Di balik kemegahan sisa-sisa peradaban Majapahit yang tersebar di Trowulan, Mojokerto, tersimpan sebuah situs yang menyelimuti dirinya dengan kabut misteri dan nama yang menggetarkan, yaitu Sumur Upas.
Terletak di dalam kompleks Candi Kedaton, situs ini tidak hanya menawarkan pemandangan struktur bata merah kuno yang rumit layaknya labirin, tetapi juga menyimpan legenda kelam tentang lorong bawah tanah yang mematikan.
Nama "Upas" sendiri dalam bahasa setempat yang berarti racun atau gas berbahaya, merujuk pada cerita tutur yang meyakini bahwa sumur ini sesungguhnya adalah pintu gerbang menuju jalur penyelamatan rahasia bagi raja, yang sengaja dijaga dengan isu gas beracun agar tidak ada musuh yang berani mendekat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kekeramatan tempat ini kian terasa kental dengan adanya kepercayaan masyarakat akan "Sumur Windu" di dekatnya yang dianggap bertuah, serta temuan arkeologis yang mengindikasikan bahwa area ini dulunya merupakan kawasan permukiman elit yang tertutup bagi rakyat jelata.
Sejarah dan Legenda Sumur Upas
Situs Sumur Upas, yang terletak di kawasan Cagar Budaya Candi Kedaton, Trowulan, Mojokerto, merupakan salah satu peninggalan penting dari era Kerajaan Majapahit. Secara arkeologis, situs ini menampilkan struktur bangunan berbahan bata merah yang cukup rumit dan masif.
Dikutip dari jurnal berjudul "Pemukiman Majapahit: Kajian Pemukiman Majapahit di Trowulan Melalui Peninggalan Arkeologi" yang ditulis oleh Annajmia Sofi Indira, menunjukkan bahwa kompleks ini memiliki setidaknya enam lapisan masa pembangunan atau penggunaan, yang mengindikasikan adanya pengalihan fungsi lahan dari masa ke masa.
Awalnya diduga sebagai bagian dari sistem pengairan atau kanal karena keberadaan saluran air, area ini kemudian berubah fungsi, di mana saluran tersebut tidak lagi digunakan ketika Candi Kedaton didirikan di atasnya.
Dilansir dari laman resmi Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI, nama "Sumur Upas" sendiri menyimpan legenda yang kuat di kalangan masyarakat setempat. Kata "Upas" bermakna racun atau gas beracun.
Berdasarkan cerita rakyat dan informasi yang dikutip dari laman resmi Disperpusip Jatim, sumur ini konon merupakan lorong rahasia atau jalan pelarian bagi raja menuju tempat aman jika istana diserang.
Untuk mencegah orang asing atau musuh masuk, dihembuskan lah isu bahwa lorong tersebut mengandung gas beracun mematikan, sehingga dinamakan Sumur Upas. Namun, secara fisik, struktur yang disebut "sumur" ini kemungkinan besar adalah bagian dari sistem "jobong" (selubung tanah liat) atau sisa bangunan air kuno.
Situs Sumur Upas terletak di Dusun Kedaton, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Foto: Enggran Eko Budianto |
Misteri situs ini semakin mendalam dengan ditemukannya kerangka manusia di lokasi tersebut. Jurnal Bakaba mencatat laporan penemuan beberapa kerangka manusia tanpa penjelasan spesifik. Namun, legenda setempat, sebagaimana dilansir dari laman detikNews, mengaitkan temuan lima kerangka ini dengan kisah epik Damarwulan dan Minak Jinggo.
Kerangka-kerangka tersebut dipercaya sebagai jasad Dewi Wahita dan Dewi Puyengan (istri Minak Jinggo yang diboyong Damarwulan), serta dayang-dayangnya. Kisah ini menambah aura mistis pada situs yang struktur batanya sering dianggap menyerupai labirin oleh pengunjung.
Selain kerangka dan struktur bangunan, ekskavasi di kawasan ini juga mengungkap kekayaan artefak yang menunjukkan bahwa lokasi ini dulunya adalah pemukiman kaum elit atau strata sosial tinggi. Para arkeolog menemukan berbagai benda berharga seperti fragmen keramik dari Dinasti Song hingga Qing, mata uang kepeng China, liontin emas, hingga gelang perunggu.
