Talud Sungai Cilandak di Semarang Barat Ambles, Warga Khawatir Kebanjiran

Talud Sungai Cilandak di Semarang Barat Ambles, Warga Khawatir Kebanjiran

Muhammad Iqbal Al Fardi - detikJateng
Rabu, 06 Mei 2026 17:14 WIB
Kondisi jalan dan talud yang ambles di Kalibanteng Kulon, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, Rabu (6/5/2026).
Foto: Muhammad Iqbal Al Fardi/detikJateng
Semarang -

Talud Sungai Cilandak sepanjang 30 meter di Jalan Jembawan 1, RT6/RW1 Kalibanteng Kulon, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, ambles hingga sedalam 2 meter. Kondisi tersebut pun membuat warga was-was akan potensi air masuk kampung.

Pantauan detikJateng di lokasi pada Rabu (6/5/2026), tampak talud yang terhubung langsung dengan jalan itu ambles sepanjang sekitar 70 kaki atau sekitar 21 meter. Sementara itu, sekitar 6 rumah warga berada tepat di samping jalan tersebut.

Tampak jalan ambles selebar hingga dua meter dengan kedalaman dua meter. Terpasang pula garis pembatas di sepanjang talud ambrol tersebut. Akibatnya, jalan tersebut tidak dimungkinkan untuk dilintasi motor sekalipun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Warga sekitar, Suprihatin (61), menerangkan talud tersebut ambrol sekitar dua hari yang lalu. Supri menyebut jalan sudah retak sejak beberapa waktu lalu.

ADVERTISEMENT

"Parahnya dua hari, yang retak sudah lama," kata Supri kepada detikJateng di lokasi sore ini.

Supri menerangkan jalan dan talud ambrol berkala selama dua hari terakhir. Saat awal mulai ambrol, dia mendengar suara retakan jalan sekitar siang hari.

"Kretek-kretek pondasinya rontok, terus ada suara retak. Sekitar jam 10-13 siang dua hari yang lalu," sebutnya.

Kondisi tersebut diperparah dengan adanya hujan kemarin malam. Jalan dan talud semakin ambles ke arah selatan.

"Semalam tambah hujan lagi, tambah bles lagi," ucapnya.

Dia menduga jalan dan talud ambles lantaran kondisi sungai yang makin dalam sehingga menggerus bagian bawah talud.

"Itu mungkin soalnya dulu airnya dangkal, sekarang tinggi. Mungkin menggerus di bawah fondasi tanggul," ungkapnya.

Dia pun khawatir akan keadaan tersebut. Kekhawatiran itu semakin menjadi jika tiba-tiba hujan deras dan air dari sungai meluap hingga perkampungan.

"Jelas mengkhawatirkan, kalau banjir, terutama kalau sungainya banjir. Menurut saya, dekat sini khawatir airnya naik sampai rumah," ungkap Supri yang rumahnya berjarak hanya sekitar 10 meter dari titik retakan talud.

"Tadi malam hujan warga was-was, langsung menyelamatkan barang-barang, takut banjir," lanjutnya.

Dia berharap pemerintah bisa mengambil tindakan secepatnya untuk memperbaiki talud tersebut.

"Harapannya segera ditangani, apalagi sekarang alat-alat canggih, pasti cepat. Semua bisa kena dampaknya (talud ambles)," tuturnya.

Warga lainnya, Supat (70), menyebut talud tersebut dibuat sebelum tahun 1980-an. Dulunya Sungai Cilandak merupakan irigasi kecil.

"Dulu bukan sungai, dulu hanya air untuk sawah, paling lebar 1,5 meter. Karena sungai yang aslinya sebelah selatan. Itu (kondisi Sungai Cilandak) sebelum tahun 80an," jelas Supat.

Supat pun mengatakan terdengar suara retakan saat jalan dan talud ambles dua hari lalu. Amblesan tersebut memanjang.

"Tahu-tahu sudah begitu, suara bunyi retak-retak. Ini makin lama (retaknya) sampai sini," ungkapnya.

Supat juga merasakan was-was dengan kondisi talud dan jalan yang ambles itu. Bahkan, dia mengatakan, warga merasa was-was setiap malam.

"Setiap malam was-was masyarakat sini. Kemarin malam semua warga mengamankan barang-barang karena hujan, takut kena banjir," terangnya.

Dia pun berharap agar pemerintah bergerak cepat mengatasi permasalahan tersebut.

"Ini harapan saya, pemerintah harus segera menangani! Jangan sampai rakyat gelisah karena sungai ambrol!" tegasnya.

Sementara itu, Sekretaris RT6/RW1 Kalibanteng Kulon, Kiswanto, mengatakan amblesan tersebut merupakan yang terparah. Sebab sebelumnya hanya berupa retakan.

Dia mengatakan pihak kelurahan hingga kecamatan telah survei ke lokasi beberapa waktu lalu. Dia menyebut retakan masih berlanjut hingga kini.

Meski telah disurvei, dia mengatakan belum ada tindak lanjut dari pemerintah.

"Lebih dari seminggu yang lalu survei pak lurah dan pak camat. Ini masih gerak terus merambat ke selatan, semua bisa terdampak. Belum ada tindak lanjut," kata Kiswanto.

"30 meter ada itu (panjang talud dan jalan yang ambles. Itu mungkin masih bisa (ambles) sampai ke selatan," lanjutnya.

Dia menyebut terdapat lebih dari 900 jiwa di RT6/RW1. Dia menyebut terdapat enam unit rumah yang sangat dekat dengan talud dan jalan ambles itu.

"Kalau warga sini pas pemilu itu lebih dari 900 warga. 6 rumah yang berdekatan dengan jalan ambles," sebutnya.

Dia pun turut khawatir dengan amblesnya talud dan jalan itu. Sebab, ada potensi air sungai masuk ke perkampungan.

"Yang jelas khawatir, begitu bluk (ambles) kan air pasti masuk sini," jelasnya.




(par/apu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads