Tradisi ini turun-temurun dilakukan setiap Bulan Suro atau Muharram.
Prosesi sakral itu dihadiri Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi, Wakil Bupati Trihandy Cahyo Saputro, jajaran Forkopimda, pejabat daerah, hingga wisatawan dari berbagai kota.
Rangkaian ritual diawali dengan prosesi adat sekitar pukul 09.00 WIB, yang dipimpin sesepuh adat dan diiringi alunan gamelan Jawa.
Prosesi semakin terasa sakral dan magis, saat Tari Bedhayan Amek Tirta yang ditampilkan oleh 10 gadis belia. Tarian ini sebagai simbol rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sebelum turun ke kolam.
Didampingi sepuluh jejaka, para gadis belia ini kemudian mengambil air Sedudo menggunakan kendi-kendi kecil yang selanjutnya disimpan dalam wadah khusus.
Setelah prosesi pengambilan air selesai, Bupati Marhaen bersama jajaran Forkopimda yang mengenakan busana adat Jawa menjalani ritual mandi langsung di bawah guyuran Air Terjun Sedudo.
Air Terjun Sedudo sendiri berasal dari 9 mata air Gunung Wilis, yang bermuara menjadi satu aliran. Masing-masing mata air Banyu Iber, Banyu Lawe, Banyu Cagak, Singokromo, Sadepok, Sumber Selanjar, Srigunting, Sumber Kanoman dan yang terakhir mata air Sedudo.