Ratusan Santri Ponpes Manbaul Hikam Diliburkan Buntut Keracunan MBG

Ratusan Santri Ponpes Manbaul Hikam Diliburkan Buntut Keracunan MBG

Suparno - detikJatim
Sabtu, 05 Sep 2026 13:00 WIB
Santriwati Ponpes Manbaul Hikam Sidoarjo yang mengalami gejala keracunan akibat MBG.
Santriwati Ponpes Manbaul Hikam Sidoarjo yang mengalami gejala keracunan akibat MBG.(Foto: Suparno/detikJatim)
Sidoarjo -

Ratusan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Manbaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, diliburkan sementara setelah mengalami keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG). Para santri dijadwalkan kembali mengikuti kegiatan belajar pada Senin (7/9/2026).

Pengasuh Ponpes Manbaul Hikam KH Abdul Wahid Harun mengatakan, masa libur para santri akan berakhir pada Minggu (6/9/2026). Seluruh santri yang kondisinya telah membaik akan kembali menjalani aktivitas belajar seperti biasa keesokan harinya.

"Liburnya sampai Minggu. Senin sudah mulai kegiatan belajar lagi," kata KH Abdul Wahid Harun kepada wartawan, Sabtu (5/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, tidak seluruh santri langsung kembali ke pondok. Sebanyak 22 santri masih menjalani perawatan dan pemulihan di sembilan rumah sakit.

ADVERTISEMENT

Menurut KH Abdul Wahid, para santri yang masih menjalani perawatan akan diantar pulang setelah kondisi mereka memungkinkan. Pihak pondok juga akan terus memantau kondisi kesehatan mereka.

"Masih ada 22 santri yang dirawat di sembilan rumah sakit. Nanti akan diantar pulang dan tetap kami pantau kondisinya," ujarnya.

Pasca-kejadian tersebut, pihak Ponpes Manbaul Hikam juga tengah menyiapkan skema baru terkait penyaluran MBG. Pengasuh pondok mengaku telah berkonsultasi dengan staf khusus Wakil Presiden mengenai kemungkinan pengelolaan MBG dilakukan secara internal oleh pihak pondok.

KH Abdul Wahid mengatakan, konsep yang diusulkan adalah pengelolaan seperti yang diterapkan di Malaysia dan Singapura. Dana program disalurkan kepada lembaga penerima, sedangkan proses pengelolaan makanan dilakukan sendiri oleh pihak pondok.

"Sudah konsultasi dengan staf khusus Wapres. Responsnya positif. Konsepnya seperti di Malaysia dan Singapura, dana disalurkan ke lembaga, kemudian pengelolaannya dilakukan sendiri oleh pondok," jelasnya.

Dengan skema tersebut, pondok tidak lagi menerima makanan yang diproduksi dan dikirim dari pihak eksternal. Pengelolaan secara internal dinilai dapat memberikan kendali lebih besar terhadap kualitas bahan, proses memasak hingga makanan dikonsumsi santri.

KH Abdul Wahid menyebut salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah jeda waktu antara makanan selesai dimasak hingga dikonsumsi para santri.

Jumlah porsi yang harus disiapkan dalam jumlah besar juga menjadi tantangan tersendiri. Dalam sehari, kebutuhan makanan di lingkungan pondok mencapai sekitar 2.500-2.830 porsi.

Karena itu, apabila pengelolaan dilakukan sendiri, makanan diharapkan dapat dimasak dalam jumlah terukur dan langsung dikonsumsi oleh santri.

"Masalah sebelumnya itu karena jeda waktunya terlalu lama antara pemasakan sampai konsumsi. Apalagi jumlahnya besar, sekitar 2.500 sampai 2.830 porsi," katanya.

"Kalau dikelola sendiri, porsinya bisa terukur, masak langsung konsumsi. Risikonya bisa diminimalkan," imbuhnya.

Meski demikian, keputusan teknis mengenai mekanisme penyaluran dana, pembagian tugas, serta pelaksanaan pengelolaan MBG secara internal masih akan dibahas lebih lanjut.

KH Abdul Wahid juga menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah pusat, khususnya setelah staf khusus kepresidenan datang langsung ke Ponpes Manbaul Hikam untuk melihat kondisi pondok dan para santri. Menurutnya, kunjungan tersebut menunjukkan kepedulian serta respons cepat pemerintah terhadap kejadian yang dialami para santri.

"Kami sangat berterima kasih atas perhatian dari pemerintah, terutama staf khusus kepresidenan yang datang langsung ke pondok. Ini menunjukkan kepedulian dan respons yang cepat," tuturnya.

Ia berharap kejadian serupa tidak kembali terjadi. Menurutnya, program MBG merupakan program yang baik sehingga persoalan dalam proses pelaksanaannya tidak sampai mencoreng tujuan program tersebut.

"Harapannya tentu kejadian seperti ini tidak terulang. Programnya baik, jangan sampai ternoda karena kelalaian dalam proses," ujarnya.

KH Abdul Wahid juga memandang peristiwa tersebut sebagai sebuah ujian bagi Ponpes Manbaul Hikam. Ia berharap kejadian tersebut justru menjadi momentum bagi pondok untuk melakukan pembenahan dan meningkatkan kualitas pengelolaan.

"Ini menjadi ujian bagi kami. Mudah-mudahan dari kejadian ini pondok semakin dikenal dan bisa naik kelas," pungkasnya.



(irb/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads