Asa Tukang Foto 'Jadul' Wisata Baturraden Bertahan di Era Ponsel Pintar

Asa Tukang Foto 'Jadul' Wisata Baturraden Bertahan di Era Ponsel Pintar

Anang Firmansyah - detikJateng
Selasa, 24 Mar 2026 15:56 WIB
Nidam (63), tukang foto lokawisata Baturraden, Kabupaten Banyumas, menawarkan jasa ke pengunjung, Selasa (24/3/2026).
Nidam (63), tukang foto lokawisata Baturraden, Kabupaten Banyumas, menawarkan jasa ke pengunjung, Selasa (24/3/2026). (Foto: Anang Firmansyah/detikJateng)
Banyumas -

Di tengah ramainya wisatawan yang hilir mudik di kawasan wisata Baturraden, sosok pria lanjut usia tampak setia berdiri dengan kamera di tangannya. Dialah Nidam (63), fotografer yang sudah mengabdikan hidupnya di tempat itu sejak 1983.

Selama lebih dari empat dekade, Nidam menjadi saksi perubahan zaman. Ia merasakan langsung masa kejayaan Baturraden saat pengunjung membludak hingga kini, ketika teknologi perlahan menggeser profesinya.

"Jadi tukang foto di sini dari tahun 1983 sampai sekarang, sekitar 43 tahun," ujar Nidam saat ditemui di lokasi, Selasa (24/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, masa paling ramai terjadi pada era 1980-an, khususnya sekitar tahun 1985. Saat itu, wisatawan yang datang begitu padat hingga membuat jasa fotografer sangat dibutuhkan.

"Tahun 1985 lagi ramai-ramainya, pengunjung itu berjubel," katanya.

ADVERTISEMENT

Namun, kondisi tersebut tak bertahan lama. Seiring berjalannya waktu, jumlah pengunjung yang menggunakan jasa fotografer terus menurun.

"Tapi ini dari tahun 1985 sampai ke sini selalu berkurang pengunjungnya," ungkapnya.

Perubahan paling terasa terjadi saat teknologi kamera berkembang pesat. Nidam mengaku telah melewati berbagai era, mulai dari kamera analog, polaroid, hingga kini menggunakan kamera DSLR. Namun, kemudahan kamera di ponsel membuat jasanya semakin jarang dilirik.

"Saya mengalami dari zaman kamera analog, terus polaroid biar langsung jadi fotonya, sampai sekarang pakai kamera DSLR. Tapi setelah adanya era digital banyak pengunjung bawa HP sendiri," jelasnya.

Situasi semakin sulit ketika pandemi COVID-19 melanda. Pembatasan aktivitas membuat jumlah wisatawan turun drastis, yang berdampak langsung pada penghasilannya.

"Ya, itu pengaruh banget, apalagi kemarin ada (pandemi) Corona. Jadi berkurang drastis," tuturnya.

Pada masa jayanya, Nidam bisa meraup penghasilan hingga Rp 1,5 juta per hari. Angka yang terbilang besar pada masa itu. Kini, penghasilannya jauh menurun.

"Paling ramai bisa dapat Rp 1.500.000 tahun '85, gede banget waktu itu. Sekarang paling-paling ya Rp 300 ribu sehari kalau lagi ramai kayak liburan Lebaran ini. Sehari paling sedikit Rp 30 ribu," katanya.

Meski demikian, Nidam tetap mempertahankan tarif jasanya sejak dulu. Untuk cetak foto ukuran 4R, ia hanya mematok harga Rp 10 ribu, sementara file digital dihargai Rp 5 ribu.

"Ongkosnya dari dahulu sama, Rp 10 ribu. Gak pernah naik dari dulunya," ujarnya.

Namun, biaya operasional yang terus meningkat membuat keuntungan yang ia dapatkan semakin menipis.

"Kalau sekarang untungnya semakin menipis, modal semakin besar. Sampai sekarang tinggal 11 fotografer saja yang ada di sini," keluhnya.

Di usia yang tak lagi muda, Nidam tetap bertahan karena profesi ini menjadi satu-satunya sumber penghidupan. Ia mengaku bersyukur bisa menyekolahkan keempat anaknya hingga lulus.

"Bertahan karena gak ada kerjaan yang lain. Alhamdulillah anak 4 sekolah lulus semua. Sekarang anak ketiga lagi kuliah di Unsoed, terus anak terakhir kuliah di Poltekkes," tuturnya.

Setiap hari, Nidam mulai bekerja sejak pukul 08.00 hingga 17.00 WIB. Ia berharap masih ada wisatawan yang tertarik mengabadikan momen dengan cara lama, cetak foto langsung di lokasi.

Sementara itu, di tengah dominasi kamera ponsel, sebagian wisatawan tetap memilih jasa fotografer seperti Nidam demi kenang-kenangan.

Salah satunya Vera (29), wisatawan asal Kabupaten Malang. Ia mengaku sengaja menggunakan jasa fotografer untuk mendapatkan hasil foto yang lebih berkesan.

"Pengin aja sih punya dokumentasi kenang-kenangan yang cetak langsung di sini. Karena kan saya cuma bertiga sama suami dan anak, jadi nggak ada yang fotoin," kata Vera.

Awalnya ia sempat ragu saat ditawari, namun akhirnya memutuskan untuk mencoba.

"Tadi ditawarin sempat mikir. Tapi ya sudah akhirnya luluh juga. Hasilnya juga bagus, nggak mahal harganya," pungkasnya.




(aku/afn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads