Mereka belajar membaca Al-Qur’an menggunakan buku Iqro dan mushaf Braille dengan metode menulis menggunakan stilus dan reglet.
Namun di balik semangat belajar para siswa, sekolah menghadapi tantangan kekurangan tenaga pengajar. Saat ini terdapat 15 guru aktif, sementara sekolah masih membutuhkan tambahan setidaknya tiga pengajar agar pembelajaran bisa lebih optimal.
Bagi para siswa tunanetra di sekolah ini, titik-titik Braille bukan sekadar huruf, melainkan jendela untuk memahami ayat suci dan mengenal dunia dengan cara mereka sendiri.
Kondisi keterbatasan guru membuat beberapa siswa dengan kemampuan membaca Al-Qur’an yang berbeda harus belajar dalam satu kelas. Meski demikian, kegiatan mengaji tetap berjalan dengan penuh semangat, terutama selama bulan Ramadan.