Senator Lia Sebut Kopdes Merah Putih Jadi Instrumen Ketahanan Bangsa

Senator Lia Sebut Kopdes Merah Putih Jadi Instrumen Ketahanan Bangsa

Aprilia Devi - detikJatim
Selasa, 03 Mar 2026 14:37 WIB
Anggota DPD RI asal Jatim Lia Istifhama
Anggota DPD RI asal Jatim Lia Istifhama (Foto: Istimewa)
Surabaya -

Memanasnya situasi geopolitik global pasca wafatnya Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan udara di Teheran, 1 Maret 2026, memicu perhatian dunia. Dampaknya merembet ke berbagai sektor, termasuk penghentian penerbangan di sejumlah negara Timur Tengah.

Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, turut angkat suara. Ia menyampaikan keprihatinan atas situasi tersebut sekaligus menekankan pentingnya saling menghormati di tengah dinamika global.

"Hal pertama, tentu ini keprihatinan bersama, juga sekaligus kedukaan karena bagaimanapun kita harus menghormati semua agama, termasuk pemimpin agama. Beliau adalah salah satu identitas ulama besar di era kontemporer," ujar Lia, Selasa (3/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Lia, memanasnya geopolitik bukan fenomena baru dalam perjalanan peradaban dunia.

"Peradaban dunia selalu menyajikan keragaman, heterogenitas, dan dinamika sosial yang memungkinkan ruang konflik hingga potensi peperangan. Ini keniscayaan dari perkembangan zaman yang diwarnai perbedaan kepentingan antarbangsa," jelasnya.

ADVERTISEMENT

Meski demikian, senator asal Jatim itu menegaskan Indonesia tak boleh sekadar menjadi penonton situasi global. Ia menilai negara harus fokus memperkuat fondasi internal agar tetap aman dan berdaulat.

Baginya, ketahanan bangsa tak hanya ditentukan kekuatan militer, tetapi juga kemandirian ekonomi yang tumbuh dari akar masyarakat. Penguatan ekonomi kerakyatan, termasuk UMKM dan pemberdayaan masyarakat, dinilai menjadi kunci ketahanan nasional berkelanjutan.

"Yang harus menjadi fokus kita adalah membangun kekuatan dari dalam, memastikan bangsa ini tetap kokoh melalui penguatan ekonomi rakyat dan kearifan lokal," tegasnya.

Lia menilai, ketika ekonomi masyarakat lapisan bawah kuat, stabilitas sosial ikut terjaga. Keluarga mampu memenuhi kebutuhan pendidikan anak, menjaga kesehatan mental, hingga meningkatkan kualitas hidup. Dari unit terkecil inilah ketahanan nasional terbentuk.

Ia pun menyoroti konsep Koperasi Desa Merah Putih sebagai instrumen strategis yang menghubungkan kearifan lokal dengan sistem ekonomi produktif.

"Koperasi bukan hanya lembaga ekonomi, tetapi ruang pemberdayaan yang memperkuat solidaritas dan kemandirian masyarakat. Ketika ekonomi keluarga kuat, maka bangsa ini juga kuat," ungkapnya.

Selain ekonomi, Lia juga menyinggung penguatan sektor pertahanan. Ia menyebut langkah Presiden Prabowo Subianto tepat dalam mendorong penguatan militer hingga tingkat wilayah sebagai strategi yang sejalan dengan konsep ketahanan nasional.

Sinergi antara pertahanan militer dan kemandirian ekonomi, kata dia, akan menciptakan sistem perlindungan negara yang komprehensif.

"Penguatan di tingkat wilayah menunjukkan bahwa pertahanan negara dibangun secara menyeluruh. Ketika ekonomi rakyat kuat dan sistem pertahanan kokoh, Indonesia memiliki daya tahan tinggi menghadapi dinamika global," tegasnya.

Lia menambahkan, Indonesia memang tak bisa menghindari dampak situasi global. Namun, bangsa ini memiliki modal besar berupa kearifan lokal, kekuatan sosial, dan semangat gotong royong sebagai tameng menghadapi krisis.

"Ketahanan bangsa bukan hanya soal menghadapi ancaman dari luar, tetapi memastikan rakyat hidup sejahtera, mandiri, dan memiliki rasa aman dalam segala aspek kehidupan," pungkasnya.



(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads