Fasilitas konservasi mutakhir ini diinisiasi dan dikelola oleh Banyuwangi Sea Turtle Foundation (BSTF). Sejak didirikan pada tahun 2011 di bawah komando Wiyanto Haditanodjo, yayasan non-profit ini secara konsisten menjadi garda terdepan dalam menyelamatkan reptil laut purba tersebut dari ancaman kepunahan.
Pria yang akrab disapa Wiwit ini menyebutkan, setiap musim penyu bertelur tiba, BSTF berhasil menyelamatkan puluhan ribu butir telur untuk kemudian ditetaskan dan dilepasliarkan kembali ke samudra luas.
Keberadaan pusat penetasan ini menjadi sangat vital mengingat posisi geografis Banyuwangi yang unik. Antara bulan Februari hingga Agustus, pesisir Banyuwangi kerap menjadi jujukan kawanan penyu untuk bertelur.
Banyuwangi menjadi satu-satunya kabupaten di Indonesia yang menjadi habitat pendaratan 4 jenis penyu sekaligus dari total 7 spesies yang ada di dunia. Ada Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) dan Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea).
Membiarkan telur penyu menetas secara alami di pantai kini menghadapi risiko kegagalan yang sangat tinggi. Di alam liar, potensi kematian embrio maupun tukik (anak penyu) dipicu oleh banyaknya predator alami serta aktivitas manusia.
Ada ancaman baru yang jauh lebih mengeikan yakni Pemanasan Global (Global Warming). Suhu pasir yang semakin panas akibat perubahan iklim memicu fenomena ketidakseimbangan jantan dan betina. Suhu tinggi menyebabkan mayoritas telur menetas menjadi penyu berjenis kelamin betina.
Jika tren kelahiran didominasi betina akibat suhu bumi yang memanas, maka penyu akan kesulitan melakukan regenerasi di masa depan dan mempercepat kepunahan. Untuk mengatasi masalah kritis tersebut, BSTF mengevakuasi telur-telur dari pantai ke sebuah ruang khusus yang dinamakan Ruang Intan (Incubation Tank/Ruang Penetasan).