Bukhari)
9. Ibadah Puasa: Sarana Peningkatan Iman dan Takwa
Allah SWT berfirman,
يَأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa..." (QS. 2: 183)
Kata la'alla bermakna ta'lil (tujuan) atau tarajji' (harapan). Jadi, tujuan dan harapan dari ibadah puasa adalah semakin tertanamnya ketakwaan.
Definisi puasa (as-shiyam):
الْإِمْسَاكَ عَنِ الْمُفْطِرَاتِ مِنْ طلوعِ الْفَجْرِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ مَعَ النِّيَّةِ
"Menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari, dan dibarengi dengan niat (berpuasa)." (Fiqhus Sunnah, 1/431)
Oleh karena itu ibadah puasa (menahan diri dari makan, minum, dan syahwat di siang hari) hakikatnya adalah riyadhatur ruh (latihan ruhani), yakni agar kita mampu mengendalikan hawa nafsu yang selalu menggiring kepada ketamakan dan hubbud dunya (terlalu cinta dunia).
Dengan ibadah puasa diharapkan akan tumbuh quwwatul imsak (kekuatan pengendalian diri) dari hal-hal yang diharamkan Allah SWT; dan tumbuh quwwatul indifaa (kekuatan motivasi) untuk melakukan ibadah dan amal shalih. Inilah hakikat peningkatan iman dan ketakwaan.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
لا يَبْلُغُ الْعَبْدُ أَنْ يَكُونَ مِنَ الْمُتَّقِينَ حَتَّى يَدَعَ مَا لَا بَأْسَ بِهِ حَذَرًا لِمَا بِهِ الناس
"Seorang hamba belum mencapai derajat takwa sehingga ia meninggalkan sesuatu yg mubah (boleh) sebagai bentuk kehati-hatian dari sesuatu yg dilarang." (HR. Ibnu Majah)
(Sumber: '30 Materi Ceramah Ramadhan' oleh Forum Dakwah dan Tarbiyah Islamiyah)
10. Pola Makan
"...makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan." (QS. al-A'raf [7]: 31)
Bagi orang yang berpunya, puasa mungkin hanya satu bulan. Namun tidak demikian bagi orang miskin-papa. Mereka relatif puasa lebih panjang, sepanjang tahun karena kesulitan mencari makan. Mereka menjadi kelompok masyarakat yang tidak sempat memikirkan bagaimana menyimpan makanan dalam kulkas, apalagi memikirkan pendidikan. Menyisihkan makanan, apalagi dalam kulkas, makan makanan bergizi, dan pendidikan bagi mereka adalah barang istimewa. Karena itu, bagi mereka bagaimana menyambung hidup dan terus survive dengan mengais rizki di tempat-tempat pembuangan sampah seperti di Bantar Gebang meski dengan penuh resiko adalah sebuah keniscayaan. Mereka mengumpulkan barang-barang buangan yang sering dianggap oleh mereka yang punya tidak bermanfaat. Semuanya demi untuk makan dan terus hidup, meski dengan berbagai keterbatasan.
Menurut para ulama, ustadz, kyai, dan ahli, puasa terutama puasa Ramadhan mendidik orang yang punya kelebihan yang puasa agar memiliki etika sosial berupa sikap empatik terhadap mereka yang miskin. Dengan pengalaman langsung, orang yang berpuasa diajak mengalami hal serupa seperti yang banyak dialami oleh orang-orang miskin, yakni lapar dan haus, karena tidak atau kurang makan. Namun, dalam realitasnya apakah demikian, perlu masing-masing kita yang puasa dan kebetulan memiliki kelebihan untuk koreksi diri.
Menarik untuk mencermati fenomena pasar dan ekonomi menjelang dan saat masa puasa berlangsung. Menjelang dan masa puasa Ramadhan biasanya ditandai oleh fenomena naiknya harga-harga barang, akibat semakin meningkatnya permintaan masyarakat. Ironis tapi menarik untuk dicermati, media massa menginformasikan bahwa pada bulan Ramadhan ini beredar daging sapi campur daging celeng, daging sapi yang di glonggong dan daging-daging ilegal lainnya serta daging kadaluarsa.
Bagi pelaku ekonomi, permintaan yang meningkat tersebut sebuah kesempatan untuk menarik keuntungan yang besar dan bagi pemerintah dianggap sebagai indikator bahwa daya beli sebagian masyarakat meningkat. Namun, dalam konteks puasa, semua itu patut menjadi renungan dan kritik diri. Bagaimana puasa akan menjadi media edukasi sosial, kalau meningkatnya permintaan dan daya beli itu justru semakin menunjukkan kesenjangan sosial?
Maka menjadi ironis bila pada masa puasa ini justru pada satu sisi banyak orang miskin berkeliaran, menampakkan 'wajahnya' yang paling konkrit mengemis untuk menyambung hidup, sementara pada sisi lain banyak yang puasa tapi justru menumpuk dan menambah menu makanan. Puasa, tapi malah berlebihan dan boros, sehingga wajar kalau pada bulan puasa justru kebutuhan meningkat dan harga barang naik serta banyak beredar daging ilegal. Pada satu sisi, ada sebagian masyarakat yang dapat menambah menu dan penyimpanan makanan di kulkas, tapi pada sisi lain masih banyak bermunculan orang-orang miskin yang tidak dapat dibaca, kecuali sebagai kritik sosial atas kita yang memiliki perilaku menambah menu dan menyimpan makanan.
Puasa sejatinya sebagai media pembelajaran agar kita semakin peduli dengan tidak berlebihan menambah menu atau menyimpan dan menyisihkan makanan itu dalam kulkas. Kalaupun sampai menyimpannya, maka tidak di kulkas, tapi pada perut orang-orang miskin. Ayat yang dikutip di atas mengingatkan kita tentang bagaimana pola makan yang benar, bukan saja di bulan puasa tapi juga di luar puasa. Pola tersebut adalah tidak berlebihan. Ayat yang lain misalnya QS. al-Baqarah [2]: 168, menambah dengan yang dikonsumsi adalah halal dan toyyib (sangat baik). Pola ini diajarkan, bukan saja agar kita makan dengan baik tapi juga agar kita terhindar dari berbagai macam penyakit akibat makanan dan mau berbagi makanan. Semoga dalam momentum Ramadhan kali ini kita dapat merenungkannya dengan baik (introspeksi diri)!
(Sumber: 'Kumpulan Kultum Ramadhan Mutiara Nasihat Seribu Bulan' oleh Abdur Rozaki, dkk.)
Itulah tadi contoh teks ceramah Islami singkat tentang puasa Ramadan yang dapat dijadikan sebagai panduan bagi setiap muslim. Semoga membantu.
(par/aku)












































Komentar Terbanyak
Laga PSIM Vs Persija Sempat Diwacanakan Pindah ke Semarang, Tapi...
Cerita Azizah, Bocah TK di Jogja Rawat Bapak Sakit hingga Ikut Memulung
Pelukis Menolak Mengemis, Perjuangan Seniman Mbah Kibar Lunasi Utang Rp 500 Juta