Alunan Rebana Kelompok Santri Autis Menggema di Ponpes Al-Achsaniyyah Kudus

Alunan Rebana Kelompok Santri Autis Menggema di Ponpes Al-Achsaniyyah Kudus

Dian Utoro Aji - detikJateng
Selasa, 03 Mar 2026 17:31 WIB
Di ponpes ini selain diajarkan agama, anak-anak autisme juga didampingi untuk hidup secara mandiri.
Melihat kegiatan santri autisme di Ponpes Al-Achsaniyyah Kudus, Selasa (3/3/2026). Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng.
Kudus -

Sebuah pondok pesantren di Kudus ini cukup unik karena para santrinya merupakan anak berkebutuhan khusus (ABK) atau autisme. Di ponpes ini selain diajarkan agama, anak-anak autisme juga didampingi untuk hidup secara mandiri.

Ponpes ini bernama Pondok Pesantren Khusus Anak Berkebutuhan Khusus (ABK Autisme) Al-Achsaniyyah. Lokasinya di Desa Pedawang Kecamatan Bae, Kudus.

Siang tadi para santri mengikuti kegiatan Ramadan. Seperti melaksanakan salat Zuhur berjamaah di masjid. Ketika terdengar suara azan, para santri ini berkumpul dan menuju masjid yang lokasinya di kompleks ponpes. Mereka melaksanakan salat secara berjemaah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah salat berjemaah, mereka kemudian mengikuti kegiatan mengaji di masjid. Terdengar lantunan ayat-ayat suci Al-quran dari para santri. Sebagian santri juga menyimak dengan seksama.

Tak hanya itu, para santri juga mengikuti kegiatan rebana. Meski berkebutuhan khusus sejumlah santri autisme cukup mahir bermain rebana. Mereka melantunkan salawat diiringi dengan rebana.

ADVERTISEMENT

Salah satu santri, Dino Pratama Putra (22), mengaku senang mengikuti kegiatan selama Ramadan ini. Mulai dari kegiatan mengaji, salat tarawih berjemaah hingga tadarusan bersama.

"Puasa Ramadan ada buka puasa, salat tarawih, mengaji, tadarus, bermain rabana juga. Senang sekali, temannya banyak," ungkap Dino ditemui di lokasi, Selasa (3/3/2026).

Melihat kegiatan santri autisme di Ponpes Al-Achsaniyyah Kudus, Selasa (3/3/2026).Melihat kegiatan santri autisme di Ponpes Al-Achsaniyyah Kudus, Selasa (3/3/2026). Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng

Salah satu guru pendamping Indri Setiarini (35) mengaku menjadi pendamping di Ponpes Al-Achsaniyyah sejak tahun 2018 lalu. Kegiatan biasanya mulai dari bangun tidur sampai akan tidur.

"Saya mendampingi anak-anak di sini, untuk keseharian di sini mulai dari bangun tidur sampai tidur banyak sekali. Terutama pagi di sini akademi karena anak diajari belajar dan bersosiailisasi. Ada mengaji TPQ, Al-quran," kata Indri ditemui di lokasi.

Menurutnya ada tantangan tersendiri mendampingi santri autisme. Sebab ketika saat tantrum, para santri susah dikendalikan dan marah-marah.

"Untuk tantangan anak-anak yang khusus jadi kita memperlakukannya yang khusus beda dari anak-anak normal lain. Mereka selama ini baik, untuk perkembangan baik, mereka juga respons baik juga," ujarnya.

"Ketika sama-sama anak ketika saat tantrum kita lebih sabar kemudian anak ini saat tantrum beda dengan lain, kita harus sabar, mendekatkan diri untuk bisa masuk ke dunia ABK," Indri melanjutkan.

Tersentuh Lihat ABK di Pinggir Jalan

Pengasuh Pondok Pesantren Khusus Anak Berkubutuhan Khusus (ABK Autisme) Al-Achsaniyyah, Mohammad Faiq Afthoni, mengatakan jumlah santri autisme ada sebanyak 120 santri. Mereka datang dari Kudus hingga luar Jawa. Bahkan ada dari luar negeri.

"Dari luar Jawa juga banyak, dari Malaysia dan Irak, Singapura kita tolak karena SDM di sini belum tersedia," kata Faiq ditemui di lokasi.

Dia menjelaskan bagi santri yang baru masuk akan dilakukan observasi terlebih dahulu. Mereka mendapatkan perawatan selama observasi sebulan. Setelah itu dikategorikan pramandiri dan mandiri.

Para santri autisme ini mendapatkan pendidikan mengajar secara umum dan ala pondok pesantren. Menurutnya setiap guru mendampingi satu santri. Tujuannya untuk melihat potensi dari para santri.

"Seperti umumnya ada belajar mengajar untuk yang umum, terus mengaji Al-quran, terus pendidikan keagamaan. Tujuan pesantren ini adalah bakat mandiri anak. Itu yang paling penting. Jadi kalau sudah ketahuan bakatnya akan kita pacu di situ untuk mempersiapkan skil ke depannya," jelasnya.

"Nanti kalau sudah mandiri, lah itu beda satu guru bisa memegang lebih dari 5 anak," lanjut dia.

Melihat kegiatan santri autisme di Ponpes Al-Achsaniyyah Kudus, Selasa (3/3/2026).Melihat kegiatan santri autisme di Ponpes Al-Achsaniyyah Kudus, Selasa (3/3/2026). Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng

Lebih lanjut adapun selama Ramadan terdapat kegiatan tadarusan, salat berjemaah, dan rabana.

"Ramadan seperti ada tadarusan, tarawih, salat jemaah kita giliran untuk jadi imam. Tujuannya belajar untuk ABK," ungkapnya.

Faiq mengatakan para santri yang sudah mandiri bisa bersekolah bahkan ada kuliah sampai S2.

"Mandiri di sini sudah banyak, di sini sudah adalah sekolah Islamic Center, di Muhammadiyah Gondorharum, ada kuliah di UMK, S2 di Unisula, dan Surabaya," ungkap dia.

Faiq alumni santri dari Gontor Jawa Timur ini mendirikan ponpes khusus anak autisme karena merasa tersentuh. Awalnya dia sering melihat anak autisme yang dikerjakan sebagai pengemis di jalan. Dari situ Faiq kemudian terketuk untuk mendirikan ponpes khusus autisme.

"Saya mendirikan pesantren ini asal mula, dulu saya mau mendirikan ponpes modern seperti di Gontor. Tapi karena saya perjalanan melihat anak-anak ABK yang dimanfaatkan untuk mengemis di lampu merah di situ hati saya tersentuh, terketuk dan berubah untuk mendirikan ponpes ABK," jelas Faiq.

"Karena saya rasa belum ada ponpes yang khusus ABK, mungkin ini satu-satunya dan ada yang lain mulai rintis kami belum tahu," jelasnya.

Ponpesnya ini berdiri di tanah wakaf seluas 4.800 meter persegi. Adapun pembiayaan santri menggunakan sistem silang.

"Kita menggunakan subsidi silang, anak yatim piatu, duafa, kita bantu untuk pembiayaan. Bagi orang tua yang mampu kita minta untuk pembiayaannya. Jadi seperti biaya silang," ujarnya.

Lebih lanjut, Faiq berharap pemerintah bisa memperhatikan nasib ponpes khusus ABK seperti ini. Sebab pengelola ponpes mengaku keterbatasan biaya. Padahal tidak sedikit warga yang ingin menitipkan anaknya di Ponpes Al-Achsaniyyah.

"Harapan kami kepada pemerintah bisa melihat dan membantu ikut partisipasi kepada ABK seperti di Kudus banyak yang belum tertampung, setiap hari ada kontak keluarga ke saya ABK mereka tidak mampu biaya, karena kami juga terbatas untuk pembiayaan operasional. Kalau tidak ada support juga kita berat," terang dia.

Melihat kegiatan santri autisme di Ponpes Al-Achsaniyyah Kudus, Selasa (3/3/2026).Melihat kegiatan santri autisme di Ponpes Al-Achsaniyyah Kudus, Selasa (3/3/2026). Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng

BRI Peduli Santri

Melihat kondisi ini, BRI Cabang Kudus lewat program BRI Peduli ikut membantu para santri. Mereka memberikan bantuan sembako kepada para santri yang ada di Ponpes Al-Achsaniyyah.

Branch Manager BRI Kudus, Yudhiarto mengatakan bantuan diberikan sebagai bentuk kepedulian BRI terhadap masyarakat yang membutuhkan, khususnya kelompok rentan.

"Harapannya bantuan ini bisa dimanfaatkan dengan baik dan memberikan manfaat nyata. BRI peduli untuk semua sektor, baik masyarakat umum, kelompok kebutuhan khusus, maupun sektor sosial lainnya," terang dia.

BRI Kudus menyalurkan paket sembako kepada 198 penerima manfaat. Masing-masing paket bernilai Rp198 ribu dan berisi kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, serta bahan pangan lainnya.

Yudhiarto mengatakan sebagian penerima bantuan merupakan anak-anak berkebutuhan khusus.
"Keputusan penerima bantuan sudah melalui pendataan," terang dia.




(apl/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads