Polda Jateng Sebut Pemuda Dominasi Pelanggaran Operasi Zebra Candi

Muhammad Iqbal Al Fardi - detikJateng
Sabtu, 29 Nov 2025 17:17 WIB
Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Artanto. Foto: Dok. Istimewa.
Semarang -

Kabid Humas Polda Jawa Tengah (Jateng), Kombes Artanto, menyebut pengendara berusia muda masih mendominasi jumlah pelanggaran lalu lintas saat Operasi Zebra Candi 2025. Dia menyebut 77 persen pengendara yang ditilang merupakan pemuda.

Data tersebut didapat Artanto dari pemaparan hasil sementara pelaksanaan Operasi Zebra Candi 2025 yang dilakukan oleh Direktorat Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Jateng bersama polres jajaran. Operasi tersebut dimulai pada 17 November 2025 dan bakal berakhir pada Minggu (30/11/2025) pukul 24.00 WIB.

Artanto menyebut, berdasarkan data yang diterimanya pada Sabtu (29/11/2025) pagi, terdapat sejumlah 44.686 pelanggaran lalu lintas selama operasi tersebut. Dari jumlah itu, sebanyak 12.027 pelanggar mendapat sanksi tilang, yakni sebanyak 7.015 pelanggaran melalui ETLE, 5.012 tilang manual, dan 32.659 lainnya diberikan teguran.

"Data ini menunjukkan bahwa kepatuhan pengguna jalan masih menjadi pekerjaan rumah kita bersama. Namun dengan pendekatan edukatif dan humanis, kami terus mendorong masyarakat untuk semakin sadar dan patuh terhadap aturan lalu lintas," jelas Artanto dalam keterangan tertulis yang diterima detikJateng, hari ini.

Tercatat, pengendara roda dua mendominasi pelanggaran hingga sebanyak 11.128 kasus. Adapun tiga jenis pelanggaran paling mendominasi yakni tidak menggunakan helm SNI sebanyak 7.609 kasus, knalpot brong sebanyak 1.046 kasus, dan melawan arus sebanyak 1.044 kasus.

Dalam kategori pelanggaran roda empat atau lebih, terdapat 899 pelanggaran yang didominasi oleh tidak menggunakan sabuk keselamatan sebanyak 557 kasus, melawan arus sebanyak 105 kasus, dan pelanggaran batas muatan sebanyak 43 kasus.

Lebih lanjut, Artanto mengatakan, 77 persen penerima tilang adalah pengendara berusia 16-35 tahun yang merupakan kelompok usia produktif.

Dia menyebut, terdapat 502 kasus kecelakaan yang menyebabkan 12 orang meninggal dunia, 11 orang mengalami luka berat, dan 624 orang mengalami luka ringan. Dari kasus tersebut, kerugian materiel ditaksir mencapai Rp 836.450.000.

Adapun kelompok usia 16-20 tahun merupakan pelaku kecelakaan paling banyak. Sementara, korban berusia 11-30 tahun mendominasi hingga mencapai 43% dari total korban.

"Ini menjadi peringatan bagi kita semua bahwa pengguna jalan dari kelompok usia muda masih sangat rentan terlibat kecelakaan. Melalui operasi ini, kami ingin menekan angka fatalitas dan mendorong terciptanya budaya tertib berlalu lintas," tegas Artanto.

Dia mengatakan, operasi tersebut merupakan penegakan aturan dan untuk menciptakan kondisi kamtibmas dan kamseltibcar lantas menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).

"Harapan kami, melalui operasi ini masyarakat semakin disiplin dan situasi lalu lintas menjelang Nataru (Natal Tahun Baru) dapat berlangsung aman, lancar, dan kondusif," pungkasnya.



Simak Video "Video: Polisi Pukul Mundur Massa Demo Ricuh di Polda Jawa Tengah"

(apl/apl)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork