Jembatan Porong di Sidoarjo menyimpan jejak sejarah panjang sejak era kolonial Belanda. Jembatan ini menjadi penopang utama mobilitas dan perekonomian masyarakat Sidoarjo dan Pasuruan hingga sekarang.
Infrastruktur jembatan ini membentang di atas Sungai Porong yang merupakan terusan Sungai Brantas dan menjadi batas alami Sidoarjo dengan Pasurua. Jembatan ini dikenal sebagai akses vital jalur Surabaya menuju Pasuruan dan Malang.
Selain perannya dalam transportasi darat, kawasan jembatan ini juga kerap menjadi titik favorit warga untuk menikmati panorama Gunung Arjuna serta fenomena alam musiman berupa kemunculan jutaan laron.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jejak Sejarah Jembatan Porong Sejak Era Kolonial
Salah satu penggiat sejarah Sidoarjo, Dr Sudi Harjanto menjelaskan bahwa keberadaan jembatan di atas Sungai Porong ini tak lepas dari kepentingan ekonomi kolonial Belanda.
"Dari catatan sejarah, jembatan kereta api di atas Sungai Porong sudah dibangun pada 1875 pada masa Hindia Belanda. Sementara jembatan darat diperkirakan dibangun lebih awal, meski tahun pastinya belum diketahui," kata Sudi saat ditemui detikJatim, Senin (9/2).
Menurutnya, pembangunan jembatan saat itu erat kaitannya dengan kelancaran distribusi hasil perkebunan, terutama tebu, yang menjadi komoditas utama di wilayah Sidoarjo.
"Belanda juga merekayasa aliran Kali Porong pada 1920-an untuk mendukung industri gula dan tambak. Jadi kawasan ini memang sejak dulu dirancang sebagai penopang kegiatan ekonomi," imbuh Sudi.
Mulanya Hanya Ada 1 Jembatan
Menurut Warga Porong, Triono (59), pada mulanya hanya ada satu jembatan yang berada di sisi barat Sungai Porong. Satu-satunya jembatan itu menjadi begitu padat karena menjadi satu-satunya akses ekonomi warga Sidoarjo dan Pasuruan.
"Dulu cuma satu jembatan. Karena jadi satu-satunya akses ekonomi antara Sidoarjo dan Pasuruan, lalu lintasnya padat sekali," kata Triono ketika ditemui detikJatim di bibir Sungai Porong.
Jembatan Kali Porong yang menyimpan jejak sejarah sejak era kolonial Belanda. Jembatan ini menjadi nadi utama warga Sidoarjo dan Pasuruan. (Foto: Suparno/detikJatim) |
Untuk mengurai kepadatan, pemerintah membangun jembatan kedua di sisi timur pada tahun 1971.
"Jembatan sisi barat lama-lama kondisinya memprihatinkan. Akhirnya pada 2002 dibangun ulang dengan konstruksi yang mirip jembatan sisi timur. Itu yang bertahan sampai sekarang," ujarnya.
Jembatan Porong juga menjadi bagian penting dalam peristiwa semburan lumpur Lapindo yang terjadi sejak 2006. Saat itu, sejumlah ahli sempat memprediksi usia jembatan tak akan lama karena dampak perubahan tanah dan tekanan lingkungan.
Namun, lebih dari 20 tahun berselang, jembatan itu masih berdiri dan terus difungsikan meski memerlukan perawatan yang lebih rutin.
Struktur jembatan kerap mendapat perhatian karena tingginya volume kendaraan berat serta kondisi tanah di sekitar wilayah terdampak lumpur yang dinamis. Perbaikan sambungan jembatan pun menjadi agenda berkala, terutama menjelang arus mudik Lebaran.
Wisata Dadakan dan Jutaan Laron
Di luar fungsi transportasi, Jembatan Kali Porong kini juga dikenal sebagai lokasi wisata dadakan. Dari titik ini, warga dapat melihat pemandangan Gunung Arjuna pada pagi atau sore hari saat cuaca cerah. Siluet pegunungan yang berpadu dengan aliran sungai menciptakan lanskap yang kerap diburu pemburu foto.
Fenomena lain yang sempat viral adalah kemunculan jutaan laron di sekitar jembatan pada waktu tertentu. Laron yang bila terinjak ban motor atau mobil mengeluarkan cairan yang licin membuat banyak pengendara terpeleset.
"Perpaduan kelembapan tinggi dari sungai dan panas dari struktur aspal serta besi jembatan menciptakan kondisi ideal bagi laron," ujar penggiat sejarah Sidoarjo, Dr Sudi Harjanto.
Sudi menambahkan, jembatan di atas Kali Porong itu adalah penopang utama ekonomi 2 wilayah. Fungsinya sebagai akses keluar masuk utama Sidoarjo dari sisi selatan sehingga jembatan ini setiap hari dilalui ribuan kendaraan mulai dari sepeda motor, angkutan umum, bus, hingga truk logistik.
Keberadaan jembatan ini juga dinilai sangat vital dalam menjaga kelancaran distribusi barang dan mobilitas warga antarwilayah di Jawa Timur.
"Dari masa kolonial hingga era modern, Jembatan Sungai Porong tetap menjadi saksi perkembangan kawasan Porong dan sekitarnya, menghubungkan bukan hanya dua wilayah, tetapi juga sejarah panjang perjalanan ekonomi dan sosial masyarakat Sidoarjo," pungkas Sudi.
(irb/dpe)












