Banyaknya temuan artefak berkualitas tinggi dan tumpukan bata dalam jumlah jutaan mengindikasikan bahwa pembangunan kompleks ini melibatkan sistem manajemen pengadaan bahan dan tenaga kerja yang sangat teratur dan canggih pada zamannya.
Saat ini, Situs Sumur Upas dan Candi Kedaton telah dilindungi dengan bangunan cungkup untuk pelestarian. Meskipun informasi yang disajikan di lokasi dinilai masih minim sehingga membingungkan pengunjung dalam menafsirkan fungsi sebenarnya, situs ini tetap menjadi objek wisata sejarah yang menarik.
Pengunjung datang tidak hanya untuk melihat sisa kejayaan arsitektur Majapahit, tetapi juga karena daya tarik legenda air "Sumur Windu" di dekatnya yang dipercaya memiliki khasiat tertentu, serta kisah cinta dan perebutan kekuasaan yang menyelimuti sejarah terkuburnya situs ini.
Daya Tarik Situs
Daya tarik utama Situs Sumur Upas di Candi Kedaton terletak pada keunikan arsitektur kunonya yang menyajikan tata ruang kompleks menyerupai labirin. Pengunjung disuguhkan pemandangan struktur bata merah masif yang membentuk sekat-sekat ruang dan lorong, yang menurut penelitian arkeologi jumlahnya bisa mencapai jutaan bata.
Kompleksitas susunan ini mencerminkan kemampuan manajemen konstruksi dan teknologi adaptasi lingkungan yang sangat maju pada era Majapahit, di mana situs ini menunjukkan bukti adanya pengalihan fungsi lahan dari masa ke masa, mulai dari saluran air hingga menjadi pondasi bangunan candi.
Situs ini berupa struktur bangunan dari bata merah dengan bentuk yang begitu rumit menyerupai labirin. Foto: Enggran Eko Budianto |
Selain keindahan visual arsitekturnya, situs ini menawarkan daya tarik sejarah melalui temuan artefak yang mengindikasikan bahwa area ini dulunya adalah pemukiman kaum elite atau bangsawan. Ekskavasi di lokasi ini menyingkap berbagai benda berharga, mulai dari fragmen keramik asing (Tiongkok dan Eropa), mata uang kepeng, hingga perhiasan seperti liontin emas dan gelang perunggu.
Keberadaan benda-benda mewah ini, ditambah dengan lokasi Candi Kedaton yang berhimpitan dengan pemukiman, memicu rasa penasaran wisatawan dan peneliti mengenai fungsi sebenarnya dari situs ini, apakah sebagai tempat tinggal raja atau area sakral yang tertutup.
Sisi misteri dan legenda juga menjadi magnet kuat bagi wisatawan, khususnya terkait asal-usul nama "Upas" dan cerita rakyat yang melingkupinya. Konon, sumur ini adalah lorong rahasia pelarian raja yang dijaga dengan isu gas beracun (upas) untuk menakuti musuh.
Nuansa mistis semakin kental dengan ditemukannya kerangka manusia yang oleh masyarakat setempat dikaitkan dengan legenda cinta Damarwulan dan para istri Minak Jinggo . Tak hanya itu, keberadaan "Sumur Windu" di area ini juga menarik banyak pengunjung yang percaya bahwa air dari sumur kuno tersebut memiliki tuah atau khasiat tertentu sebagai obat.
Minimnya informasi rinci di lokasi situs justru membiarkan imajinasi pengunjung liar berkelana, menafsirkan sendiri fungsi dari tumpukan jutaan bata tersebut.
Apakah ia benar-benar lorong pelarian sang raja yang penuh racun, ataukah sebuah mahakarya sistem tata air kota kuno yang terlupakan, Sumur Upas tetap berdiri sebagai saksi bisu kecerdasan sekaligus misteri abadi dari ibu kota Majapahit yang harus terus dijaga kelestariannya.
Artikel ini ditulis Muhammad Faishal Haq, peserta magang PRIMA Kemenag di detikcom.
(ihc/hil)













































