Kejadian pada 29 Mei 2026, petaka lumpur panas menyembur dari dalam perut bumi akibat aktivitas pengeboran gas sumur Banjar Panji-1 milik PT Lapindo Brantas di Porong, Sidoarjo terjadi. Sejak saat itu, peta geografi, ekonomi, dan sosial kawasan Porong berubah selamanya.
Porong yang dulunya padat aktivitas dan menjadi salah satu urat nadi industri Jawa Timur kini telah berubah layaknya 'Kota Mati'.
Penampakan rumah warga di Desa Gempolsari kecamatan Tanggulangin, yang berada di bawah Tanggul penahan lumpur.
Pipa-pipa untuk mengalirkan air dan lumpur Lapindo ke Sungai Porong. Namun, kini tidak terlihat aktivitas untuk mengalirka dari tanggul ke sungai.
Kondisi dua bangunan bekas rumah warga yang berada di titik 21 tanggul penahan lumpur, tepatnya di Kelurahan Siring, Kecamatan Porong. Dua bangunan rumah warga tampak amblas dan miring.
Bencana yang terjadi sejak 29 Mei 2006 itu juga memukul dunia pendidikan. Tercatat sedikitnya 23 bangunan sekolah tenggelam akibat luapan lumpur panas dan 5 SD Negeri yang mangkrak.
Dampak semburan lumpur yang sempat mengenangi rumah warga berdampak keropos. Diduga karena kadar garam di sumur2 warga mengandung kadar garam yang sangat tinggi.
Kawasan pertokoan di wilayah Porong Sidoarjo menjadi sepi dampak semburan lumpur lapindo.
Tragedi lumpur lapindo menyisakan pilar jalan layang yang disebut tol buntung. Pilar itu bekas penghubung jalan ruas Tol Gempol-Surabaya sekitar KM 37 sampai KM 41.