Jembatan yang menghubungkan Dusun Beji dan Dusun Banjar Utara itu selama ini menjadi jalur utama aktivitas pendidikan, ekonomi, hingga sosial masyarakat.
Putusnya jembatan membuat mobilitas warga terganggu, termasuk anak-anak sekolah yang terpaksa mencari jalur alternatif dengan jarak tempuh lebih jauh dan risiko lebih tinggi.
Jembatan yang dibangun menggunakan Dana Desa tahun 2018 itu menelan anggaran sebesar Rp 277.532.000, dengan panjang sekitar 20 meter dan lebar 4 meter.
Ambrolnya jembatan membuat mobilitas warga dari dan menuju tiga dusun terganggu.
Tasri (54), warga Desa Banjarsari mengatakan, jembatan tersebut sangat dibutuhkan masyarakat karena menjadi jalur utama aktivitas sehari-hari.