DPRD Blora Bakal Bentuk Tim Investigasi Usut Motif Guru SMP Chat Mesum Siswi

DPRD Blora Bakal Bentuk Tim Investigasi Usut Motif Guru SMP Chat Mesum Siswi

Achmad Niam Jamil - detikJateng
Kamis, 09 Apr 2026 17:32 WIB
3d rendering of Chat Speech Bubble on Smart Phone Screen.
Ilustrasi chat. Foto: Getty Images/akinbostanci
Blora -

Guru SMP di Randublatung, Blora, berinisial S viral usai mengirim chat tidak sopan ke siswinya. Merespons hal itu, DPRD Blora akan membentuk tim investigasi.

"Sehingga dari ini teman-teman dari OPD terkait sedang melakukan rapat lanjutan nanti akan dibentuk tim investigasi," kata Anggota DPRD Komisi D, Achlif Nugroho Widi Utomo saat ditemui di depan ruang DPRD Komisi D, Kamis (9/4/2026).

Adapun tim investigasi tersebut terdiri dari Dinas Pendidikan, Dinas Sosial P3A, BKPSDM Blora dan Inspektorat. Achlif berharap kasus ini dapat diselesaikan dengan cepat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi biar nanti juga clear. Selain itu masalah ini tidak akan menguap begitu saja, tapi harus ada penyelesaian dan solusi dari tim investigasi bersama lintas OPD. Dan nanti hasilnya dari investigasi itu kami minta dilaporkan kembali di Komisi D," jelas dia.

ADVERTISEMENT

Politisi PPP ini menyebut pihak sekolah telah mempertemukan antara siswi, orang tua siswi dengan guru yang bersangkutan.

"Termasuk sebenarnya kemarin Dinas Pendidikan sudah datang ke sekolah juga. Hanya saja belum sampai investigasi yang mendalam," jelasnya.

Selain melakukan investigasi, Achlif juga melibatkan psikolog untuk mendampingi dan memberikan perlindungan mental pada siswa.

"Termasuk kami tadi menyampaikan dari Komisi D, sebisa mungkin juga melibatkan dari psikolog atau psikiater yang ada. Sehingga bisa mendampingi siswanya," ucap dia.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Blora Sunaryo saat ditemui di DPRD Blora menyebut akan mengusut tuntas kasus guru yang mengirimkan pesan mesum kepada siswi. Tim investigasi dibentuk untuk mengetahui motif di balik tindakan tersebut.

"Investigasi menyeluruh. Investigasi menyeluruh. Dan ini kami libatkan Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, kemudian, BKPSDM, Inspektorat. Kemudian ada psikolog nanti yang kami ajak. Untuk ketemu anak-anak yang perempuan itu," jelas dia.

Dia mengatakan tim investigasi akan mengulik kasus ini dengan memintai keterangan dari pihak murid, orang tua sampai guru yang bersangkutan.

"Jadi harapan kami persoalannya bisa clear jadi pembelajaran bersama. Karena saya melihatnya ini kan sebetulnya kalau dari niatan guru kan tidak ada 'mensreanya' kan. Di niat jeleknya kan tidak ada. Nah, kalau chat itu kalau kita membaca tekstual nggak lumrah," bebernya.

Diberitakan sebelumnya, DPRD Blora memanggil pihak sekolah untuk dimintai keterangan terkait kebenaran chat mesum dari seorang guru kepada siswi.

Kasus ini viral di media sosial. Terlihat dalam sebuah video berisi tangkapan layar percakapan via WhatsApp itu diunggah akun Instagram @tentangblora.id. Dalam tangkapan layar itu terlihat, guru lelaki berinisial P itu menghubungi murid perempuannya sejak November 2025.

Diduga pelaku beberapa kali mengajak ketemuan siswinya, namun siswi itu tidak boleh mengajak teman lain. Dalam pesan singkat itu, guru tersebut juga menuliskan kata 'sayang' dan kata 'Muahhhh'. Guru itu juga meminta alamat akun media sosial siswinya.

Di Ruang Rapat DPRD Blora Komisi D pihak sekolah dipanggil dalam rangka klarifikasi. Pihak sekolah yang diundang, yaitu kepala sekolah dan guru bimbingan konseling (BK). Selain itu DPRD juga mengundang Dinas Pendidikan, Dinas Sosial P3A, BKPSDM Blora dan dari Inspektorat.

"Komisi D berinisiatif bagaimana menyikapi masalah ini agar kemudian yang pertama ada satu kepastian hukum, karena kita bicara di sini ada lingkup pendidikan maka konteksnya tadi klarifikasi seluruh unsur," ucap Achlif saat ditemui di depan ruang DPRD Komisi D, Kamis (9/4).

Dia mengatakan chat digital via WhatsApp tersebut dilakukan oleh guru ke siswi sejak November 2025. Klarifikasi yang dilakukan tersebut diharapkan mampu menyelesaikan permasalahan secara tuntas.

"Ini yang ingin saya secara pribadi juga menanyakan konstruksi itu, yang sementara kita ketahui bahwa itu kemarin konteksnya mulai di bulan November 2025," ucap Achlif.

Dari hasil informasi yang dia dapatkan mulanya guru SMP tersebut curiga dengan kepribadian muridnya. Lantaran siswi mengunggah postingan di akun media sosial dengan penampilan dewasa. Dari postingan tersebut kemudian guru tersebut melakukan pendekatan dengan siswi tersebut, karena khawatir siswinya melakukan sesuatu yang tidak diinginkan.

"Ada kekhawatiran saat melihat media sosial siswanya itu. Dengan meng-upload konten di TikTok dengan baju seperti itu nanti ada kekhawatiran saat dilihat orang lain nanti ada sesuatu," jelas Achlif

Melihat unggahan itu, guru tersebut kemudian melakukan pendekatan ke siswinya. Selain itu, guru P sempat mengetahui muridnya melamun dan ingin mengetahui permasalahannya. P memanggil muridnya ke ruang OSIS.

"Menurut versi dari sekolah, ingin mengetahui masalahnya apa. Kemudian dibawalah di ruang OSIS, untuk ditanyakan permasalahan-permasalahan yang dialami siswa tersebut," jelas dia.

Hanya saja, saat guru P memanggil siswi tidak melibatkan guru lain. Langkah P tersebut menjadi perhatian pihak DPRD.

"Prosedur itu kurang tepat atau tidak. Nah ini tadi kita ingin permasalahan ini harus ada conclusion, harus ada solusi yang menyeluruh," jelasnya.




(par/apl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads