Agen Telur Rungkut, Surabaya yang sejak 2008 lahir hanya dengan satu karyawan, kini telah memberdayakan puluhan pekerja bahkan yang sudah berusia lanjut usia (lansia). Berawal dari penjual telur ayam kampung, kini semakin dikenal dengan inovasi telur asin bakar menggunakan bonggol jagung.
"Kita nggak ada niat awalnya buat bikin. Karena ada tender datang, jadi kita termotivasi. Drumnya pakai drum bekas yang dibentuk sama tukang," ujar pemilik usaha, Lala, Sabtu (29/11/2025).
Penggunaan bonggol jagung sebagai bahan bakar awalnya diperoleh dari petani sekitar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Telur asin bakar yang diproduksi pakai bonggol jagung di Surabaya Foto: Chilyah Aulia/detikJatim |
"Karyawan kita dikasih orang. Jagungnya dipakai, bonggolnya dibuang. Ternyata bisa diolah dan baunya beda, lebih enak dan wangi daripada pakai arang," kata Lala.
Menurutnya, aroma asap dari bonggol jagung lebih netral dan tidak sekuat arang, sehingga lebih diterima konsumen.
Namun, penggunaan bonggol jagung menyisakan tantangan. Pada musim hujan, bahan itu sulit kering sehingga sebagian yang dijual masih lembap. Seiring meningkatnya permintaan, mesin produksi mereka pun harus berkembang dari satu menjadi tiga unit.
Berbeda dari kebanyakan telur asin yang dikirim dari Brebes, proses pembakaran di agen telur rungkut hanya dilakukan melalui gudang milik mereka sendiri, di Kediri. Tidak diupayakan di Surabaya, karena asapnya akan mengganggu lingkungan warga.
Agen Telur Rungkut juga memproses telur tawar menjadi telur asin sendiri. Semua pengolahan dilakukan mandiri, karena kondisi telur bebek yang lebih cepat rusak.
Isna, salah satu karyawati, menjelaskan proses awal.
"Direndam dulu selama ini pakai pasir sekam. Delapan belas hari supaya asin. Lebih cepat pakai air garam. tetapi yang pakai pasir sekam lebih awet." katanya.
Varian telur asin hijau, prosesnya cukup direbus. Namun untuk telur asin bakar, tahapannya lebih panjang, yakni direbus dulu, kemudian diasap sambil dibolak-balik. Bila gagal, kematangannya tidak merata dan memengaruhi keputusan konsumen. Dari warna biru menjadi coklat menarik.
Telur asin bakar yang diproduksi pakai bonggol jagung di Surabaya Foto: Chilyah Aulia/detikJatim |
Inovasi lain mereka adalah menjual kuning telur frozen, baik mentah maupun matang, yang banyak dipakai untuk menu salted egg di restoran. Namun produk ini belum memakai brand karena pengurusan label kadaluwarsa masih dianggap rumit. Jasa masak juga terhitung mahal.
Proses memasak telur asin bakar berlangsung sangat lama, mulai pukul 07.00 WIB pagi hingga malam hari. Isya pun belum matang, jam 9 baru jadi. Harga telur seringkali tidak stabil. Kalau lagi ekstrem, harga pagi, siang, dan sore akan berbeda.
Meski begitu, pasar mereka cukup luas, termasuk restoran nasi kebuli hingga penjual nasi bakar yang langganan memakai telur asin sebagai isian.
Salah satu owner, Rony menambahkan alasan ilmiah di balik ketahanan telur asin bakar. Proses perebusan membuat air di dalam telur bercampur dengan panas, dan saat diasap, air itu menguap.
"Kandungannya turun, jadi lebih kering dan awet. Yang bikin rusak itu kalau masih ada airnya," jelasnya sambil menunjukkan contoh.
Untuk harganya, telur bakar seharga Rp 3.200, lalu telur asin Rp 3.000, telur bebek seharga Rp 2.500 dan telur kampung tembean Rp 2.000. Harga ini harga grosir dengan minimal pembelian 30 butir untuk 1 macam.
Banyak pelanggan yang salah mengira. Realitanya yang bagus itu dalamnya masih lembut seperti agar-agar. Kalau sudah kasar berarti lama.
"Harapannya, Agen Telur Rungkut kelak dapat mengembangkan produk menjadi oleh-oleh khas Surabaya, dengan kemasan yang lebih aman dan layak jual." pungkas Rony.
Simak Video "Upaya Eri Cahyadi Menggaet Turis lewat "Surabaya Holiday Super Sale""
[Gambas:Video 20detik]
(irb/hil)













































