Siti Aisyah tampak sibuk di garasi 66 yang berlokasi di Kalianak, Surabaya siang itu. Perempuan 35 tahun itu tampak mengangkat dan menggelindingkan sebuah ban truk berukuran 1.100.
Sejurus kemudian, ia mengangkat palu besar dan memukul-mukulkan velg ban truk. Tujuannya untuk memisahkan ban dari velg. Sebuah selang kompresor kemudian diraihnya untuk mengisi angin untuk mengecek kebocoran pada ban.
Pekerjaan tambal ban ini sebenarnya bukan keinginan Aisyah. Namun kondisi dan tuntutan ekonomi lah yang membuat terpaksa harus dijalani selama 7 tahun terakhir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau bisa memilih, saya nggak mau kerja kayak gini. Tapi hidup nggak selalu ngasih pilihan," kata Aisyah kepada detikJatim.
Aisyah lantas menuturkan awalnya ia menekuni pekerjaan tambal ban. Semua berawal saat suaminya, Aspriyanto (40) mengalami kecelakaan kerja dan tak bisa lagi mengangkat beban berat karena patah tulang.
Pekerjaan suaminya itu lantas diambil alihnya. Sebelum menjadi tukang tambal ban truk, Aisyah pernah menjadi buruh pabrik dan membuka warung makanan kecil-kecilan.
Namun semua pekerjaan itu ditinggalkan semua dan bertekad membantu pekerjaan suaminya. Aisyah bagian mengangkat yang berat sedangkan suaminya bagian yang ringan seperti menyiapkan peralatan dan mengisi angin.
Perempuan asal Karawang, Jawa Barat itu juga harus pandai-pandai membagi waktu mengurus kelima anaknya. Untuk tiga anaknya, terpaksa harus ditinggal di rumah, sedangkan yang satu dirawat oleh neneknya di kampung asalnya dan yang bungsu selalu ikut dengan di garasi.
Siti Aisyah perempuan tukang tambal ban di Kalianak Surabaya (Foto: Nadira Media/detikJatim) |
"Kalau kerja pabrik atau berdagang seperti dahulu, waktu saya habis di luar dari pagi sampai sore. Kalau kerja begini, saya bisa hadir buat anak-anak." tuturnya.
Aisyah mengaku sebenarnya pekerjaan yang identik dengan kaum Adam ini bukan tanpa risiko. Terkena ledakan saat mengisi angin bisa terjadi kapan saja.
Sudah banyak rekan-rekannya yang terkena dampaknya hingga cacat bahkan meninggal dunia. Contoh paling nyata yakni suaminya yang terkena ledakan hingga patah tulang.
"Adakalanya satu jam ban ini menolak terbuka, karena terlalu lengket dengan velgnya. Pernah, belum sampai tekanan 100, ban kawatnya meledak dan kena tangan suami saya. Sampai patah tulang," tutur Aisyah.
"Kita lihat teman-teman meninggal, ada yang cacat. Tapi kita tetap jalan. Kadang sambil gemetar juga," imbuhnya.
Ditanya soal penghasilan per harinya, Aisyah mengaku tak tentu. Terkadang ia hanya mendapat Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu. Namun Aisyah kini bisa mengantongi pendapatan lebih dari TikTok.
Awalnya ia mengaku iseng menayangkan aktivitas menambal ban live streaming selama setahun terakhir. Namun di luar dugaan, ternyata banyak yang menonton bahkan memberikan gift atau hadiah.
"Awalnya cuma iseng live. Sejak suami kecelakaan, saya merasa sepi. Terus nyoba belajar sendiri. Ternyata banyak yang merasa tersentuh," cetusnya.
"Itu bikin saya semangat. Gift cuma bonus. Yang penting orang bisa kuat bareng-bareng," tambah perempuan yag telah merantau di Surabaya 16 tahun itu.
Aisyah sendiri menolak disebut sebagai perempuan kuat dan hebat. Sebab ia merendah bahwa yang dilakukan hanya membantu suaminya. "Dengan lima anak, masa saya ngandelin suami terus? Saya gak tega," pungkasnya.
(auh/abq)












































