Harga telur puyuh di tingkat peternak anjlok drastis hingga menyentuh angka Rp 18.500 per kilogram. Akibatnya, para peternak harus gigit jari karena menanggung kerugian hingga ratusan ribu rupiah setiap harinya.
Anjloknya harga dipicu oleh kelebihan pasokan yang berbarengan dengan melemahnya permintaan pasar selama masa libur sekolah. Kondisi ini memaksa peternak menjual hasil produksinya jauh di bawah Harga Pokok Produksi (HPP).
Salah satu peternak puyuh di Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Sotya Hanief mengungkapkan, harga jual saat ini sudah tidak masuk akal jika dibandingkan dengan modal yang dikeluarkan. Menurutnya, HPP telur puyuh saat ini di kisaran Rp 25.000 hingga Rp 26.000 per kilogram.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau harga di kandang Rp 18.500 per kilogram, kami rugi sekitar Rp 4.000 sampai Rp 5.000 per kilogram. Mau bagaimana lagi, tetap harus dijual," keluh Hanief kepada wartawan, Kamis (2/7/2026).
Hanief yang memelihara sekitar 3.500 ekor burung puyuh ini mampu memproduksi rata-rata 3 boks atau setara 35 kilogram telur per hari. Dengan selisih harga tersebut, ia harus menelan pil pahit menderita kerugian Rp 140.000 hingga Rp 175.000 setiap harinya.
Padahal dalam kondisi normal, harga telur puyuh idealnya bertengger di angka Rp 28.000 hingga Rp 30.000 per kilogram agar peternak bisa mengantongi keuntungan.
Hanief menceritakan, harga telur puyuh sebenarnya sempat meroket hingga Rp 40.000 per kilogram pasca Hari Raya Idul Adha dan bertahan selama tiga pekan. Namun, tingginya harga itu justru menjadi bumerang karena membuat banyak warga mendadak ikut-ikutan beternak puyuh.
"Harga Rp 40.000 itu sebenarnya sangat jarang terjadi karena terlalu mahal. Banyak orang akhirnya ikut beternak puyuh. Sekarang produksinya berlebih, sehingga harga malah anjlok," bebernya.
Situasi kian diperparah dengan momen libur sekolah. Hanief menyebut, serapan terbesar telur puyuh selama ini berada di kantin-kantin sekolah dan penjual jajanan anak sekolah.
"Kalau anak-anak libur sekolah, penjual jajanan juga banyak yang libur. Jadi yang tersisa hanya konsumsi rumah tangga. Program makan bergizi juga kalau libur saya rasa ikut berpengaruh karena telur puyuh banyak peminatnya di sekolah," imbuhnya.
Tak hanya itu, faktor musiman seperti masuknya bulan Suro dalam penanggalan Jawa juga ikut andil. Pada bulan ini, jumlah hajatan atau pesta di masyarakat menurun drastis, yang otomatis memangkas angka konsumsi telur puyuh.
Hantaman bagi peternak lokal Batu makin berat lantaran pasar Malang Raya kini dibanjiri pasokan telur puyuh dari daerah Blitar.
Hanief menjelaskan, pengurangan volume pengiriman telur puyuh dari Blitar ke Jakarta membuat para distributor mengalihkan barangnya ke wilayah Malang dan sekitarnya.
"Ada telur puyuh dari Blitar masuk ke Malang. Karena kiriman ke Jakarta berkurang, akhirnya overproduction di Malang dan harga jadi semakin rendah," jelas Hanief.
Ia hanya bisa berharap agar harga telur puyuh di pasaran bisa segera stabil dan kembali di atas nilai HPP. Jika tren penurunan ini terus berlanjut tanpa ada intervensi, ia khawatir banyak peternak puyuh di Kota Batu yang gulung tikar.
"Harapan kami yang penting harganya di atas HPP, agar kita peternak tidak terus-menerus rugi," tandasnya.
