Perajin Tempe Sanan Malang Putar Otak Hadapi Harga Kedelai Naik

Kawasan industri tempe legendaris Sanan, Kota Malang, kembali menghadapi tantangan ekonomi klasik. Melonjaknya harga kedelai impor imbas ketegangan geopolitik di Timur Tengah memaksa para perajin memutar otak.
Alih-alih menaikkan harga jual yang berisiko ditinggal pembeli, mereka memilih jalan tengah yang sudah menjadi 'tradisi' saat krisis dengan mengecilkan dimensi produk.
Bagi Afriantoro, salah satu perajin di Sanan, kenaikan harga kedelai dari Rp 9.800 menjadi Rp 10.600 per kilogram sejak akhir Maret 2026 adalah sinyal peringatan.
Meski kenaikannya terlihat bertahap, tren ini diprediksi akan terus merangkak naik seiring belum stabilnya kondisi global.
Menaikkan harga jual tempe di pasar bukanlah pilihan populer. Sebagai gantinya, perajin menerapkan strategi penyusutan fisik produk.

Kawasan industri tempe legendaris Sanan, Kota Malang, kembali menghadapi tantangan ekonomi klasik. Melonjaknya harga kedelai impor imbas ketegangan geopolitik di Timur Tengah memaksa para perajin memutar otak.
Alih-alih menaikkan harga jual yang berisiko ditinggal pembeli, mereka memilih jalan tengah yang sudah menjadi tradisi saat krisis dengan mengecilkan dimensi produk.
Bagi Afriantoro, salah satu perajin di Sanan, kenaikan harga kedelai dari Rp 9.800 menjadi Rp 10.600 per kilogram sejak akhir Maret 2026 adalah sinyal peringatan.
Meski kenaikannya terlihat bertahap, tren ini diprediksi akan terus merangkak naik seiring belum stabilnya kondisi global.
Menaikkan harga jual tempe di pasar bukanlah pilihan populer. Sebagai gantinya, perajin menerapkan strategi penyusutan fisik produk.