Konsep penataan pesisir berkelanjutan di Kampung Nelayan Merah Putih, Kelurahan Lateng, Kabupaten Banyuwangi sukses mencuri perhatian internasional. Keberhasilan program pemberdayaan dan hilirisasi perikanan di kawasan ini menuai pujian mendalam dari delegasi ASEAN-ID Blue yang melakukan kunjungan lapangan langsung ke lokasi tersebut.
Kawasan pesisir yang kini tertata rapi dan berbasis ekonomi mandiri ini dinilai menjadi salah satu cetak biru (blueprint) terbaik dalam memadukan konservasi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat nelayan.
Salah seorang delegasi dari Fiji yang sekaligus menjabat sebagai Economy and Political Officer Fiji Leone Bainivanua mewakili duta besar Fiji mengungkapkan bahwa model integrasi yang diterapkan di Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) itu merupakan terobosan baru yang belum pernah ada di negaranya. Dampak positifnya yang langsung menyentuh kesejahteraan masyarakat membuat Duta Besar Fiji berencana mengadopsi konsep serupa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setelah kunjungan hari ini, karena di Fiji belum ada yang seperti ini. Jadi, dari Pak Dubes sendiri, beliau punya mimpi untuk membangun hal yang sama seperti ini di Fiji. Dari masukan Pak Dubes, tempatnya sangat bagus dan sangat membantu masyarakat di sini, di kampung nelayan," ujar Leoni, Jumat (17/7/2026).
Selain terkesan dengan tata kelola perkampungan, Leoni memaparkan bahwa Fiji saat ini tengah menghadapi tantangan penurunan produksi rumput laut akibat pembangunan berkelanjutan (sustainable development) yang belum berjalan optimal. Momentum kunjungan ini diharapkan menjadi pintu gerbang kolaborasi yang lebih erat dengan Indonesia.
"Ini sangat bagus sekali. Karena walaupun ada kerja sama antara Indonesia dan Fiji di bidang rumput laut, untuk saat ini produksi rumput laut di Fiji semakin turun lagi karena sustainable development-nya belum begitu baik atau tidak dilanjutkan. Jadi, kami sedang mencari cara untuk bekerja sama lagi dengan Indonesia guna membangun infrastrukturnya, khususnya untuk pengembangan seaweed(rumput laut)," tambahnya.
Keberhasilan Kampung Nelayan Merah Putih tidak lepas dari perubahan strategi ekonomi yang radikal.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Banyuwangi Suryono Bintang Samudra mengungkapkan, pemerintah daerah kini menggeser fokus dari yang awalnya hanya berorientasi pada peningkatan produksi kini kemarau hilirisasi.
Strategi ini terbukti ampuh mendongkrak nilai tambah (value) dan menjaga stabilitas harga jual produk perikanan. Dalam ekosistem ini, hasil tangkapan nelayan tidak lagi dilempar ke rantai pasar yang panjang dan merugikan, melainkan dikelola langsung secara kolektif.
"Jadi ada semacam segmen usaha yang harus kita lakukan sehingga mempunyai nilai jual yang bagus. Harga nelayan ini diterima, jadi dengan tergabung dalam koperasi, dengan ikan-ikannya bisa diterima sama warung-warung kuliner dengan harga yang bagus. Jadi nilai tambahnya akan naik. Ini diolah, kita ciptakan pasar, sehingga tidak jauh ke mana-mana. Jadi kebutuhan ini hanya habis untuk kebutuhan lokal," terang Suryono.
Yang tak kalah penting menurut Suryono, pembangunan kawasan Lateng bertumpu pada Pilar Blue Economy yang digagas oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Langkah taktis ini juga diklaim selaras dengan peogram Asta Cita Presiden RI, khususnya dalam memperkuat ketahanan pangan dan penyediaan bahan baku pangan mandiri. Dengan mengintegrasikan kampung nelayan ke dalam kawasan wisata, Lateng kini menjelma menjadi destinasi wisata kuliner perikanan unggulan yang mampu mendongkrak ekonomi pesisir Banyuwangi sekaligus menjadi percontohan di mata dunia.
