Kisah Sabdo Palon Nagih Janji Setelah 500 Tahun Berhenti Mengikuti Brawijaya V

Kisah Sabdo Palon Nagih Janji Setelah 500 Tahun Berhenti Mengikuti Brawijaya V

Anindya Milagsita - detikJogja
Selasa, 13 Jan 2026 08:00 WIB
Kisah Sabdo Palon Nagih Janji Setelah 500 Tahun Berhenti Mengikuti Brawijaya V
Ilustrasi. (Foto: pikisuperstar/Freepik)
Jogja -

Menelusuri kisah tentang Brawijaya V akan membawa kita pada sosok Sabdo Palon dan janjinya yang begitu populer di kalangan masyarakat Jawa, yaitu 'Sabdo Palon Nagih Janji'. Lantas, bagaimana kisah asal-usul 'Sabdo Palon Nagih Janji' bisa muncul?

Sebelumnya, mari mengenal terlebih dahulu sosok Brawijaya V secara lebih dekat. Siapa itu Brawijaya V? Sosok Brawijaya V adalah Raja Majapahit yang sekaligus menjadi raja terakhir bagi Kerajaan Majapahit.

Seperti dijelaskan dalam buku 'Di Balik Runtuhnya Majapahit Dan Berdirinya Kerajaan-kerajaan Islam Di Jawa' tulisan Drs M Rizal Qasim, MSi, Brawijaya V adalah raja terakhir bagi Kerajaan Majapahit. Sosoknya naik takhta menggantikan ayahnya, yaitu Prabu Bratanjung.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Awalnya Brawijaya V memeluk agama Hindu. Namun, seiring berjalannya waktu, disebut-sebut raja terakhir Majapahit tersebut masuk Islam. Inilah yang membuat ada pihak-pihak tertentu yang menyatakan ketidaksetujuannya.

Salah satu pihak yang dimaksud adalah Sabdo Palon yang merupakan abdi dan penasihat kepercayaan dari Brawijaya V. Tak hanya menentang keputusan Brawijaya V, Sabdo Palon juga menyatakan janji yang begitu populer hingga saat ini. Untuk lebih jelasnya, mari simak kisah Sabdo Palon dan Brawijaya V berikut ini.

ADVERTISEMENT

Poin Utamanya:

  • Sabdo Palon Nagih Janji merujuk pada ramalan dan sumpah Sabdo Palon yang menolak masuknya Islam di masa Prabu Brawijaya V, sekaligus janji untuk kembali ke tanah Jawa setelah 500 tahun.
  • Sabdo Palon disebut akan kembali dengan tanda-tanda berupa bencana alam, gejolak besar, dan perubahan zaman, yang dipahami sebagai peringatan spiritual.
  • Kisah Sabdo Palon dan Brawijaya V ini menggambarkan konflik batin dan spiritual saat Islam mulai berkembang di Jawa, ditandai keputusan Brawijaya V memeluk Islam yang ditentang oleh Sabdo Palon dan Nayagenggong hingga mereka memilih pergi dan mengucapkan sumpahnya.

Isi Sabdo Palon Nagih Janji

Sebenarnya 'Sabdo Palon Nagih Janji' merupakan sebuah sumpah atau ramalan yang berisikan ungkapan Sabdo Palon yang tidak berkenan Brawijaya V masuk dalam agama Islam. Tak hanya menunjukkan ketidaksetujuannya, Sabdo Palon juga menyatakan janjinya yang akan kembali dalam kurun waktu 500 tahun lagi.

Melalui buku 'Perjalanan Spiritual Menelisik Jejak Satrio Piningit: Jalan Setapak Menuju Nusantara Jaya' tulisan Tri Budi Marhaen Darmawan, Sabdo Palon menyatakan kalimat demi kalimat dalam bahasa Jawa. Adapun isi dari Sabdo Palon dalam menyampaikan janjinya adalah sebagai berikut.

"Sabda Palon matur sugal, 'Yen kawula boten arsi, Ngrasuka agama Islam, Wit kula puniki yekti, Ratuning Dang Hyang Jawi, Momong marang anak putu, Sagung kang para Nata, Kang jume-neng Tanah Jawi, Wus pinasthi sayekti kula pisahan. Klawan Paduka sang Nata, Wangsul maring sunya ruri, Mung kula matur petungna, Ing benjang sakpungkur mami, Yen wus prapta kang wanci, Jangkep gangsal atus tahun, Wit ing dinten punika, Kula gantos kang agami, Gama Buda kula sebar tanah Jawa. Sinten tan purun nganggeya, Yekti kula rusak sami, Sun sajekken putu kula, Berkasakan rupi-rupi, Dereng lega kang ati, Yen du-rung lebur atempur, Kula damel pratandha, Pratandha tembayan mami, Hardi Merapi yen wus njeblug mili lahar. Ngidul ngilen purugira, Ngganda banger ingkang warih, Nggih punika medal kula, Wus nyebar agama budi, Merapi janji mami, Anggereng jagad satuhu, Karsanireng Jawata, Sadaya gilir gu-manti, Boten kenging kalamunta kaowahan. Sanget-sangeting sangsara, Kang tuwuh ing tanah Jawi, Sineng-kalan tahunira, Lawon Sapta Ngesthi Aji, Upami nyabrang kali, Prapteng tengah-tengahipun, Kaline banjir bandhang, Jerone ngelebne jalmi, Kathah sirna manungsa prapteng pralaya. Bebaya ingkang tumeka, Warata sa Tanah Jawi, Ginawe kang paring gesang, Tan kenging dipun singgahi, Wit ing donya puniki, Wonten ing sakwasanipun, Sedaya pra Jawata, Kinarya amer-tandhani, Jagad iki yekti ana kang akarya."

Apabila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, ungkapan Sabda Palon sekiranya berisikan:

"Sabda Palon menjawab kasar: 'Hamba tak mau masuk Islam Sang Prabu, sebab saya ini raja serta pembesar Dang Hyang se tanah Jawa. Saya ini yang membantu anak cucu serta para raja di tanah jawa. Sudah digaris kita harus berpisah. Berpisah dengan Sang Prabu kembali ke asal mula saya. Namun Sang Prabu kami mohon dicatat. Kelak setelah 500 tahun saya akan mengganti agama Budha lagi (maksudnya Kawruh Budi), saya sebar seluruh tanah Jawa. Bila ada yang tidak mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi makanan jin setan dan lain-lainnya. Belum legalah hati saya bila belum saya hancur leburkan. Saya akan membuat tanda akan datangnya kata-kata saya ini. Bila kelak Gunung Merapi meletus dan memuntahkan laharnya. Lahar tersebut mengalir ke Barat Daya. Baunya tidak sedap. Itulah pertanda kalau saya datang. Sudah mulai menyebarkan agama Buda (Kawruh Budi). Kelak Merapi akan bergelegar. Itu sudah menjadi takdir Hyang Widi bahwa segalanya harus bergantian. Tidak dapat bila diubah lagi. Kelak waktunya paling sengsara di tanah Jawa ini pada tahun: Lawon Sapta Ngesthi Aji. Umpama seorang me-nyeberang sungai sudah datang di tengah-tengah. Tiba-tiba sungainya banjir besar, dalamnya menghanyutkan manusia sehingga banyak yang meninggal dunia. Bahaya yang mendatangi tersebar seluruh tanah Jawa. Itu sudah kehendak Tuhan tidak mungkin disingkiri lagi. Sebab dunia ini ada ditanganNya. Hal tersebut sebagai bukti bahwa sebenarnya dunia ini ada yang membuatnya."

Melalui ucapan-ucapan Sabdo Palon tadi dapat dipahami tentang ketidaksetujuannya saat mengetahui Brawijaya V masuk agama Islam. Kemudian Sabdo Palon juga memilih untuk berpisah dengan sang prabu yang sudah mempercayainya selama ini.

Sabdo Palon memilih untuk pergi dan kembali ke wujud dewa. Namun, ia juga membuat janji hanya akan pergi selama 500 tahun saja. Sabdo Palon menyatakan janji akan datang kembali di bumi tanah Jawa yang ditandai dengan adanya sejumlah bencana alam. Inilah yang membuat 'Sabdo Palon Nagih Janji' tidak hanya dikenal sebagai sebuah janji atau sumpah semata, tetapi juga adanya ramalan akan tanda-tanda tertentu yang menunjukkan hadirnya Sabda Palon.

Hal serupa juga telah dijelaskan dalam buku karya Nils Bubandt yang bertajuk 'Demokrasi, Korupsi, dan Makhluk Halus dalam Politik Indonesia Kontemporer', Sabda Palon mengutuk Brawijaya V karena sang raja memeluk agama Islam. Konon, kejadian tersebut terjadi sekitar tahun 1478.

Namun, Sabda Palon juga turut menyatakan janjinya untuk kembali setelah 500 tahun. Kemunculannya nanti akan ditandai dengan bencana alam hingga gejolak hebat di dunia. Tak hanya itu saja, Sabda Palon berjanji akan memimpin di masa keemasan.

Kisah Sabdo Palon dan Brawijaya V

Lantas, bagaimana kisah Sabda Palon yang berakhir membuat janji akan kembali 500 tahun lagi karena Prabu Brawijaya V memeluk Islam? Untuk diketahui, Sabda Palon merupakan gelar yang diberikan kepada sosok abdi yang juga menjabat sebagai nasihat raja.

