Tambrauw di Papua Barat, mulai pamer pariwisata. Pernah jadi pangkalan militer Amerika Serikat waktu Perang Dunia II, Tambrauw punya sisa tank di tengah hutan.

Bicara alam, Indonesia timur seperti Papua memang tak ada duanya. Salah satunya Kabupaten Tambrauw di Papua Barat. Selain lekuk alam yang eksotis, Tambrauw punya wisata sejarah yang tak ada di tempat lain.

Dalam Press Tour 2019 bersama Kementerian Pariwisata, detikcom bersama rombongan media dari Jakarta menjelajahi hutan Tambrauw, pekan lalu. Di tengah hutan Distrik Bikar, Kampung Es Mambo,Tambrauw ada sebuah wisata sejarah.

Bukan berbentuk museum, wisata sejarah ini justru ada di tengah hutan. Inilah tank-tank peninggalan Amerika Serikat yang jadi saksi bisu Perang Dunia II saat itu.

Kok bisa ada tank di Papua Barat?

Saksi Bisu Perang Dunia II di Tengah Hutan PapuaFoto: (Bonauli/detikcom)


"Tambrauw menjadi pangkalan militer Amerika Serikat di wilayah Samudera Pasifik melawan Jepang," ujar Mesak Matulasak Yekwam, memimpin perjalanan menuju tempat tank.

Menurut cerita, Sekutu mendarat di sepanjang pantai utara Papua Barat untuk menemukan jejak Jepang. Untuk mempersiapkan perang, Sekutu membawa tank dan helikopter ke Tambrauw.

"Dulu tank dan helikopter bisa gampang ditemukan di pinggir pantai atau jalan. Sekarang sudah tidak ada karena dipotong-potong dan dijual oleh warga" ungkap Mesak.

Kini hanya ada 3 titik di Hutan Bikar yang tersisa. Untuk sampai di sini, wisatawan bisa berkendara dari Sausapor selama 40 menit.

Posisi tank berada sekitar 50 meter dari jalan pinggir hutan. Ada sebuah pos jaga yang menjadi tanda pintu masuk menuju tank-tank tersebut.

Saksi Bisu Perang Dunia II di Tengah Hutan PapuaFoto: (Bonauli/detikcom)


Hanya treking selama 5 menit, wisatawan sudah sampai di area tank. Ada beberapa warga yang bekerja sama dengan pemda untuk merawat tank-tank ini.

Salah satunya adalah Ishak Yekese. Ishak menjadi generesi kedua yang tahu soal keberadaaan tank-tank Sekutu di dalam hutan.

"Ayah saya itu direkruit Sekutu untuk jadi tentara mereka membatu mengusir Jepang, " kata Ishak.

Semasa kecil, Ishak sudah mendengar cerita soal Perang Dunia II. Ayah Ishak bercerita kepadanya bahwa saat itu Sekutulah yang membantu penduduk Papua untuk melawan Jepang.

"Jepang itu kasar sekali, suka main pukul. Sekutu membantu masyarakat Papua untuk mengusir Jepang dari sini," cerita Ishak.

Di titik pertama, ada 5 tank yang bisa traveler lihat. Walau sudah tidak utuh, tapi tank ini menjadi bukti kekuatan Sekutu.

Empat tank diduga artileri dan satu tank diduga amfibi. Bagian dalam tank sudah tidak ada, tersisa roda dan gigi rantai saja. Ada juga sebuah botol kaca yang diduga milik sekutu waktu berada di dalam tank.

Saksi Bisu Perang Dunia II di Tengah Hutan PapuaFoto: (Bonauli/detikcom)


"Tank-tank ini memang sengaja dirusak oleh Sekutu. Sehingga tak ada yang datang dan menggunakannya lagi," jelas Wakil Bupati Tambrauw.

Bukti lubang tembakan terlihat jelas di sisi-sisi tank. Salah satu tank bahkan memiliki tali tambang yang diduga menjadi alat bantu untuk membawa tank masuk ke hutan.

Di spot ini, tank-tank sudah lumayan bersih dari tumbuhan. Namun pohon-pohon besar yang sudah ada di tengah tank memang sengaja tidak dihilangkan agar tidak merusak tank.

"Nantinya akan dibangun treking ke sini dan museum. Ada menara pandang jadi wisatawan lihat tank dari atas," ungkap Mesak.

BACA JUGA: Keajaiban Bukit Jaring Laba-laba di Tambrauw

Setelah puas di titik pertama, traveler bisa melanjutkan perjalanan ke spot kedua. Tank di tempat ini tidak jauh berbeda dengan spot pertama.

Juga berjarak 50 meter ke dalam hutan, spot kedua memiliki 4 tank yang ditutupi oleh tumbuhan. Ishak bercerita bagaimana dulu warga sekitar berusaha untuk menjual bagian-bagian tank ini.

"Besi tua kan mahal, jadi warga berebut untuk potong ini tank buat dijual," ungkap Ishak.

Titik terakhir tidak sempat dikunjungi karena berada jauh ke dalam hutan. Untuk bisa sampai di spot ketiga, wisatawan bisa membutuhkan waktu seharian.

Menurut warga, trek yang ada di spot ketiga lebih menantang dan sulit. Selain tank, terdapat juga bangkai helikopter milik Sekutu.

Saksi Bisu Perang Dunia II di Tengah Hutan PapuaFoto: (Bonauli/detikcom)


Meskipun masih tahap pengerjaan, namun wisatawan sudah bisa datang dan berkunjung ke sini. Caranya, traveler bisa membeli tiket sebesar Rp 50.000 per orang di Tourist Information Center (TIC). TIC bisa traveler temukan di Bandara Douglas McArthur Werur, Sausapor dan Bandara Domine Eduard Osok, Sorong.

"Masalah akses masuk perlu kehati-hatian, saya keberatan kalau ada alat berat yang masuk nanti merusak. Nanti ada rencana penghubung jalan, warga juga bantu menjaga dan merawat," ujar Abraham Mayor, Kadispar Tambrauw.

Saksi Bisu Perang Dunia II di Tengah Hutan PapuaFoto: (Bonauli/detikcom)