Sudah 5 Bulan MinyaKita Langka di Pasar Porong Sidoarjo

Sudah 5 Bulan MinyaKita Langka di Pasar Porong Sidoarjo

Suparno - detikJatim
Selasa, 03 Mar 2026 13:20 WIB
Ilustrasi MinyaKita di Pasar Porong Sidoarjo
Ilustrasi MinyaKita di Pasar Porong Sidoarjo/Foto: Suparno/detikJatim
Sidoarjo -

Minyak goreng bersubsidi merek Minyakita dilaporkan langka di Pasar Baru Porong, Sidoarjo. Para pedagang mengaku sudah sekitar lima hingga enam bulan terakhir kesulitan mendapatkan pasokan secara rutin.

Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Baru Porong, Syaiful mengatakan, stok Minyakita hampir tidak pernah tersedia di lapak pedagang. Kalaupun ada, jumlahnya sangat terbatas dan tidak mencukupi kebutuhan pasar.

"Hampir lima sampai enam bulan Minyakita itu susah didapat. Kalau pun ada, tidak rutin. Datangnya sebulan sekali, itu pun langsung habis dalam beberapa hari," kata Syaiful kepada detikJatim, Selasa (3/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, saat ada operasi pasar sebelumnya, distribusi dilakukan dengan sistem pembagian ke sekitar 50 pedagang. Masing-masing hanya mendapat beberapa dus dan langsung ludes karena tingginya permintaan.

ADVERTISEMENT

"Permintaan pembeli banyak sekali. Dulu pernah ada operasi pasar, dibagi rata, tapi cuma cukup beberapa hari. Setelah itu kosong lagi," ujarnya.

Syaiful menjelaskan, harga eceran tertinggi (HET) Minyakita yang dianjurkan pemerintah sebesar Rp 15.700 per liter. Namun, karena pasokan tidak stabil, pedagang terpaksa membeli dari luar pasar dengan harga lebih tinggi.

"Kalau kami dapat sesuai aturan, ya harus jual Rp 15.700 per liter. Tapi kalau belinya sudah mahal dari luar, otomatis harga di lapak juga ikut naik. Sekarang ada yang jual per dus sampai Rp 217 ribu sampai Rp 220 ribu, padahal normalnya sekitar Rp 174 ribu," jelasnya.

Ia menyebutkan, sejumlah pedagang kini sedang mengurus Nomor Induk Berusaha (NIB) dan NPWP sebagai syarat agar bisa memesan Minyakita secara mandiri melalui program dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag).

"Katanya yang bisa order harus punya NIB dan NPWP. Ini masih proses. Tidak semua pedagang berani ikut karena khawatir soal administrasi pajak," tambahnya.
Syaiful berharap pemerintah, termasuk distributor seperti Perum Bulog, bisa memastikan distribusi berjalan rutin dan merata.

"Harapan kami simpel, pasokan itu rutin minimal dua minggu sekali atau sebulan sekali. Jangan sampai kosong berbulan-bulan seperti ini," tegasnya.

Sementara itu, salah satu pedagang, Arifin (55), mengaku terakhir mendapat pasokan sebelum Ramadan. Saat itu ia memperoleh empat dus Minyakita, masing-masing berisi kemasan 1 liter dan 2 liter.

"Waktu itu harga eceran Rp 14.500 per liter dan Rp 29 ribu untuk kemasan 2 liter. Biasanya pasokan dari Bulog, dan Minyakita memang paling laris dibanding merek lain," kata Arifin.

Sebagai perbandingan, minyak goreng merek lain dijual lebih mahal. Salah satu merek mencapai Rp 23 ribu per liter. Sementara minyak goreng curah dijual sekitar Rp 21 ribu per kilogram. Arifin berharap distribusi Minyakita bisa kembali normal dan berkelanjutan.

"Kami berharap minimal seminggu sekali ada pasokan. Setidaknya tiap pedagang dapat enam dus, tiga dus kemasan 1 liter dan tiga dus kemasan 2 liter. Kami juga sudah mengurus NIB sesuai persyaratan," pungkasnya.




(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads