Potret Pasutri Puluhan Tahun Hidup di Dasar Jurang Mojokerto

Pasangan suami istri ini berada di lembah terpencil di kaki Gunung Welirang yang hanya bisa dicapai dengan perjalanan curam dan berbahaya.

Jurang Gembolo sangat dalam di antara dua bukit kawasan Gunung Welirang. Rumah pasutri Karmin alias Pak Soleh (71) dan Simpen (56) benar-benar di dasar jurang ini. Dari sisi Kecamatan Pacet, akses paling dekat melalui Dusun Bulak Kunci, Desa Nogosari.

Dari Bulak Kunci, kita melalui jalan setapak yang biasa dilewati para petani setempat. Jalan setapak ini masih bisa ditempuh menggunakan sepeda motor. Namun, harus ekstra hati-hati karena selain konturnya menurun, di beberapa bagian jalan, sisi kirinya berupa jurang yang sangat dalam.

Sekitar 15 menit melalui jalan setapak, sampai di ujung jalan yang bisa dilewati sepeda motor. Panorama alam di sini sangat memukau. Yaitu berupa hutan pinus, perkebunan yang tertata begitu rapi nan hijau, serta rimbunnya perbukitan, lembah dan jurang di lereng Gunung Welirang.

Semakin masuk ke dalam hutan, setiap langkah harus diperhitungkan. Sebab jalan setapak sebelah saluran irigasi ini berbatasan langsung dengan jurang yang sangat dalam. Sedangkan sisi kanan saluran irigasi berupa bukit yang tinggi dengan hutan sangat lebat dan alami. Gemericik air, nyanyian serangga hutan dan sejuknya udara lereng Gunung Welirang mengiri setiap langkah.

Selanjutnya, menyeberang sungai, lalu naik ke hutan bambu yang sangat asri dan rindang. Setelah keluar dari hutan bambu inilah sampai di rumah Karmin dan Simpen.

Karmin mengaku sudah tinggal selama 20 tahun, sejak tahun 2003. Karmin dan Simpen menumpang di lahan Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pasuruan. Secara administrasi, rumah pasutri ini masuk Desa Sukosari, Trawas, Mojokerto.

Tempat tinggal Karmin dan Simpen sangat sederhana. Lantainya berupa tanah, tiang dan dindingnya terbuat dari bambu. Rumah seluas 3x5 meter persegi ini sebagian memakai atap genting, sebagian lagi atap bambu. Hanya ada 3 ruangan di dalamnya, yaitu ruang utama, kamar tidur dan dapur.

Meski terletak di dasar jurang dikelilingi ladang dan hutan yang lebat, rumah Karmin sudah dilengkapi lampu sebagai penerangan. Listriknya bersumber dari panel surya yang dipasang di samping kanan rumahnya. Mereka mengalirkan air dari mata air menggunakan pipa untuk kebutuhan mandi, masak dan mencuci.

Pasangan suami istri ini berada di lembah terpencil di kaki Gunung Welirang yang hanya bisa dicapai dengan perjalanan curam dan berbahaya.
Jurang Gembolo sangat dalam di antara dua bukit kawasan Gunung Welirang. Rumah pasutri Karmin alias Pak Soleh (71) dan Simpen (56) benar-benar di dasar jurang ini. Dari sisi Kecamatan Pacet, akses paling dekat melalui Dusun Bulak Kunci, Desa Nogosari.
Dari Bulak Kunci, kita melalui jalan setapak yang biasa dilewati para petani setempat. Jalan setapak ini masih bisa ditempuh menggunakan sepeda motor. Namun, harus ekstra hati-hati karena selain konturnya menurun, di beberapa bagian jalan, sisi kirinya berupa jurang yang sangat dalam.
Sekitar 15 menit melalui jalan setapak, sampai di ujung jalan yang bisa dilewati sepeda motor. Panorama alam di sini sangat memukau. Yaitu berupa hutan pinus, perkebunan yang tertata begitu rapi nan hijau, serta rimbunnya perbukitan, lembah dan jurang di lereng Gunung Welirang.
Semakin masuk ke dalam hutan, setiap langkah harus diperhitungkan. Sebab jalan setapak sebelah saluran irigasi ini berbatasan langsung dengan jurang yang sangat dalam. Sedangkan sisi kanan saluran irigasi berupa bukit yang tinggi dengan hutan sangat lebat dan alami. Gemericik air, nyanyian serangga hutan dan sejuknya udara lereng Gunung Welirang mengiri setiap langkah.
Selanjutnya, menyeberang sungai, lalu naik ke hutan bambu yang sangat asri dan rindang. Setelah keluar dari hutan bambu inilah sampai di rumah Karmin dan Simpen.
Karmin mengaku sudah tinggal selama 20 tahun, sejak tahun 2003. Karmin dan Simpen menumpang di lahan Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pasuruan. Secara administrasi, rumah pasutri ini masuk Desa Sukosari, Trawas, Mojokerto.
Tempat tinggal Karmin dan Simpen sangat sederhana. Lantainya berupa tanah, tiang dan dindingnya terbuat dari bambu. Rumah seluas 3x5 meter persegi ini sebagian memakai atap genting, sebagian lagi atap bambu. Hanya ada 3 ruangan di dalamnya, yaitu ruang utama, kamar tidur dan dapur.
Meski terletak di dasar jurang dikelilingi ladang dan hutan yang lebat, rumah Karmin sudah dilengkapi lampu sebagai penerangan. Listriknya bersumber dari panel surya yang dipasang di samping kanan rumahnya. Mereka mengalirkan air dari mata air menggunakan pipa untuk kebutuhan mandi, masak dan mencuci.