Rendra Kurnia memilih masuk ke kawasan hutan Taman Nasional Baluran saat wisatawan lain bergegas pulang menjelang malam. Keputusannya menyusuri rimba seorang diri untuk merekam satwa liar sempat dianggap nekat, bahkan membuatnya dicap gila.
Namun, konsistensinya sebagai fotografer alam liar atau wildlife photographer justru membuahkan hasil. Rendra berhasil mendokumentasikan sejumlah satwa liar, termasuk Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas), hingga karyanya dilirik National Geographic (Nat Geo).
Berkat kontribusinya dalam pengambilan gambar Macan Tutul Jawa di hutan Baluran, Rendra juga diundang sebagai tamu kehormatan dalam penayangan perdana sebuah film dokumenter di Innsbruck, Austria.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelum menekuni fotografi satwa liar, Rendra memulai kariernya di dunia fotografi pernikahan dan komersial modelling. Persaingan yang semakin ketat membuatnya mencari bidang lain yang saat itu masih belum banyak digeluti fotografer.
Ia kemudian memilih mendokumentasikan kekayaan satwa Indonesia. Bagi Rendra, kamera menjadi salah satu cara untuk mengabadikan keberadaan satwa-satwa yang populasinya terus terancam.
"Alasan yang mendasar itu satwa di Indonesia ini kan banyak jenisnya. Kalau sebagian kan sudah bisa dikatakan hampir habis, baik burung maupun yang lain. Mumpung ini belum habis, lebih baik kita dokumentasikan agar penerus-penerus kita tahu bahwa ketika satwa ini punah, oh pernah ada di Indonesia," ujar Rendra mengingat motivasi utamanya, Kamis (13/8/2026).
Perhatiannya kemudian tertuju pada Macan Tutul Jawa. Predator tersebut masih menyisakan jejak di sejumlah kawasan hutan di Jawa Timur, seperti Baluran, Alas Purwo, hingga kawasan Ijen.
Perjalanan Rendra mendokumentasikan Macan Tutul Jawa dimulai sejak 2007. Saat itu, ia sempat menjumpai satwa tersebut, namun keterbatasan peralatan membuat hasil dokumentasinya belum maksimal.
Rendra pun terus melakukan pemetaan lokasi dan mempelajari pergerakan Macan Tutul Jawa di Baluran. Memasuki 2011, ia semakin intens mendatangi titik-titik yang dinilai berpotensi menjadi jalur perlintasan predator tersebut.
Setelah lebih dari satu dekade melakukan pengamatan dan pemetaan, Rendra akhirnya berhasil mendapatkan gambar Macan Tutul Jawa pada 2018 dengan peralatan yang lebih memadai.
"Dari tahun 2007 hingga 2018 itu saya hanya mendata di lokasi-lokasi mana yang di Baluran mudah dijumpai. Banyak yang bilang saya gila. Wisatawan sore sudah keluar, saya kok malah masuk sendiri," tuturnya diselingi tawa.
Eksplorasi Rendra tak hanya dilakukan di Baluran. Ia juga menyusuri kawasan Kawah Ijen dan Alas Purwo untuk merekam keberadaan Macan Tutul Jawa, termasuk variasi Macan Kumbang atau Macan Tutul Jawa.
Namun, medan dan kondisi alam menjadi tantangan tersendiri. Di kawasan Ijen, kabut tebal yang kerap turun pada sore hari membuat proses pengambilan gambar menjadi lebih sulit.
"Macan ini nokturnal, keluarnya malam. Kalau di Ijen sore sudah kabut tebal, jadi kita tidak bisa ambil titik fokus yang jelas. Beda dengan Baluran, saat musim kemarau kawasannya kering, sehingga kita bisa dapat gambar yang clear tanpa terhalang semak-semak," jelasnya.
Berada seorang diri di tengah hutan pada malam hari juga menghadirkan berbagai pengalaman bagi Rendra. Meski demikian, ia mengatakan Macan Tutul Jawa cenderung pemalu dan menghindari kontak langsung dengan manusia.
Rendra mengaku lebih banyak mendapat pengalaman tak biasa dari suasana hutan pada malam hari. Salah satunya saat mendengar suara menyerupai alunan musik dan nyanyian di tengah sunyinya kawasan Baluran.
"Kalau diterkam enggak sih, tapi kalau dengar suara-suara, nyanyian kayak musik gitu pernah, karena kondisinya malam," ungkap Rendra santai merujuk pada reputasi mistis hutan-hutan tua di Jawa Timur.
Pengalaman lain dialaminya saat berada di Alas Purwo bersama petugas ranger. Rendra mengaku pernah menyaksikan langsung seekor induk Macan Tutul Jawa berjalan bersama dua anaknya.
Dari pengamatannya selama bertahun-tahun, Rendra menilai populasi Macan Tutul Jawa di Baluran masih cukup stabil. Ia juga mencatat individu yang berhasil direkamnya kerap berbeda dari tahun ke tahun karena sifat teritorial satwa tersebut.
"Di Baluran teritorialnya bergeser, kalau ada pesaing lain ya dia pindah tempat. Untuk pakan, di sana mereka tidak kanibal. Rantai makanannya lebih banyak mengincar lutung, landak, ayam hutan, dan kadang juga burung merak," papar Rendra.
Melalui lensa kameranya, Rendra berupaya mendokumentasikan keberadaan satwa liar Indonesia, terutama spesies yang populasinya terancam. Perjalanan panjangnya menyusuri hutan-hutan di Jawa Timur pun kini membawa rekaman Macan Tutul Jawa hingga ke panggung internasional.
