2,5% Pasien Kanker Lambung RSU Soetomo Surabaya Rujukan dari Jatim

2,5% Pasien Kanker Lambung RSU Soetomo Surabaya Rujukan dari Jatim

Esti Widiyana - detikJatim
Kamis, 01 Sep 2022 08:22 WIB
Ahli dan Spesialis Penyakit Dalam, Prof dr Muhammad Miftahussurur MKes SpPD-KGEH PhD FINASIM
Gubes Penyakit Dalam FK Unair Prof dr Muhammad Miftahussurur (Foto: Esti Widiyana/detikJatim)
Surabaya -

Penyakit gastritis (Maag), ulkus peptikum, limfoma lambung dan kanker lambung muncul dikarenakan adanya helicobacter pylori. Helicobacter pylori ini bakteri yang hidup berkoloni pada lambung manusia dan telah terbukti menjadi agen penyebab maag, ulkus peptikum, limfoma lambung dan kanker lambung.

Guru Besar Penyakit Dalam FK Unair, Prof dr Muhammad Miftahussurur MKes SpPD-KGEH PhD FINASIM mengatakan saat menemukan bakteri ini, maka ketiga penyakit ini menjadi entitas infeksi. Hampir semua penelitian menyebutkan, jika helicobacter pylori diindikasi dan dibunuh lebih awal, maka kemungkinan kanker lambung bisa dicegah.

Dr Miftah yang pernah masuk top 16 peneliti terbaik versi google scholar tahun 2020 ini menyebut ada banyak pasien penderita kanker lambung di RSU dr Soetomo. Tetapi tidak semuanya warga Surabaya.

"Banyak, walaupun 2,5% rujukan, hanya lebih banyak di kabupaten," kata Miftah kepada detikJatim usai dikukuhkan menjadi guru besar, Kamis (1/9/2022).

Ada hal yang menarik, ketika meneliti helicobacter pylori di Indonesia. Ditemukan bahwa etnik dan kerentanan individu menjadi salah satu faktor risiko utama infeksi H. pylori.

Dalam penelitiannya yang sedang proses publikasi, didapatkan 4 etnik utama. Yakni Batak, Bugis, Papua, Timor punya risiko yang jauh lebih tinggi, bisa 20x lipat dari orang keturunan Melayu

"Lebih dari setengah populasi dunia telah terinfeksi helicobacter pylori. Yang menarik, penelitian kami di Surabaya menemukan tingkat infeksi helicobacter pylori yang rendah yaitu sebesar 11,5%. Hasil yang konsisten juga kami dapatkan di Manado, Sulawesi Utara pada tahun 2011-2012, sebesar 14,3%," jelas pria yang telah dikukuhkan menjadi guru besar, Rabu (31/9/2022).

Begitu juga infeksi helicobacter pylori pada anak-anak yang hanya sebesar 3,8%. Jika sudah terkena helicobacter pylori, perlu melakukan deteksinya yang betul dahulu, apakah benar positif. Pilihan tes harus bagus, tes urine dan darah tidak bisa membuktikan itu pylori saat ini atau tidak, karena bisa saja riwayat. Bahkan pernah pylori 6 bulan yang lalu, ketika tes urine dan darah tetap positif.

Ia menegaskan, jika ingin memastikan bakteri jangan lewat urine atau darah, tetapi kalau screening boleh. Untuk memastikannya, pertama memakai endoscopi, diambil jaringannya, dilihat ada bakteri atau tidak. Kedua pakai tes tiup pylori atau urea breath test.

"Pylori punya urease, hasil urease akan keluar lewat nafas ditangkap. Kalau ureanya pada level tinggi sekian, kira-kira ada pylori. Karena bakteri yang menghasilkan urease tidak banyak dan yang dominan pylori. Ketiga pakai stool (tinja) antigen test bisa dideteksi problem. Orang Indonesia lebih mudah disuruh mengumpulkan darah dari pada tinja," pungkasnya.



Simak Video "Maling Motor di Surabaya Gentayangan, Nih Buktinya!"
[Gambas:Video 20detik]
(fat/fat)