Ia adalah Kapten Kasihin, pejuang kemerdekaan yang gugur saat melawan tentara Belanda.
Anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Nganjuk Sukadi mengatakan Kapten Kasihin diabadikan sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan pengorbanannya dalam mempertahankan kemerdekaan.
Kapten Kasihin memiliki nama lengkap Kasihin Hadi Soetomo. Ia merupakan perwira TNI AD yang menjabat sebagai Komandan Kompi III Batalyon 22/Sriti.
Kapten Kasihin dikenal sebagai pejuang yang berani dan patriotik. Ia gugur saat Agresi Militer Belanda II pada 22 April 1949 dalam usia 32 tahun.
Untuk mengenang perjuangannya, monumen juga didirikan di lokasi pertempuran di Dusun Tawangsari selain di Alun-Alun Nganjuk.