Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengapresiasi sistem pembelajaran di SMK Negeri 1 Buduran, Sidoarjo, yang dinilai berhasil mencetak lulusan siap kerja dan berdaya saing tinggi. Bahkan, banyak siswa yang sudah di-inden perusahaan sebelum lulus sekolah.
Menurut Khofifah, kunci keberhasilan lulusan SMK saat ini terletak pada tingkat employability atau kemampuan untuk langsung bekerja di berbagai sektor.
"Punya employability itu sangat penting, artinya mereka siap bekerja di semua lini, semua sektor, dan dalam berbagai proses pembangunan. Di SMKN 1 Buduran ini, satu minggu di kelas dan dua minggu praktik di lapangan. Ini luar biasa," kata Khofifah kepada wartawan saat kunjungan ke SMK Negeri 1 Buduran, Senin (9/2/2025).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mencontohkan, para siswa tidak hanya belajar teori, tetapi langsung melayani masyarakat sesuai jurusan masing-masing. Mulai dari tata boga yang membuka resto dan kafe untuk umum, perhotelan, tata busana, hingga kecantikan dan tata rambut.
"Ini bukan sekadar magang di luar, tapi mereka benar-benar praktik melayani publik. Jadi rasa percaya diri mereka tumbuh karena sudah terbiasa menghadapi pelanggan langsung," jelasnya.
Khofifah menilai model pembelajaran seperti ini membuat konektivitas antara sekolah dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) menjadi sebuah keniscayaan. Dampaknya, lulusan SMK bisa langsung terserap dunia kerja.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Aries Agung Paewai menegaskan bahwa serapan tenaga kerja lulusan SMK sangat bergantung pada kemampuan sekolah menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, termasuk teknologi digital.
"Perkembangan teknologi justru harus mendorong kita meningkatkan kompetensi siswa. Dunia perhotelan, pariwisata, kuliner, dan tata busana itu tidak pernah habis. Sekarang ditambah dengan pemasaran digital, pasar mereka makin luas," ujar Aries.
Ia mencontohkan produk tata boga seperti roti dan makanan olahan siswa yang sudah dipasarkan secara online. Begitu pula karya tata busana yang bisa dijual melalui platform digital.
"Jadi bukan hanya disiapkan untuk industri, tapi juga untuk wirausaha. Anak-anak ini diajari membuka lapangan kerja sendiri sesuai kebutuhan pasar," tambahnya.
Kepala SMKN 1 Buduran, Agustina, mengungkapkan tingkat serapan lulusan sekolahnya mencapai sekitar 97,5 persen. Sebagian besar bekerja, sementara sisanya berwirausaha atau melanjutkan pendidikan.
"Mayoritas anak-anak kami bekerja atau berwirausaha di bidang makanan, kecantikan, dan jasa lainnya. Bahkan kelas 11 pun sudah ada yang buka jasa salon panggilan dari rumah ke rumah," jelas Agustina.
Ia juga menyebut sejumlah industri telah lebih dulu melakukan pemesanan tenaga kerja langsung ke sekolah.
"Beberapa industri sudah datang melihat fasilitas kami dan melakukan rekrutmen lebih awal. Jadi sebelum lulus pun, anak-anak sudah ada yang di-inden," ujarnya.
Selain itu, sekitar 30 persen lulusan memilih melanjutkan ke perguruan tinggi. Pihak sekolah juga menyediakan aplikasi khusus untuk menghubungkan lulusan dengan dunia industri.
"Intinya kami ingin memastikan anak-anak punya masa depan jelas, baik bekerja, berwirausaha, maupun kuliah," pungkasnya.
(auh/abq)











































