Di balik riuh prosesi pelantikan profesi perawat, ada satu sosok yang amat menginspirasi. Ia adalah Alawiyah, lulusan D3 Keperawatan Universitas Muhammadiyah Surabaya.
Hari bahagia pelantikan bukan hanya sekadar seremoni, bagi dia, hal ini menjadi penanda kemenangan setelah melewati perjalanan panjang melawan lupus, penyakit autoimun yang hampir mengubah jalan hidupnya.
Sebelum mantap memilih keperawatan, Alawiyah sebenarnya dekat dengan dunia seni. Ia terbiasa memegang kuas dan kanvas. Ia bercita-cita menjadi pelukis profesional. Namun dorongan orang tua yang berlatar belakang pendidikan kesehatan membuatnya mendaftar D3 Keperawatan pada 2022.
"Saya ingin membuktikan bahwa saya bisa membanggakan orang tua," ujar Alawiyah, Sabtu (29/11/2025).
Hingga semester lima, perjalanan kuliahnya tanpa kendala. Alawiyah aktif praktik, mudah bergaul, dan dikenal sebagai mahasiswi yang tekun. Tak ada tanda bahwa tubuhnya sedang mempersiapkan badai.
Masuk semester enam, kondisi Alawiyah mendadak berubah. Ia mengalami mual hebat dan pusing berkepanjangan hingga harus dibawa ke IGD RS Universitas Airlangga dan dirawat seminggu.
Ia sempat pulang, namun belum genap seminggu, keluhannya kembali datang. Kali ini lebih serius. Di RSUD Dr. Soetomo, pemeriksaan intensif dilakukan dan hasilnya menyentak yakni tubuhnya mengidap lupus.
Penyakit itu menyerang organ penting, menyebabkan peradangan, bahkan merusak sistem imun. Selang dua minggu, kondisinya makin parah. Ia mengalami nyeri punggung luar biasa dan harus menjalani cuci darah.
Saat teman-temannya fokus menyusun sidang akhir, Alawiyah justru harus berjuang mempertahankan kesehatan. Namun ia tak goyah.
"Saya sudah sejauh ini. Saya harus selesai. Untuk diri saya, untuk orang tua saya," tegasnya.
Dengan tubuh yang tak stabil dan infus yang terus menempel, Alawiyah meminta satu hal pada kampus: kesempatan. Teman-teman sekelas dan para dosen ikut menguatkan langkahnya.
Sampai akhirnya momen mengharukan itu terjadi, Alawiyah menjalani sidang tugas akhir di atas ranjang rumah sakit. Infus masih terpasang, suaranya sesekali melemah, namun matanya tetap tajam mempertahankan hasil studinya. Suasana ruangan mendadak hening dan penuh haru.
Setelah menjalani perawatan dan terapi panjang, kondisi Alawiyah berangsur membaik. Ia akhirnya berdiri tegak di aula pelantikan profesi, bergabung bersama teman-temannya. Tak ada yang menyangka bahwa beberapa minggu sebelumnya ia sedang bertarung melawan penyakit berat. Gelar Ahli Madya Keperawatan pun resmi berhasil ia sandang.
Meski kini berkarier sebagai perawat, Alawiyah masih memegang mimpi masa kecilnya. Ia ingin kembali melukis dan suatu hari memiliki galeri seni sendiri. Baginya, kedua bidang itu bisa berjalan berdampingan.
"Keduanya sama-sama tentang menyentuh hati orang lain," ungkapnya.
Atas kerja keras dan kegigihannya, Alawiyah kini menerima beasiswa untuk melanjutkan studi Sarjana di UM Surabaya.
"Jangan menyerah pada impianmu. Rintangan itu pasti ada, tapi kita punya kekuatan yang mungkin belum kita sadari. Percaya pada diri sendiri. Percaya pada Tuhan," pungkasnya.
Simak Video "Video: Strategi Kemenkes Tingkatkan Upaya Deteksi Dini Lupus"
(auh/hil)