Seorang bocah perempuan berinisial S (8) yang diduga menjadi korban pelecehan oleh guru ngaji di Kecamatan Sempu, Banyuwangi, masih hidup dalam ketakutan. Sang anak bahkan kerap menanyakan apakah terduga pelaku berinisial MP telah diamankan polisi.
"Itu anak saya, saya bersyukur dia masih mau bersekolah dan hidup normal. Tapi, dia selalu dalam ketakutan," ujar R, ibu korban, saat ditemui, Kamis (13/8/2026).
R mengaku putrinya baru menceritakan dugaan peristiwa yang dialaminya secara perlahan. Awalnya, sang anak terus menangis dan menolak bercerita karena ketakutan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dia cuma bilang, saya disuruh masuk ke dalam. Disuruh mijet katanya pak guru capek, tapi lampu dimatikan dan badan saya ditindih," ungkap R dengan suara bergetar.
Menurut R, putrinya mengaku mengalami dugaan peristiwa tersebut sebanyak empat kali. Peristiwa itu disebut terjadi sejak Desember 2025 hingga terakhir pada 26 Juli 2026.
"Dia bilang mengalami 4 kali, dari Desember 2025 sampai terakhir 26 Juli kemarin. Dia menolak saat akan disetubuhi oleh pelaku, dia mendorong tapi tidak mampu berteriak," jelasnya.
R mengaku sempat bertanya kepada putrinya mengapa tidak berusaha melarikan diri. Namun, sang anak mengaku ketakutan hingga tidak bisa bergerak.
Ia juga baru memahami alasan putrinya selama ini kerap menangis dan menolak saat diminta berangkat mengaji. R bahkan mengaku pernah memarahi anaknya karena enggan berangkat.
"Makanya saya heran kalau dia itu menolak berangkat ngaji sampai nangis. Saya bahkan marah ke dia kalau nggak mau ngaji," katanya.
Ketakutan itu masih dirasakan korban hingga kini. Hampir setiap hari, putrinya disebut menanyakan keberadaan MP kepada kedua orang tuanya.
"Saya takut Ma, apa Pak MP sudah dibawa pak polisi ya Ma?," kata R menirukan pertanyaan anaknya.
Menurutnya, pertanyaan itu hampir setiap hari ditanyakan S kepada kedua orang tuanya. Seakan ia memastikan bahwa hidupnya akan aman dan baik-baik saja jika tidak melihat MP.
R berkisah, putrinya itu selalu kooperatif saat diminta keterangan oleh penyidik. Bahkan, ia lebih berani terbuka pada aparat penegak hukum ketimbang kepada ibunya sendiri.
"Kalau sama penyidik itu dia malah lebih terbuka, dia cerita lebih gamblang. Tapi kalau sama saya malah terpotong potong ceritanya," lanjut R.
R kemudian memutuskan untuk melapor ke polisi demi memberikan rasa aman pada anaknya, sekaligus memberikan efek jera pada pelaku yang diduga lebih banyak anak yang menjadi korban.
