Gawai untuk Anak Dibatasi? Temukan Alternatif Aktivitas Menarik!

Gawai untuk Anak Dibatasi? Temukan Alternatif Aktivitas Menarik!

Anastasia Trifena - detikJatim
Senin, 20 Apr 2026 21:40 WIB
Affan Haritsah, 11, Daffa Ibnu Alkhalifi, 12, and Kevin Prince, 14, use their phones, as Indonesias communications and digital information ministry implements restrictions against
Ilustrasi Anak Main Gadget (Foto: REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)
Surabaya -

Pembatasan penggunaan gawai dan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun mulai diberlakukan pemerintah sejak 28 Maret 2026. Kebijakan ini menjadi langkah tegas untuk melindungi anak dari berbagai risiko di dunia digital seperti paparan konten tidak layak hingga ancaman perundungan siber yang kian marak.

Seiring penerapan aturan tersebut, sekolah dan orang tua juga didorong untuk memperketat pengawasan penggunaan gadget pada anak. Sejumlah sekolah bahkan mulai membatasi penggunaan ponsel selama jam belajar. Tujuannya agar fokus siswa tetap terjaga dan lingkungan pendidikan yang lebih kondusif tercipta.

Namun, pembatasan tersebut bukan berarti merampas ruang untuk anak dapat belajar dan berekspresi. Justru kondisi ini bisa dimanfaatkan untuk mengarahkan anak pada aktivitas yang lebih positif sekaligus mengenalkan platform digital yang aman dan ramah anak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dampak Gadget Berlebih

Perkembangan teknologi membuat gadget semakin mudah diakses oleh berbagai kalangan, termasuk anak-anak. Kehadiran perangkat ini memang membawa sejumlah manfaat, seperti membantu proses belajar, mengenalkan bahasa asing, hingga melatih kemampuan kognitif melalui berbagai aplikasi edukatif.

Namun di sisi lain, penggunaan gadget yang berlebihan justru bisa menjadi bumerang bagi tumbuh kembang anak. Melansir dari laman Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, gadget yang digunakan tanpa pengawasan dapat menghambat perkembangan motorik, kemampuan sosial, hingga menurunkan daya konsentrasi anak.

ADVERTISEMENT

Tak hanya itu, anak yang sudah kecanduan gadget cenderung lebih memilih menyendiri, sulit berinteraksi dengan lingkungan sekitar, hingga berisiko mengalami gangguan kesehatan seperti obesitas dan masalah perilaku. Kondisi ini yang kemudian mendorong pentingnya pembatasan penggunaan gadget sekaligus mengalihkan perhatian anak pada aktivitas yang lebih sehat dan menyenangkan.

Alternatif Kegiatan Anak

Lantas, apa saja alternatif aktivitas yang bisa dilakukan anak tanpa bergantung pada gadget?

1. Bermain di Luar Rumah

Mengajak anak bermain di luar rumah seperti bersepeda, bermain bola, atau sekadar berlari di taman dapat membantu meningkatkan aktivitas fisik sekaligus kemampuan sosialnya. Selain menyehatkan tubuh, aktivitas ini juga mendorong anak untuk berinteraksi dengan teman sebaya sehingga tidak tumbuh menjadi pribadi yang cenderung menyendiri akibat terlalu sering bermain gadget.

2. Menggambar dan Mewarnai

Aktivitas sederhana seperti menggambar atau mewarnai dapat menjadi alternatif yang efektif untuk mengalihkan perhatian anak dari layar. Kegiatan ini mampu melatih kreativitas, imajinasi, serta kemampuan motorik halus anak tanpa perlu bantuan teknologi.

3. Membaca Buku Cerita

Membiasakan anak membaca buku sejak dini bisa menjadi pengganti waktu layar yang lebih bermanfaat. Selain menambah wawasan, membaca juga membantu meningkatkan konsentrasi dan kemampuan bahasa anak, yang justru bisa menurun jika terlalu sering terpapar gadget.

4. Bermain Puzzle dan Mainan Edukatif

Permainan seperti puzzle, balok, atau mainan peran dapat melatih kemampuan berpikir dan problem solving anak. Aktivitas ini juga membantu perkembangan kognitif sekaligus memberikan stimulasi yang sehat tanpa ketergantungan pada gadget.

5. Berkegiatan Bersama Orang Tua

Melibatkan anak dalam aktivitas bersama seperti memasak, berkebun, atau membersihkan rumah bisa menjadi cara efektif untuk mengurangi penggunaan gadget. Selain mempererat hubungan, kegiatan ini juga mengajarkan tanggung jawab serta keterampilan hidup sejak dini.

Platform Digital Ramah Anak

Meski dibatasi, anak tidak bisa sepenuhnya dilepaskan dari dunia digital yang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, baik untuk hiburan maupun proses belajar.

Karena itu, pendekatan yang dilakukan tidak semata soal melarang, tetapi juga mengarahkan. Melansir dari laman Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, pemerintah melalui kebijakan Tata Kelola untuk Anak Aman dan Sehat Digital (TUNAS) mendorong terciptanya ruang digital yang aman, sehat, dan ramah bagi anak.

Kebijakan ini menekankan pentingnya peran platform digital dalam menyediakan fitur perlindungan anak, mulai dari pembatasan usia, kontrol orang tua, hingga penyaringan konten. Dengan begitu, anak tetap bisa memanfaatkan teknologi secara positif tanpa terpapar risiko yang berbahaya.

Sejumlah platform pun kini menghadirkan layanan khusus anak yang lebih aman dan terkontrol. Lantas, apa saja platform ramah anak yang bisa menjadi alternatif?

1. Youtube Kids

YouTube Kids merupakan platform video yang dirancang khusus untuk anak-anak dengan lingkungan yang lebih aman dan terkontrol. Aplikasi ini memungkinkan anak menjelajah berbagai konten secara mandiri, namun tetap dalam pengawasan orang tua. Untuk menjaga keamanan, YouTube Kids menggunakan kombinasi filter otomatis, peninjauan manual, serta masukan dari orang tua agar video yang ditampilkan tetap ramah keluarga.

Selain itu, YouTube Kids juga dilengkapi berbagai fitur pendukung seperti pengaturan level konten berdasarkan usia, pembatasan waktu menonton (timer), hingga opsi memblokir video tertentu. Orang tua juga bisa menyesuaikan pengalaman anak dengan memilih konten yang diizinkan, sehingga membantu membangun kebiasaan digital yang lebih sehat sekaligus tetap memberikan hiburan dan edukasi bagi anak.

2. Roblox

Roblox juga tak mau kalah dalam menghadirkan ruang digital yang lebih aman bagi anak. Aplikasi permainan ini baru-baru saja menghadirkan sistem akun berbasis usia, yakni Roblox Kids untuk anak usia 5-8 tahun dan Roblox Select untuk usia 9-15 tahun. Melalui sistem ini, akses konten disesuaikan dengan tingkat kematangan, sehingga anak hanya bisa memainkan game yang telah dikurasi sesuai usianya.

Tak hanya itu, Roblox juga memperkuat fitur keamanan dengan verifikasi usia, moderasi konten berkelanjutan, serta kontrol orang tua yang lebih luas. Pada akun anak usia kecil, fitur komunikasi bahkan dinonaktifkan secara default, sementara orang tua dapat mengatur akses game, membatasi interaksi, hingga memantau aktivitas anak.

3. Duolingo

Siapa bilang Duolingo hanya untuk orang dewasa? Aplikasi ini juga bisa jadi alternatif pembelajaran yang seru untuk anak karena dikemas seperti permainan, lengkap dengan level, poin, dan tantangan yang bikin belajar terasa menyenangkan.

Lewat fitur interaktifnya, anak bisa belajar kosakata, mendengar pelafalan, hingga latihan membaca dengan cara yang tidak membosankan. Bahkan, tersedia juga versi khusus anak seperti Duolingo ABC yang membantu melatih kemampuan literasi dasar. Dengan pendampingan orang tua, Duolingo bisa jadi pilihan platform digital yang aman sekaligus produktif untuk mengisi waktu layar anak.

Itu dia beberapa alternatif kegiatan untuk anak serta platform yang ramah anak agar terhindar dari penggunaan gadget yang berlebih. Semoga bermanfaat!




(ihc/irb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads