Tahun 2017 menjadi masa yang kelam bagi Didik Suwanto (47). Penghasilannya dari bekerja sebagai kontraktor proyek di Papua tidak mendapatkan bayaran. Ia pulang dengan tangan hampa. Padahal ia masih memiliki tanggungan pendidikan anaknya.

"Tahun 2017 awal Januari itu saya pulang dari Papua. saya kerja proyek di sana dengan kondisi pulang itu tidak dibayar. Jadi secara ekonomi keluarga itu agak goyang," ujar Didik saat ditemui di Surabaya, Sabtu (23/3/2019).

Saat itu juga dia berusaha untuk mencari pekerjaan baru yang sebidang dengan keahliannya. Tapi tak semudah membalikkan telapak tangan. Sampai-sampai ia menjual tiga motornya. Bukan hanya untuk mencukupi kebutuhan ekonomi, namun juga demi kuliah sang anak.

"Beban saya yang paling berat adalah anak saya sudah terlanjur kuliah di Yogya di UII. Semester 5 waktu itu. Jadi untuk biaya makan, biaya kos, itu tidak bisa ditunda. Jadi akhirnya sepeda motor saya jual satu-satu," ungkapnya.

Bercerita tentang perjuangannya menguliahkan anak, mata Didik mulai memerah dan berlinang air mata. Ia merasa menyesal karena saat itu tak bisa memberikan kebutuhan yang cukup bagi anaknya.


"Saya merasa bersalah dan berdosa pada anak saya. Karena saya selaku ayahnya itu seperti tidak bisa memenuhi hak dasar itu pendidikan," ucap Didik.

"Padahal dulu itu waktu masuk (kuliah) dengan semangat tinggi saya katakan kamu harus sekolah, kamu harus sekolah!" sambung dia.

Di masa-masa sulit itu, Didik mengatakan hanya memberikan uang saku kepada anaknya yang kuliah di Yogyakarta sebesar Rp 150 ribu per minggu. Ia sendiri tak bisa membayangkan bagaimana anaknya bisa mencukupi kebutuhan dengan uang sebesar itu.

"Ketika itu saya menangis kenapa saya nggak mampu memberikan nafkah secara layak kepada anak saya ketika itu. Rp 150 ribu satu minggu itu saya sendiri tidak bisa membayangkan," lanjut dia.

Di masa-masa terpuruknya, dia terus berusaha mencari penghasilan untuk keluarga. Sampai akhirnya dia tertarik menjadi driver GrabCar. Tapi masalahnya adalah ia tak memiliki mobil. Lalu bagaimana bisa?

"Saya nyewa pertama kali. Sampai sekarang pun saya nyewa nggak pernah punya mobil," kata Didik.


Dari situ perekonomian keluarganya mulai membaik. Setelah dua tahun lebih bekerja di Grab ia bisa menuntaskan kuliah anaknya. Bahkan saat ini Didik juga sedang berjuang untuk membawa anaknya ke jenjang S2.

"Anak saya baru lulus dari UII Yogya. Ambil jurusan Mipa Kimia. Alhamdulillah dengan predikat cum laude. Saya bangga sekali dan sekarang dia persiapan S2 di sana juga. Sama juga di bidang kimia," ujarnya dengan bangga.

"Saya sangat optimis sekali bahwa saya akan mampu membiayai anak saya sampai lulus S2 dengan full, total di Grab ini," imbuh dia.

Di Grab, Didik mengaku sudah nyaman bekerja tanpa adanya jam kerja dan tuntutan pekerjaan. Selain karena bisa mencukupi kebutuhan keluarga dan pendidikan anaknya, dia juga sudah bisa mendapatkan pengganti motornya yang dia jual dahulu.

"Kalau di Grab ini pendapatan sebenarnya unlimited. Tergantung dari kita. Bahkan sekarang kalau dulu niatnya coba-coba sambil cari proyek, malah sekarang ditawarin proyek saya nggak mau. Karena begini saya bisa membagi waktu, bisa mem-planning keuangan secara beneran dan alhamdulillah sepeda motor yang dulu terjual itu mulai terbeli lagi satu," pungkasnya.

Sebagai informasi Didik Suwanto adalah salah satu top driver GrabCar di Surabaya yang memiliki penilaian performance dan attitude terbaik di komunitasnya.