Libur lebaran yang identik dengan momen mudik dan berkumpul bersama keluarga tak dirasakan oleh semua orang. Di tengah padatnya arus penumpang, sejumlah porter di Stasiun Gubeng Baru Surabaya justru tetap setia bekerja, membantu para pemudik hingga rela mengorbankan waktunya untuk pulang ke kampung halaman.
Salah satunya adalah Ketua Porter Tim Nomor Kecil Mustain Susilo (49) perantau asal Mojokerto. Lebih dari 30 tahun tepatnya sejak Juni 1992, Mustain mengabdikan diri di Stasiun Gubeng sebagai porter ketika dirinya tidak tamat bangku SMA.
Di momen Lebaran tahun ini, Mustain hanya mengambil libur satu hari. Selebihnya, ia tetap bertugas melayani lonjakan penumpang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Lebaran tahun ini saya hanya libur pada 23 Maret. Setiap tahun, saya tidak pernah libur saat hari-H Lebaran. Kebetulan orang tua saya di Mojokerto sudah tidak ada sehingga pagi harinya tetap melaksanakan salat Id bersama anak-istri di sini karena rumah saya juga berada di kawasan Gubeng," ujar Porter Nomor 13 itu ketika ditemui detikJatim, Selasa (4/3/2026).
Menurutnya, keputusan tersebut diambil karena Lebaran justru menjadi waktu paling ramai, sehingga peluang mendapatkan penghasilan lebih besar. Berbeda dengan saat bulan Ramadan, sepinya penumpang yang membutuhkan jasa porter menjadikan penghasilan yang didapat sangat minim jika dibandingkan dengan arus balik.
"Teman-teman itu kan juga banyak yang puasa sedangkan anak istri mereka termasuk saya juga nunggu untuk hari raya. Mau ga mau, ya gitu lah. Ada Bank Mekar yang nunggu di rumah," tutur Mustain.
Selama periode arus mudik hingga balik, jumlah penumpang yang membutuhkan jasa porter meningkat signifikan. Dalam sistem kerja 24 jam untuk satu shift, ia bersama 26 porter lainnya berbagi penumpang secara merata sehingga mereka semua mendapatkan penghasilan secara adil.
Dalam sehari, Mustain mengaku bisa memperoleh sekitar Rp 200.000 atau lebih, tergantung jumlah penumpang dan besaran upah sukarela yang diberikan. Ia menekankan bahwa pendapatan porter sepenuhnya berasal dari jasa penumpang.
"Kalau sudah dapat penumpang di area drop-off, setelahnya menunggu di area ruang tengah tempat check-in penumpang. Tapi ya bisa dibilang sisaan karena penumpang kalau sudah masuk ke dalam biasanya menolak porter. Yang terpenting semua porter harus dapat jadi semuanya bisa bawa rezeki pulang ke rumah," jelas Mustain.
Berbeda dengan keberangkatan, Mustain menyebut porter biasanya hanya dapat satu penumpang dari kereta yang datang.
"Kalau kedatangan, kita dipersilakan masuk terlebih dahulu untuk menawarkan jasa porter. Penumpang kan barangkali sudah capek di perjalanan ya, jadi butuh tenaga yang bisa bantu menurunkan koper atau barang bawaan dari rak atas," kata Mustain.
Pendapatan tersebut didapatkan baik secara langsung dengan sukarela maupun aplikasi e-porter. Meski sudah ada aplikasi resmi, Mustain mengaku bahwa porter tidak memaksa sehingga sistem sukarela masih berjalan.
Terdapat kesepakatan dengan rekan-rekannya untuk tidak memaksa penumpang walaupun rezeki yang didapatkan kecil, berbeda dengan tarif aplikasi yang dipatok Rp 38.000.
"Rezeki kita itu tergantung penumpang. Jika kualitas kita ngasih pelayanan bagus, biasanya penumpang memberi lebih," kata Mustain.
Meski harus mengorbankan waktu berkumpul dengan keluarga, Mustain tetap menjaga silaturahmi yaitu menjalin komunikasi dengan kerabatnya melalui panggilan telepon.
Baginya, pengorbanan ini merupakan bagian dari tanggung jawab. Terlebih istri dan anaknya tinggal di Surabaya, sehingga ia tetap bisa berkumpul meski hanya satu hari mudik ke kampung halamannya.
Selama puluhan tahun menjadi porter, Mustain mengaku lebih banyak merasakan suka dibanding duka. Ia merasa senang ketika penumpang terbantu dan memberikan apresiasi dalam besaran apa pun.
"Dari awal saya sudah di Gubeng, tidak pernah pindah ke tempat lain. Sudah cocok dengan teman-teman, kemungkinan semua sudah care sama saya. Sudah nyaman lah, walaupun kita tidak mendapatkan gaji, saya dan teman-teman tetap bersyukur," kata Mustain.
Apalagi sebagai ketua porter, Mustain juga harus menghadapi berbagai situasi di lapangan termasuk potensi kesalahpahaman dengan penumpang. Salah satunya terkait koordinasi barang bawaan yang kurang atau risiko koper tertukar. Kondisi ini kerap terjadi karena penumpang terburu-buru mengejar waktu, sementara arus pergerakan di stasiun harus terus berjalan.
Meski begitu, ia memilih untuk tetap sabar dan ikhlas dalam bekerja. Baginya, pelayanan yang baik menjadi kunci agar penumpang merasa terbantu dan kembali menggunakan jasa porter.
Di balik hiruk pikuk Stasiun Gubeng saat Lebaran, peran para porter seperti Mustain menjadi salah satu penopang kelancaran perjalanan para pemudik. Mereka bukan hanya membantu mengangkut barang, tetapi juga memastikan perjalanan penumpang menjadi lebih nyaman di tengah padatnya aktivitas stasiun.
"Untuk teman-teman porter semua tetap semangat, di rumah ada keluarga yang menunggu nafkah kita. Untuk penumpang, harapannya supaya tetap memakai jasa porter supaya kita juga banyak rezeki," pungkas Mustain.
(auh/hil)
