Terungkap Pekerjaan Joko Penghuni Gua di Pedalaman Hutan Jombang

Terungkap Pekerjaan Joko Penghuni Gua di Pedalaman Hutan Jombang

Enggran Eko Budianto - detikJatim
Sabtu, 29 Nov 2025 11:00 WIB
Manusia gua yang hidup 60 tahun di pedalaman hutan Jombang
Manusia gua yang hidup 60 tahun di pedalaman hutan Jombang/Foto: Enggran Eko Budianto/detikJatim
Jombang -

Satu keluarga yang menghuni Gua Anggas Wesi di pedalaman hutan jati Jombang ternyata memiliki pekerjaan tetap. Sang kepala keluarga, Joko Mulyono, setiap tiga hari keluar dari hutan untuk bekerja sebagai satpam di Mojokerto.

Satu keluarga penghuni Gua Anggas Wesi di pedalaman hutan jati Jombang ternyata mampu bertahan hidup dengan cara unik. Kepala keluarganya, Joko Mulyono, rutin keluar hutan setiap beberapa hari untuk bekerja sebagai satpam di Mojokerto, lalu kembali membawa logistik yang ia angkut menggunakan karung.

Akses yang mereka gunakan untuk keluar hutan juga dibuat sendiri demi menghindari pertemuan dengan petugas Perhutani yang memantau aktivitas mereka sejak awal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gua Anggas Wesi berada di petak 37F, Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Sumberjo, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Jabung, KPH Jombang. Luasnya sekitar 0,1 hektare dan digolongkan sebagai hutan kawasan penggunaan khusus (KPKh). Secara administrasi, gua alami ini masuk Desa Sumberjo, Wonosalam, Jombang.

ADVERTISEMENT

Kepala BKPH Jabung, Tarmidi menjelaskan, satu keluarga penghuni gua berjumlah empat orang, yakni Joko Mulyono, istri, anak perempuan, dan adik laki-lakinya. Mereka berasal dari Kecamatan Jogoroto, Jombang. Sekitar dua bulan terakhir, mereka tinggal di tenda yang didirikan di sebelah kanan gua.

Saat ini hanya Joko yang keluar masuk hutan. Menurut Tarmidi, Joko kembali ke hutan setiap tiga hari sekali sambil membawa karung berisi kebutuhan hidup. Informasi itu diperolehnya dari Sudarmaji (68), pria asal Boyolali yang sudah puluhan tahun menghuni Gua Anggas Wesi.

"Informasi yang kami terima dari Pak Sudarmaji, Pak Joko bekerja sebagai satpam di Mojokerto. Kalau pulang bawa logisik untuk makan sehari-hari. Karena kalau balik ke hutan membawa barang dibungkus sak," ujarnya.

"Setelah banyak orang tahu keberadaannya, sekarang mereka pindah tempat," jelasnya kepada detikJatim, Kamis (27/11/2025).

Tenda yang mereka tempati di sisi kanan gua kini ditinggalkan begitu saja. Joko sekeluarga mendirikan tenda baru yang berjarak lebih jauh dari gua.

"Dari gua menyusuri naik ke atas, ada tenda warna biru," ungkap Tarmidi.

Tarmidi dan timnya sempat mengunjungi tenda itu. Namun, mereka tidak menemukan Joko sekeluarga. Peralatan mereka masih berada di dalam tenda, menandakan tenda tersebut masih ditempati.

Joko sekeluarga juga membuat akses baru berupa jalan setapak untuk menghindari Gua Anggas Wesi saat ingin keluar hutan. Akses itu bermuara di kawasan Hutan Watuseno karena menjadi jalur terdekat menuju perkampungan.

Selama ini, Joko dan keluarganya juga terkesan menutup diri dari petugas Perhutani. "Jika dari kejauhan mereka melihat petugas, berusaha menghindar. Dari perilakunya ada indikasi mereka menyembunyikan sesuatu," cetusnya.

Di awal kedatangan Joko sekeluarga, salah satu dari mereka rutin keluar hutan. Joko atau adik laki-lakinya keluar pagi dan kembali malam dengan membawa kebutuhan pokok menggunakan sepeda motor.

Saat pertama terdeteksi petugas Perhutani, Joko mengaku nekat tinggal di pedalaman hutan untuk menjalani ritual di Gua Anggas Wesi. Namun, setelah dilakukan pemantauan acak pagi, siang, sore, dan malam, keluarga ini tidak pernah terlihat melakukan ritual.

"Pantauan kami ritual tidak pernah dilakukan. Indikasinya seperti menghindar dari suatu masalah," terang Tarmidi.

Apa pun alasannya, lanjut Tarmidi, tinggal di kawasan hutan tanpa izin merupakan pelanggaran Pasal 50 UU RI Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. "Perlahan kami lakukan pendekatan sebenarnya ada apa. Apabila Pak Joko tidak proaktif, kami lakukan tindakan untuk mengusir yang bersangkutan," tandasnya.

Sementara itu, Sudarmaji telah menghuni Gua Anggas Wesi sejak 1983 atau 42 tahun lalu. Setelah puluhan tahun tinggal di sana, ia kini bersedia direlokasi. Perhutani akan membangun gubuk berukuran 4x6 meter untuk tempat tinggal dan tempat memasak Sudarmaji, berjarak sekitar 50-100 meter dari gua.

Dengan relokasi ini, gua diharapkan tak kumuh lagi. Terlebih Sudarmaji telah menjual semua ayam peliharaannya pada 13 November lalu. Ia juga akan diberi peran sebagai penerima wisatawan atau peziarah gua. Namun, Perhutani mewanti-wanti agar ia tidak mengajak orang lain tinggal di hutan.

Selain menerima pemberian dari para peziarah, Sudarmaji bertahan hidup dengan menanam palawija di lahan Perhutani secara tumpangsari. Ia merupakan anggota luar biasa LMDH Mitra Wana Sejahtera Desa Lebak Jabung dan mendapat lahan garapan sekitar 1.500 meter persegi.

Halaman 3 dari 2


Simak Video "Video: Fenomena Manusia Gua Jombang, 60 Tahun Hidup di Pedalaman Hutan"
[Gambas:Video 20detik]
(irb/hil)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads