Enam pusaka yang dijamas itu terdiri dari Kiai Kembar, Kiai Bondan, Kiai Jogotruno, Kiai Bethik, Raden Panji dan Nyai Dukun. Tradisi turun temurun itu melibatkan masyarakat adat setempat.
Sebelum dijamas, enam pusaka itu terlebih dahulu dikirab menuju Makam Kiai Ageng Ngaliman.
Dalam kirab, terdapat tokoh membawa kemenyan, cucuk lampah, kemudian barusan pembawa pusaka dan para pengikut.
Setelah dikirab ke Makam Kiai Ageng Ngaliman, enam pusaka itu kemudian dibawa kembali ke gedong pusaka yang ada di Balai Desa Ngliman untuk dijamas. Setelah itu, air bekas jamasan pusaka, diperebutkan masyarakat.
Jamasan pusaka ini dihadiri oleh perangkat Desa Ngliman, Forkopimcam Sawahan, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Nganjuk Gunawan Widagdo serta Kepala Dinas Pariwisata Jawa Timur Evy Afianasar.
Tradisi ini dilakukan untuk keselamatan bagi seluruh masyarakat Nganjuk.