Kapolres Jombang AKBP Ardi Kurniawan bertemu 500 pelajar Jombang. Dalam kegiatan penguatan karakter itu, ratusan siswa SMA, SMK, dan SLB diajak untuk meningkatkan kualitas diri dan menghindari aksi kriminalitas.
Ardi didapuk menjadi narasumber dalam kegiatan penguatan karakter yang digelar Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Jombang di Aula SMA Darul Ulum 2 Unggulan Ponpes Darul Ulum, Peterongan. Acara ini diikuti 500 pelajar SMA, SMK, dan SLB Negeri se-Jombang.
Di awal sesi, Ardi menunjukkan gambaran kenakalan remaja yang kerap terjadi di Kota Santri. Salah satu diantaranya soal aksi balap liar dan geng motor yang meresahkan. Ia mewanti-wanti agar para pelajar tidak ikut-ikutan aksi kriminal tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami menegaskan bahwa perilaku tersebut harus dihindari karena berpotensi membahayakan diri sendiri maupun orang lain," terangnya di hadapan ratusan pelajar, Selasa (3/3/2026).
Selanjutnya, Ardi mengingatkan bahwa kalangan pelajar hari ini merupakan golongan generasi Z. Dimana kelompok ini yang sejak lahir telah akrab dengan perkembangan teknologi.
Namun demikian, ia mengingatkan adanya dampak negatif apabila teknologi tidak dimanfaatkan secara bijak. Seperti praktik judi online, pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, hingga seks bebas.
Oleh karena itu, Ardi berpesan agar para pelajar mampu untuk meningkatkan kualitas diri. Hal ini untuk menyongsongsong visi Indonesia Emas 2045 dengan fokus pada pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas pendidikan, penguatan ekonomi, serta peningkatan daya saing global.
"Yang menentukan keberhasilan Indonesia Emas adalah adik-adik semua yang hari ini berada di depan saya. Apabila memiliki disiplin yang baik, akhlak yang baik, dan prestasi, maka Indonesia Emas 2045 bisa terwujud karena kalianlah yang akan menjadi pemimpin di masa depan," jelasnya.
Ketua Umum Majelis Pimpinan Pondok Pesantren Darul Ulum KH Cholil Dahlan menekankan bahwa pembentukan karakter sejatinya berawal dari diri sendiri. Menurutnya, dalam pandangan pondok pesantren, yang utama bukan sekadar tutur kata, melainkan sikap dan perilaku sehari-hari.
"Karakter itu terbentuk karena diri sendiri. Di pesantren, yang utama bukan hanya apa yang diucapkan, tetapi bagaimana sikap dan perilaku sehari-hari. Pembentukan karakter adalah proses pembiasaan," tandasnya.
(auh/abq)











