Melalui buku 'Sejarah Kelam Majapahit: Jejak-jejak Konflik Kekuasaan dan Tumbal Asmara Di Majapahit' tulisan Peri Mardiyono, Sabdo Palon berasal dari kata 'sabdo' yang bermakna seorang yang memberikan ajaran, nasihat, dan masukan. Kemudian 'palon' adalah kebenaran yang bergema di alam semesta.

Untuk itu, Sabdo Palon adalah seorang abdi atau pelayan yang secara berani menyampaikan kebenaran kepada raja. Sebenarnya, kisah di balik 'Sabdo Palon Nagih Janji' tidak hanya berkaitan dengan Sabdo Palon saja, tapi juga Nayagenggong. Siapa itu Nayagenggong?

Sama halnya dengan Sabdo Palon, Nayagenggong bukanlah nama asli. Kata 'Naya' yang berarti abdi raja dan 'genggong' yang bermakna mengulang-ulang suara. Istilah Nayagenggong berarti abdi yang mengingatkan raja akan kebenaran secara berulang-ulang.

Kisah 'Sabdo Palon Nagih Janji' bermula dari agama Islam yang mulai masuk ke tanah Jawa. Pada saat itu, sang raja yang tidak lain adalah Brawijaya V masih memeluk agama Hindu. Bahkan sebagian kalangan rakyat juga meyakini agama Hindu dan Buddha.

Mengacu dari buku 'Petruk Dadi Ratu' oleh Dr Suwardi Endraswara, M Hum, masuknya Islam di tanah Jawa tidak disambut dengan baik oleh sebagian pihak. Bahkan ada yang menentang, sehingga memicu peperangan. Bukan sekadar perang fisik, tapi melibatkan ilmu gaib dan bangsa jin.

Salah satu yang menyatakan ketidaksetujuan atas masuknya Islam adalah Sabda Palon. Dikatakan Sabda Palon secara terang-terangan membuat benteng pertahanan agar agama Islam tidak memasuki tanah Jawa. Namun, kehadiran Syekh Subakir yang merupakan ulama asal Persia mampu meredakan itu semua.

Dengan adanya Syekh Subakir, perang bisa berakhir dan secara terbuka sosoknya mengajak berunding. Lebih lanjut melalui buku 'Di Balik Runtuhnya Majapahit Dan Berdirinya Kerajaan-kerajaan Islam Di Jawa' oleh Drs M Rizal Qasim, MSi, dijelaskan peran Sunan Kalijaga juga tak kalah besar untuk menyebarkan ajaran agama Islam di tanah Jawa.

Salah satu sosok yang memutuskan masuk Islam adalah Prabu Brawijaya V. Dikisahkan ia tergerak hatinya setelah bertemu dengan para ulama yang datang untuk mengenalkan agama Islam. Konon, Brawijaya V tidak serta merta memeluk agama Islam.

Terdapat proses yang cukup panjang dan melibatkan dukungan dari anggota kerajaan yang membuat Brawijaya V semakin yakin memeluk Islam. Dua di antaranya adalah sang menantu bernama Raden Rahmat atau Sunan Ampel dan putra mahkotanya, yaitu Raden Arya Damar.

Kendati begitu, lagi-lagi usaha mereka mengalami kegagalan. Hingga akhirnya, putra Prabu Brawijaya V bernama Raden Patah yang senantiasa yang menyampaikan nasihat kepada sang ayah. Didukung dengan Sunan Kalijaga yang turut memberikan dukungan serupa, sehingga Prabu Brawijaya V akhirnya mendapatkan pencerahan batin yang mampu membawanya memeluk agama Islam.

Sayangnya, keputusan ini tidak disetujui oleh dua penasihatnya, yaitu Sabdo Palon dan Nayagenggong. Namun, tidak banyak yang bisa dilakukan oleh keduanya, terlebih adanya sosok Sunan Kalijaga yang mendampingi Prabu Brawijaya V dalam mengenal agama Islam.

Untuk itu, kedua abdi kepercayaan Prabu Brawijaya V memilih untuk meninggalkan sang prabu. Sebelum benar-benar meninggalkan sosok yang selama ini menjadi tempat bagi mereka mengabdi, Sabdo Palon dan Nayagenggong menunjukkan rasa murka mereka dengan membuat sumpah atau janji. Mereka berjanji akan kembali dalam waktu 500 tahun untuk bisa menguasai tanah Jawa sesuai dengan keyakinan yang mereka anut.

Memahami ramalan Sabdo Palon Nagih Janji beserta kisahnya bersama Brawijaya V dapat menambah wawasan tentang apa yang pernah terjadi di masa lalu. Semoga penjelasan tadi bermanfaat, ya.




(sto/afn)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads