Pusat Grosir Solo (PGS) tutup permanen usai 20 tahun berdiri. Perwakilan manajemen PGS yang masih di bawah kurator, Bachtiar Ibnu Fadzil, mengatakan PGS harus ditutup permanen imbas persoalan investasi.
Bachtiar mengatakan ada perbedaan mendasar antara kondisi pailit secara alami dengan dipailitkan melalui jalur hukum. Dalam kasus PGS, status pailit muncul setelah adanya putusan dari Pengadilan Niaga Semarang pada bulan Februari 2024.
"PGS ini kan dipailitkan, berarti ada keputusan Pengadilan Niaga. Kalau di situ, berarti ada permasalahan bisnis, kita bicara investasi. Ada investasi yang mungkin kurang sukses yang mengakibatkan PGS ini dipailitkan. Setahu kami Februari dari Pengadilan Niaga Semarang sudah memutuskan bahwa PGS dalam kondisi pailit," ujar Bachtiar saat ditemui di PGS, Pasar Kliwon, Rabu (5/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Putusan pailit itu tertuang berdasar putusan Nomor: 6/Pdt.Sus-PKPU/2023/PN Niaga Smg di Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Semarang tertanggal 26 Februari 2024. Ia menegaskan secara operasional, PGS sebenarnya masih sangat potensial untuk terus beroperasi. Namun, keputusan hukum telah ditetapkan.
"Jadi kalau ngomong menurunnya crowd pengunjung atau antusias belanja konvensional, itu bukan faktor utama. Nyatanya PGS ini masih hidup, masih bisa jalan sebenarnya," tambahnya.
Terkait proses hukum lebih lanjut dan detail perkara yang menjerat PGS, pihak pengelola mengaku tidak mengetahui secara mendalam. Pihak pengelola menyerahkan urusan tersebut kepada kuasa hukum.
"Kalau prosesnya seperti apa, saya kurang tahu karena PGS sudah menunjuk kuasa hukum," bebernya.
Sejak berdiri tahun 2005, ada 1.200 tenant yang berjualan di PGS. Namun, seiring berjalannya waktu para pedagang mulai pindah.
"Terakhir ada 60 pedagang yang kontraknya habis pada bulan Juli lalu," ucapnya.
Ia mengatakan fenomena digitalisasi memang menjadi salah satu yang memengaruhi PGS tutup. Namun itu bukan faktor utama yang meruntuhkan bisnis tersebut. Menurutnya, budaya belanja konvensional di mana pembeli ingin menyentuh langsung barang dagangan masih sangat tinggi.
"Kalau secara awam orang memilih alasannya karena digitalisasi, belanja tinggal klik. Cuma jangan lupa, model belanja konvensional itu masih banyak. Istilahnya kalau kita belanja nggak memegang barangnya itu nggak mantap," ujar narasumber.
Ia menekankan PGS sebenarnya masih memiliki daya tarik kuat sebagai destinasi wisata belanja di Solo. Keunggulan lokasi di titik nol kilometer dan fasilitas parkir bus yang luas menjadi nilai plus yang tidak dimiliki pusat perbelanjaan lain di Kota Solo.
"PGS ini destinasi wisata Solo. Orang luar kota kalau ke Solo mampirnya ke sini cari oleh-oleh. Kita punya lahan parkir bus di depan yang tidak dipunyai pusat perbelanjaan lain," jelasnya.
Sebelumnya, Pusat Grosir Solo (PGS) tutup permanen karena pailit. Sejumlah pedagang tampak berkemas untuk pindah ke lokasi yang baru, yakni Benteng Trade Center (BTC) dan Pasar Klewer.
Diketahui, PGS resmi tutup pada Senin (3/8) lalu. Pantauan detikJateng, para pedagang tengah mengemasi pakaian dagangan dan manekin. Suasana PGS tampak sunyi. Toko-toko dari lantai dasar hingga paling atas sudah tertutup rapat.
Salah satu pegawai toko pakaian, Eni (40) mengaku sedih harus pindah ke tempat yang baru. Dia sudah 13 tahun bekerja di PGS.
"Sedih banget Mbak, kita kan karyawan ya Mbak. Jadi bingung juga kan, pastinya kita kan pindah toko, tokonya lebih kecil," kata dia kepada detikJateng sembari berkaca-kaca, Rabu (5/8).
Ia mengatakan, rencananya akan pindah ke Benteng Trade Center (BTC) yang berada di sebelah PGS. Eni menyebut lokasi yang baru tidak sebesar yang ada di PGS. Dia khawatir bila terjadi PHK di tempat kerjanya.
"Terus jadi ada kemungkinan pengurangan tenaga. Banyak juga karyawan lainnya yang kehilangan pekerjaan, rencana pindah ke BTC tapi lebih kecil," ungkapnya.
