Pakar UMY Sebut Laka KRL Bekasi Jadi Alarm Perkuat Keselamatan Perkeretaapian

Pakar UMY Sebut Laka KRL Bekasi Jadi Alarm Perkuat Keselamatan Perkeretaapian

Tim detikJateng - detikJateng
Sabtu, 02 Mei 2026 13:40 WIB
Pakar perkeretaapian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Ir. Sri Atmaja Putra Jatining Nugraha Nasir Rosyidi.
Pakar perkeretaapian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Ir. Sri Atmaja Putra Jatining Nugraha Nasir Rosyidi. Foto: Dok. UMY
Solo -

Kecelakaan KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur menjadi alarm serius bagi dunia transportasi nasional. Pakar perkeretaapian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Ir. Sri Atmaja Putra Jatining Nugraha Nasir Rosyidi, menegaskan bahwa keselamatan tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi.

Menurutnya, keselamatan perkeretaapian harus bertransformasi dari sekadar sistem manajemen menjadi budaya yang tertanam kuat. Tanpa budaya keselamatan yang kokoh, sistem secanggih apa pun tetap memiliki potensi kegagalan.

Integrasi Sistem dan Faktor Manusia

Dalam wawancara daring pada Sabtu (2/5/2026), Prof. Sri Atmaja menjelaskan bahwa keselamatan merupakan kombinasi dari teknologi, sistem manajemen, serta faktor manusia. Kompetensi sumber daya manusia (SDM) menjadi kunci utama karena setiap personel harus mampu mengidentifikasi potensi bahaya secara cepat dan mengambil keputusan tepat dalam situasi kritis.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Keselamatan bukan hanya sistem, tetapi juga harus menjadi budaya organisasi dan masyarakat," ujar Prof. Sri Atmaja dalam keterangan tertulis yang diterima detikJateng, Sabtu (2/5/2026).

Ia mengatakan, kedisiplinan dalam menjalankan prosedur harus dijaga secara konsisten. Operator seperti PT Kereta Api Indonesia perlu menerapkan evaluasi berkelanjutan melalui siklus Plan-Do-Check-Act (PDCA).

ADVERTISEMENT

Selain itu, sistem keselamatan modern harus mengadopsi prinsip fail-safe, yaitu ketika satu komponen gagal, sistem lain seperti pengereman atau persinyalan berlapis tetap mampu mencegah terjadinya kecelakaan.

Tunggu Hasil Investigasi KNKT

Terkait penyebab pasti kecelakaan di Bekasi Timur, Prof. Sri Atmaja mengimbau publik untuk tidak berspekulasi dan menunggu hasil investigasi resmi dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Investigasi tersebut akan menggunakan pendekatan root cause analysis untuk mengungkap akar permasalahan secara objektif.
"Hasil investigasi harus mampu menjelaskan apakah penyebabnya berasal dari faktor teknis, manusia, atau kegagalan sistemik yang saling berkaitan," kata Prof. Sri Atmaja.

Menurutnya, Indonesia telah memiliki fondasi yang kuat melalui Sistem Manajemen Keselamatan Perkeretaapian (SMKP) yang mengacu pada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 serta standar internasional seperti ISO 45001. Namun, implementasinya di lapangan, terutama di wilayah padat seperti Jabodetabek dengan headway yang semakin pendek, masih menghadapi tantangan yang kompleks.

Investasi Jangka Panjang dan Peran Masyarakat

Lebih lanjut, Prof. Sri Atmaja menegaskan bahwa keselamatan tidak boleh dipandang sebagai beban biaya, melainkan sebagai investasi jangka panjang. Investasi ini mencakup pengembangan teknologi, peningkatan kompetensi SDM, serta penguatan budaya kerja yang berorientasi pada keselamatan.

Ia juga menyoroti pentingnya peran masyarakat, khususnya di titik rawan seperti perlintasan sebidang. Menurutnya, keselamatan jalur kereta merupakan tanggung jawab kolektif antara operator, regulator, dan masyarakat pengguna.

"Jika budaya keselamatan sudah tertanam, maka sistem akan berjalan lebih efektif. Targetnya jelas: Zero accident," pungkas dosen Prodi Teknik Sipil UMY ini.



(dil/dil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads